alexametrics
Hari Kartini

Kisah Siti Mashuda, Napi yang Biayai Tiga Anaknya dari Dalam Lapas

21 April 2018, 08:15:16 WIB

JawaPos.com – Siti Mashuda terlihat begitu telaten membuat pola pada selembar kain yang akan diubahnya menjadi sebuah pakaian ketika ditemui JawaPos.com, Jumat (20/4). Jari-jemarinya terlihat licah memainkan sejumlah peralatan jahit. Usai membuat pola, dilanjutnya dengan jahitan jelujur sebelum nantinya di-finishing menggunakan mesin jahit.

Kali ini, perempuan berusia 48 tahun itu akan membuat sebuah baju pesta untuk perempuan. Nantinya baju tersebut akan digunakan oleh salah satu karyawan Lapas Wanita Klas II A Malang.

Ya, perempuan yang akrab disapa Mashuda itu memang tidak seperti penjahit kebanyakan yang membuka tempat usaha di rumah ataupun di suatu tempat khusus. Dia biasa melakukan pekerjaanya itu di dalam lapas. Pasalnya, Mashuda sendiri merupakan salah satu warga binaan di lapas perempuan tersebut.

Lapas Wanita
Siti Mashuda bersama dengan sejumlah rekannya menghabiskan waktunya dengan menjahit meski berada di dalam Lapas (Fisca Tanjung/JawaPos.com)

Selama 2,5 tahun belakangan, Mashuda memang menjalani masa hukumannya sembari bekerja sebagai penjahit di dalam lapas. Uang hasil menjahit itu pun kerap dia kirimkan ke keluarganya yang berada di Surabaya. Terutama untuk ketiga anaknya yang berada di rumah.

Mashuda sendiri merupakan seorang single parent. Suaminya telah meninggal dunia sejak 8 tahun yang lalu. Tak ayal, Mashuda harus menghidupi ketiga anaknya, meskipun berada di dalam jeruji besi.

Dengan tekad kuat, dirinya masih terus berusaha memikirkan cara agar anak-anaknya bisa menjalani kehidupan sehari-hari dan setidaknya tidak kekurangan biaya. Oleh karena itu, dirinya memanfaatkan keterampilan menjahitnya untuk bisa mengirimkan sejumlah uang ke rumah.

“Setiap bulan tidak tentu kirim (uang)nya. Tergantung banyaknya jahitan yang saya kerjakan,” ujarnya ketika ditemui JawaPos.com, Jumat (20/4). Dia mengatakan, uang yang dikirimkan untuk anak-anaknya tersebut mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu. Tergantung uang premi yang diterima dari hasilnya menjahit baju.

“Kalau lagi rame, juga pernah mendapat Rp 500 ribu sebulan,” kata dia. Uang tersebut, lanjut Mashuda, biasa dikirimkan melalui adik kandungnya yang biasa merawat anaknya.

“Saya kirim ke rekening adik. Ya untuk keperluan sekolah anak saya yang terakhir,” jelasnya. Untuk diketahui dari tiga anaknya, satu di antaranya masih duduk di bangku sekolah kelas 1 SMP. Sedangkan anak lelakinya yang nomor dua, harus rela putus sekolah. Sementara anak pertamanya sudah menikah dan bekerja.

Perempuan kelahiran Surabaya tersebut menceritakan, kehidupannya saat ini berawal saat dirinya terjerumus dalam dunia narkotika. Hal itu terjadi tepatnya setelah suaminya meninggal dunia. Mashuda pun harus menghidupi ketiga anaknya.

Karena hasil dari pekerjaan menjahitnya kurang bisa menutupi kebutuhan sehari-hari, dia kemudian merangkap menjadi rentenir. Akibat dari pekerjaan barunya tersebut, dia pun berteman dengan orang-orang baru. Dari pertemanan itu pulalah, dia akhirnya mengenal obat-obatan terlarang. 

“Awalnya karena teman, nawarin untuk memakai (narkoba),” jelasnya. Dirinya pertama kali mengenal obat terlarang itu sekitar tahun 2015, yakni narkoba jenis sabu. Selanjutnya, setelah memakai, dia kemudian berkembang menjadi pengedar sabu.

Alasannya, karena terimpit masalah ekonomi. “Ya saya mikir anak-anak saya untuk biaya sekolah. Terdesak kebutuhan ekonomi,” papar dia. Jadi, selain menjadi pemakai, Mashuda juga menjadi pengedar narkoba.

Namun, Tuhan sepertinya mempunyai rencana lain. Sekitar tiga tahun yang lalu, pihak kepolisian menggrebeknya saat dia memakai barang haram itu di rumah. Mashuda pun dijebloskan di lapas Medaeng, Surabaya. Setelah 7 bulan mendekam di lapas tersebut, dia kemudian dipindahkan ke lapas Wanita Klas II A Malang.

Hal itu pun seketika mengubah hidupnya. Dia berpikir bagaimana kehidupan anak-anaknya di rumah, apalagi tanpa kehadiran orang tua. Oleh karena itu, ketika masuk ke lapas wanita Klas II Malang, dirinya kemudian memilih keterampilan menjahit yang setidaknya bisa menghasilkan uang.

Mashuda sendiri menjadi satu-satunya warga binaan yang memiliki keterampilan dalam menjahit baju, mulai dari bahan hingga menjadi baju jadi. Bahkan, dirinya juga menjadi pengajar bagi warga binaan yang lain. Tidak sedikit, teman-temannya juga ikut mengumpulkan uang premi dan ditabung untuk kehidupan pribadi mereka.

Saat ini, Mashuda masih menjalani sisa waktu tahanan 3 tahun lagi. Jika beruntung, dirinya akan mendapat remisi dan bisa keluar dari tahanan pada pertengahan 2019 mendatang. Dia pun mempunyai rencana setelah keluar dari tahanan, dirinya akan kembali menjadi penjahit di rumahnya dan bekerja secara halal untuk kehidupan anaknya. “Saya ingin pendidikan anak saya bisa selesai dan tidak putus sekolah,” tandasnya.

Editor : Fersita Felicia Facette

Reporter : (fis/ce1/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Kisah Siti Mashuda, Napi yang Biayai Tiga Anaknya dari Dalam Lapas