alexametrics

Idap Skizofrenia Paranoid, Kompol Fahrizal Tak Bisa Dituntut Pidana

21 Januari 2019, 19:24:38 WIB

JawaPos.com – Pelaku pembunuhan adik ipar, Kompol Fahrizal dipastikan mengidap gangguan jiwa, tepatnya Skizofrenia Paranoid. Mantan Wakapolres Lombok Tengah tersebut tidak bisa dimintai pertanggungjawaban. 

Hal tersebut terungkap dalam persidangan lanjutan di Pengadilan Negeri Medan, Senin (21/1).  Dalam persidangan yang beragendakan pembacaan nota tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum,  fahrizal memang dinilai bersalah. Namun dia tidak bisa dimintai pertanggungjawaban karena mengalami gangguan jiwa. 

“Intinya terbukti melanggar Pasal 338 KUHP tapi terhadap terdakwa tidak dapat diminta pertanggungjwaban pidana karena pada saat kejadian, kondisi kejiwaan terdakwa terganggu. Jadi sesuai dengan ketentuan Pasal 44 KUHP jika terdakwa mengalami gangguan jiwa dia tidak bisa dimintai pertanggungjawaban pidana,” ujar Julisman, kuasa hukum terdakwa, usai persidangan. 

Julisman mengapreasiasi tuntutan yang dibacakan oleh JPU Randi Tambunan ini. Pasalnya hal ini kata Julisman sesuai dengan fakta persidangan. 

“Faktanya pada saat penembakan, terdakwa sedang mengalami gangguan kejiwaa sesuai keterangan dokter Rumah Sakit Jiwa M Ildrem. Jaksa sepertinya mengajukan tuntutan berdasarkan keterangan ahli kejiwaan itu,” terangnya.

Julisman juga akan tetap melakukan pembelaan kepada Fahrizal. Pembelaan akan disampaikan pada persidangan pekan depan. 

 “Kami akan serahkan putusanya pada majelis hakim,” ungkapnya. 

Fahrizal didakwa melakukan pembunuhan setelah menembak tewas adik iparnya sendiri  Jumingan, 33 pada Rabu (4/4) tahun lalu. Dia menembakkan enam peluru. Usai melakukan pembunuhan, Fahrizal menyerahkan diri ke Polrestabes Medan. 

Pihak penasihat Hukum menyatakan Fahrizal sudah mengalami gangguan jiwa sejak 2014 lalu. Fahrizal juga beberapa kali dibawa berobat ke Klinik Utama Bina Atma di Jalan HOS Cokroaminoto, Medan.

Penasihat Hukum menyatakan Fahrizal tidak dapat dikenakan dakwaan. Karena dia mengidap Skizofrenia Paranoid akut. 

Menurut mereka, Fahrizal menembak adik iparnya dalam keadaan diluar kesadaran. Bahkan, terdakwa datang ke lokasi kejadian awalnya hanya untuk melihat ibunya Sukartini yang baru sembuh dari sakit.

Setelah penembakan terjadi, pihak penyidik Polda Sumut juga melakukan pemeriksaan terhadap Fahrizal di RS Jiwa Prof Dr Muhammad Ildrem. Dokter yang memeriksanya pada 23 April 2018 menyebutkan bahwa Fahrizal mengalami skizofrenia paranoid. 

Editor : Yusuf Asyari

Reporter : prayugo utomo

Idap Skizofrenia Paranoid, Kompol Fahrizal Tak Bisa Dituntut Pidana