alexametrics
Potret Bidan Dina di Pulau Panjang

Dari Sekedar Sosialisasi Pola Hidup Sehat hingga Urusan Hidup dan Mati

21 April 2018, 12:15:23 WIB

JawaPos.com – Sejak tiga tahun terakhir, Raja Putri Rahmadina,bermukim di kampung Pulau Panjang, Kelurahan Setokok, Kecamatan Bulang, Batam, Kepulauan Riau. Posisisnya di Pulau Panjang bukanlah sembarangan, ia merupakan bidan yang memegang peranan penting terhadap upaya mengedukasi masyarakat dalam penerapan pola hidup sehat.

Meskipun tidak segera bisa mengubah kebiasaan, kehadiran bidan Dina, begitu ia biasa disapa, telah membawa banyak perubahan untuk masyarakat. Memberi arah positif untuk masyarakat, berkembang menjadi lebih peduli terhadap faktor-faktor yang menunjang hadirnya kualitas kehidupan yang lebih baik.

Pada awalnya, masyarakat setempat hanya mengkonsumsi ikan dengan bumbu yang menyebabkan gangguan kesehatan. Artinya mereka sama sekali tidak peduli dengan pola hidup sehat. Dengan berjalannya waktu, kini masyarakat perlahan mulai sadar dan mengurangi kebiasaan mengonsumsi ikan dengan bumbu berlemak. Demikian juga dengan asupan sayur yang terus mendapat perhatian Dina agar keseimbangan masyarakat tetap terjaga.

Potret Bidan Dina di Pulau Panjang
Bersama Leha, rekan Dina ketika membantu persalinan. (Bobi Bani/JawaPos.com)

Kebiasaan masyarakat yang tidak atau enggan menggunakan alas kaki ketika beraktivitas juga mulai disosialisasikan. Mengingat kebiasaan buruk tersebut menjadi penyebab banyaknya gangguan kesehatan di wilayah pesisir.

Cara Dina yang bersahabat ketika bersosialisasi membuatnya diterima hangat di masyatakat. Ia yang tidak menggurui juga justru menjadi poin penting menjaga kedekatannya, bahkan sampai-sampai mampu berkolaborasi dengan dukun kampung dalam proses melahirkan.

“Kami sangat senang sekali ibu Dina di sini, dia bantu kita untuk melahirkan, dia juga belajar cara kami (cara tradisional) membantu melahirkan. Dia tidak bilang salah, tapi malah mau tahu cara kami,” kata Leha, 70, dukun beranak yang sering bekerja bersama Dina ketika membantu persalinan di kampung Pulau Panjang.

Leha melanjutkan, kepedulian Dina terhadap kearifan lokal juga ia tunjukkan dengan tetap menghargai cara-cara tradisional masyarakat. Termasuk ketika mengatasi masalah kesehatan. Padahal Dina sendiri tentu memiliki kemampuan untuk mengambil langkah-langkah medis ketika mengalami gangguan kesehatan. Meskipun demikian, Dina justru meminta diobati dengan cara-cara tradisional.

Ia biasanya meminta dukun kampung untuk memberikannya pengobatan dengan jampi-jampi yang diyakini mereka. Cara yang telah ada sejak turun temurun, jauh sebelum tenaga medis hadir di tengah-tengah masyarakat.

“Kalau sudah merasa pusing atau tak enak badan, dia langsung meminta diobati oleh kami (dukun kampung), biasanya langsung enak, tapi juga kadang-kadang harus minum obat,” kata Leha lagi.

Ketika disinggung terkait pengalamannya menangani kelahiran bersama dukun beranak, Dina mengaku sangat terbantu. Hadirnya orang-orang dengan pengalaman yang jauh melebihinya menimbulkan rasa tenang ketika ia membantu proses kelahiran.

Meskipun tidak semua hal bisa diterima akal sehatnya, namun apa yang diyakini masyatakat tetap ia hormati sehingga tidak membuat masyarakat merasa disingkirkan oleh pengetahuan mutakhir yang dimilikinya. “Ketika akan menguburkan ari-ari, kita tidak boleh menegur dukun beranak, karena bisa mengganggu pertumbuhan si anak, jadi dia jalan tanpa bersuara sampai selesai menguburkan,” jelas Dina.

Kolaborasi yang dijalaninya dengan dukun beranak ini diakui Dina menyesuaikan dengan kapasitas mereka masing-masing. Ia yang memahami proses persalinan dari segi medis tidak akan mencampuri urusan Leha ketika membantu persalinan dengan cara tradisional. Hal itu sama sekali tidak mengganggu proses persalinan, justru mempermudah kerja satu sama lainnya.

Memaknai Sosok Kartini

Dina menjelaskan, berprofesi sebagai bidan memang sudah menjadi keinginannya sejak sekolah. Hal itu ia buktikan dengan menjadi relawan kesehatan di tempat kelahirannya di Tanjung Batu, Kabupaten Karimun, Kepri, seusai ia menyelesaikan pendidikan pada 2011 lalu.

Selama setahun menjadi relawan, akhirnya peluang untuknya mendapat bayaran dari pekerjaan pilihannya datang dengan terbukanya peluang menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepri. “Saya daftar dan Alhamdulilah lulus. Dan dari 2012 sampai sekarang masih menjadi pegawai di Dinkes Pemprov,” jelasnya.

Selama bertugas di kampung Pulau Panjang sendiri, Dina mengaku harus terpisah dengan anak dan suaminya yang saat ini tinggal di Tanjung Batu. Dalam sebulan Dina biasanya hanya sekali menemui keluarga di Tanjung Batu.

Meskipun demikian, Dina mengaku tidak berniat meninggalkan Pulau Panjang yang menurutnya memiliki arti lain. Kampung kecil yang membutuhkan sentuhan medis tanpa harus merusak tatanan sosial budaya yang ada. Meskipun ada juga momen-momen yang tidak mengenakkan selama tiga tahun Dina di sini. “Kalau disuruh memilih saya tidak ingin pindah ke tempat lain. Sudah enak di sini, masyarakatnya sudah seperti keluarga,” kata Dina lagi.

Memaknai sosok kartini, Dina menjelaskan bahwa kartini sangat identik dengan perubahan yang juga harus dirasakan masyarakat sekitar. Ketika seseorang bisa membawa perubahan positif, mengarahkan masyarakat untuk bergerak maju, maka ia telah menjaga dan menjalankan semangat Kartini.

Sebagai seorang bidan, semangat Kartini ia tularkan dengan mengajak masyarakat terus berjuang untuk memastikan keselamatan di setiap proses persalinan. Ikut memikirkan bagaimana tumbuh kembang sang anak sesuai dengan harapan dan standard kesehatan.

“Ini bukan hanya sekedar membantu persalinan, ada tanggungjawab lain agar si anak dapat berkembang dengan baik, itu termasuk juga tugas kami,” kata Dina.

Sampai saat ini Dina mengaku apa yang ia lakukan masih sangat jauh jika disandingkan dengan perjuangan Kartini. Hanya saja ia tidak ingin menjadikan hal tersebut sebagai beban sehingga mengganggu tanggungjawab yang telah ia emban. Ia mengaku senang dengan apa yang ia lakukan saat ini, karena sedikit banyak bisa membantu masyarakat.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : (bbi/JPC)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Dari Sekedar Sosialisasi Pola Hidup Sehat hingga Urusan Hidup dan Mati