alexametrics

Suhu Panas di Jogjakarta Tak Ada Hubungan dengan Aktivitas Merapi

20 November 2020, 13:27:34 WIB

JawaPos.com–Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta memperkirakan suhu udara panas yang terasa di Daerah Istimewa Jogjakarta akan bertahan hingga akhir November. Saat ini, Jogjakarta secara keseluruhan sudah masuk awal musim hujan.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reny Kraningtyas seperti dilansir dari Antara di Jogjakarta menjelaskan, suhu udara yang panas itu secara meteorologis masih dalam kondisi normal. Sebab, masih di kisaran 30–35 derajat Celcius. Suhu dikatakan ekstrem, apabila lebih besar dari 35 derajat Celcius.

”Suhu udara yang terasa panas ini tidak memiliki keterkaitan dengan aktivitas Gunung Merapi. Apalagi, suhu udara panas ini tidak hanya dirasakan di Jogjakarta, namun juga di DKI Jakarta, Jawa Tengah, NTT, serta sejumlah wilayah lain,” ujar Reny Kraningtyas pada Jumat (20/11).

Menurut dia, suhu udara panas itu dipicu munculnya angin timuran yang bertiup menuju wilayah Indonesia pada awal November. Angin timuran tersebut bersifat kering sehingga tidak banyak membawa uap air yang mengakibatkan pembentukan awan-awan hujan menjadi menurun.

”Dengan pertumbuhan awan hujan yang sedikit ini radiasi matahari yang diterima bumi cukup optimal untuk memanaskan suhu udara di permukaan bumi. Apalagi saat ini posisi matahari sedang berada di selatan khatulistiwa,” kata Reny Kraningtyas.

Dia mengatakan, suhu udara di Jogjakarta pada pukul 09.00 WIB sampai 10.00 biasanya mencapai 26 atau 27 derajat Celcius. Akan tetapi, dengan kondisi awan yang sedikit di atas wilayah Jogjakarta dan posisi matahari berada di selatan, suhu udara pada jam yang sama bisa mencapai 29 hingga 30 derajat Celcius.

”Jadi kenaikan suhu melonjak cepat, walaupun setelah jam 10.00 pagi sampai 14.00 kenaikan suhu udara merambat pelan-pelan karena suhu udara maksimum di Jogjakarta tercatat bervariasi antara 30–35 derajat Celcius,” terang Reny Kraningtyas.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Antara



Close Ads