alexametrics

Cegah Penularan Korona, Anggota Dewan Blora Tolak Observasi Kesehatan

21 Maret 2020, 11:48:52 WIB

JawaPos.com – Anggota DPRD Blora marah-marah saat hendak diobservasi kesehatannya di Terminal Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Kamis malam (19/3). Pemeriksaan sebagai langkah pencegahan penularan korona itu pun batal dilakukan. Dengan membentak, anggota dari Partai Hanura H M. Warsit mempertanyakan surat tugas Kepala Bidang Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Permukiman (P3PLP) Edi Sucipto.

Rekan sesama anggota dewan yang berada dalam satu rombongan perjalanan balik dari kunker di Lombok dengan menggunakan bus itu turut mendukungnya. Mereka bertanya dengan nada tinggi. ”Kamu pejabat enggak? SOP-nya mana? Surat tugasnya mana? Ini DPR, bukan anak gembala. Pakai aturan. Pakai undang-undang,” kata Warsit. ”Perintah dari mana, Pak,” sahut anggota dewan lain.

Karena petugas dinas kesehatan kabupaten (DKK) tidak mengantongi surat tugas, Warsit meminta pemeriksaan dilakukan di RSUD Cepu. ”Kita DPR. Kunjungan. Kita perintah undang-undang. Sudah ada bamus. Bukan teroris, bukan nganu, yang baik. Enggak ada surat tugasnya, ayo ke rumah sakit. Kita dianggap masyarakat dari luar kota harus diperiksa. Bupati dari Jogja diperiksa tidak? Kita setingkat bupati,” ucap ketua DPRD Blora periode 2005–2010 tersebut kepada Edi.

Ditunggu lama di RSUD Cepu, rombongan itu tidak kunjung datang. Akhirnya pemeriksaan yang disertai penyemprotan disinfektan tersebut batal. Edi mengungkapkan, prosedur yang dilakukan petugas DKK sudah sesuai SOP (standard operating procedure). Namun, dia memang tidak membawa surat tugas. Untuk tempat, awalnya pemeriksaan dilakukan di RSUD Cepu.

Pemeriksaan dipindahkan ke Terminal Padangan sebetulnya atas permintaan anggota dewan sendiri. Dengan menjaga pintu masuk Blora, harapannya setiap orang yang datang bisa dipastikan dalam keadaan sehat.

”Tadi ada 15 orang yang mau diperiksa. Rombongan yang naik mobil,” katanya.

Ditemui kemarin, Warsit mengatakan bahwa tindakannya itu merupakan ekspresi keterkejutan. Dimulai dari keheranan karena bus masuk Terminal Padangan. Setelah turun, dia terkejut karena banyak petugas. ”Ada satpol PP, pasukan antihuru-hara, camat, wartawan, dan petugas. Saya tanya, surat tugasnya ada atau tidak. Iya kalau petugas, kalau tidak,” ucap Warsit dengan nada jauh lebih rendah daripada kejadian yang videonya viral itu.

Dia khawatir mereka bukan petugas dinkes asli meski sudah memperkenalkan diri dan menggunakan tanda pengenal.

”Iya kalau petugas, kalau tidak, dan disemprot obat bius. Kita tidur semua, terus terbius dan barang kita dibawa semua bagaimana,” kilahnya.

Warsit menegaskan, sebenarnya pihaknya siap diperiksa, asalkan benar-benar dilakukan petugas. Juga, sebaiknya ada pemberitahuan. Dia juga mengaku tidak tahu bahwa dewanlah yang meminta pemeriksaan dilakukan di terminal. ”Meriksa ya meriksa. Di kantor, di jalan mana, yang sepi. Kan enak. Kalau kita malah tertular yang terpapar HIV gimana,” ucapnya.

Tentang penyebab rombongan bus tidak datang ke RSUD Cepu, Warsit mengatakan bahwa mereka merasa sehat. Juga, sudah diperiksa suhu tubuh di dalam bus. ”Kawan-kawan saya suruh naik. Saya minta dicek di atas bus. Setelah diperiksa di atas, dinyatakan sehat. Ya pulang,” tambahnya.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra

Reporter : sub/c7/ayi

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads