JawaPos Radar

Bulog Terapkan Skema Komersil untuk Menyerap Beras Petani

21/02/2018, 21:33 WIB | Editor: Budi Warsito
Bulog Terapkan Skema Komersil untuk Menyerap Beras Petani
Kepala Bulog Divre Sumsel Bakhtiar (tengah) saat memberikan keterangan pers. (Alwi Alim/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Minimnya serapan beras petani tahun 2017 lalu membuat Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional (Divre) Sumsel dan Babel menerapkan skema komersil dalam pembelian beras petani di wilayahnya.

Kepala Perum Bulog Divre Sumsel Babel Bakhtiar AS mengatakan, hal itu dikarenakan para petani belum mau menjual hasil sawahnya sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP)."Jadi kami menggunakan skema komersil sejak awal tahun ini," kata Bakhtiar AS saat dihubungi JawaPos.com, Rabu (21/2).

Ia menjelaskan, berdasarkan Inpres No 5 tahun 2015, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk beras seharga Rp 7.300 per kilogram. Namun sejak awal tahun hingga kini, Bulog membeli beras dari petani seharga Rp 10 ribu per kilogram.

Skema yang dilakukan Bulog saat ini adalah, melakukan kontrak dengan skema komersil ini untuk beras sebanyak 276 ton. Dimana sejauh ini, realisasi yang sudah masuk ke Bulog yakni sebanyak 150 ton dari target total serapan 80 ribu ton.

Selain itu, pihaknya juga menerapkan skema flexibilitas, dimana Bulog membeli beras petani seharga Rp 8.200 per kilogramnya. "Kami harap target serapan untuk tahun ini dapat tercapai meski menggunakan beberapa skema," terangnya.

Ia mengklaim, meskipun serapan tahun lalu minim. Menurutnya saat ini, stok beras di gudang Bulog masih mampu mencukupi kebutuhan beras di Sumsel Babel sekitar tiga sampai empat bulan kedepan.

Apalagi saat ini sedang masuki masa panen. Jika semua daerah panen, maka akan semakin banyak beras yang diserap dan dapat distok oleh Bulog.

"Untuk saat ini baru dua wilayah di Sumsel yang panen dan berasnya masuk ke Bulog. Kedua wilayah yakni OKU Timur dan Banyuasin," tutupnya

Seperti diketahui, di tahun 2017 lalu serapan beras yang dilakukan Bulog Divre Sumsel Babel tidak mencapai target. Dimana beras yang diserap hanya 36 ribu ton dari target 100 ribu ton sampai 120 ribu ton.

Hal ini disebabkan, murahnya HPP yang diterapkan pemerintah. Sehingga petani pun menjual ke pihak lain bukan kepada Bulog karena harganya yang tinggi jauh dibandingkan HPP. (lim)

(lim/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up