alexametrics
Arti Kartini Bagi Tokoh Perempuan Cirebon

Dulu Berjuang Tidak Ditindas, Sekarang Justru Merendahkan Diri

21 April 2018, 19:16:45 WIB

JawaPos.com – Perjuangan yang ditulis dengan tinta emas oleh Raden Ajeng Kartini, membuat Saomiyanah Emon Legora, tokoh Perempuan Kota Cirebon merasa pilu sekaligus haru. Perempuan sepuh berusia 93 tahun itu menyampaikan keluh kesahnya atas perempuan masa kini yang mengabaikan nilai luhur budaya bangsa.

Di mata perempuan yang hidup di tiga zaman (zaman penjajahan Belanda, Jepang dan era kemerdekaan), perempuan Indonesia sekarang ini sangat kontras dengan apa yang diperjuangkannya dahulu.

Ia mengaku malu dengan kesadaran perempuan saat ini yang hanya mau peduli dengan dirinya sendiri. Bahkan, melihat tingkah anak muda yang berpakaian tidak sopan sering ditemui di jalan.

“Saya malu, kalau melihat ada anak gadis yang ke luar rumah pakai pakaian nggak sopan. Dulu waktu zaman penjajahan, malah kita membela harga diri perempuan,” ujarnya saat ditemui di peringatan Hari Kartini di gedung Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Cirebon, Sabtu (21/4).

Perempuan yang akrab disapa Emon itu mengungkapkan, dahulu di zaman penjajahan perempuan Indonesia seakan tidak mendapat ruang untuk mendapatkan hak-haknya, seperti hak untuk mendapat pendidikan, hak bersuara, dan serta hak yang sama diberikan seperti kaum lak-laki.

Bahkan tak sedikit perempuan yang hidup di zaman penjajahan dipaksa menjadi budak seks tentara Jepang yang bengis.

“Waktu itu, Perempuan yang ada di desa-desa banyak yang dipaksa melayani tentara,” ungkapnya.

Emon menyindir, jika para perempuan di zaman kemerdekaan bagaimana berjuang agar tidak dihina, ditindas dan direndahkan. Akan tetapi, dirinya miris ketika banyak perempuan sekarang justru merendahkan dirinya sendiri.

“Kami sebagai penerus dari kartini, bersungguh-sungguh sekali menghormati jasanya, karena sudah mendobrak ketidakadilan masa itu,” katanya.

Namun demikian, dirinya bersukur bisa melihat kaum perempuan saat ini bisa merasakan hak yang sama seperti yang diberikan oleh laki-laki. Dirinya berharap, perjuangan dari perjuangan Raden Ajeng Kartini jangan pernah ditinggalkan oleh perempuan generasi penerus bangsa.

“Saya bangga, dengan Kartini-Kartini muda yang mau berjuang dan mau berjuang dan berbakti pada nusa dan bangsa,” katanya.

Membina Tiga Panti Asuhan

Di usia senjanya, Emon masih aktif di bidang sosial kemasyarakatan. Pengabdian, dedikasi, dan kecintaan terhadap negeri ini tidak pernah luntur. Saat ini, ia menghabiskan waktunya untuk mengelola tiga panti sekaligus.

Panti yang dia dirikan yaitu, panti jompo Yayasan Pancaran Kasih, panti asuhan yatim-piatu Yayasan Budi Asih, dan panti tunagrahita (SLB) Yayasan Beringin Bakti.

Tujuan mengelola panti jompo, panti yatim piatu dan SLB tidak lain agar bisa membagikan waktunya untuk peduli dengan orang-orang berkebutuhan khusus dan kesepian. Atas dedikasinya, Saomiyanah dianugerahi sebagai tokoh pejuang nasional perempuan dari Pemerintah Kota Cirebon.

“Saya hanya ingin perempuan di Kota Cirebon dan di Indonesia bisa meneladani para perjuangan pendiri bangsa yang sudah rela berkorban dengan nyawa. Sekarang teruskan perjuangan dengan menjaga harga diri bangsa dan mengisi kemerdekaan,” tutupnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (wiw/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Dulu Berjuang Tidak Ditindas, Sekarang Justru Merendahkan Diri