alexametrics

Puluhan Bus di Bantul Tak Layak Jalan, Dishub: Pemilik Malas Remajakan

20 November 2019, 17:00:27 WIB

JawaPos.com – Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) menyatakan mayoritas angkutan umum di wilayah ini tidak layak beroperasi karena kondisinya tidak memenuhi persyaratan untuk diberikan izin operasional.

“Kami di Bantul ada sekitar 95an angkutan, akan tetapi yang memenuhi syarat dan diberi izin itu cuma delapan angkutan. Jadi, kebanyakan sudah usia tua, tidak layak. Sehingga kami tidak berani mengeluarkan izin,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bantul Aris Suhariyanta di Bantul, Rabu (20/11).

Menurut dia, mayoritas angkutan umum di Bantul tidak layak beroperasi karena usia armada sudah tergolong tua. Hal itu dikarenakan pengusaha maupun pemilik angkutan enggan melakukan peremajaan atau memperbaharui baik komponen maupun busnya.

“Angkutan umum itu kami rutin setiap tiga bulan sekali kami melakukan pembinaan baik itu kru angkutan maupun pengusaha bus-nya. Namun demikian kalau kami melihat semangat pengusaha yang punya bus itu malas kalau mau meremajakan busnya,” katanya.

Jadi, sepertinya, lanjutnya mereka hanya mau menunggu bus itu sampai tidak layak pakai. “Kalau masih layak ya akan jalan terus, kalau tidak ya sudah maunya berhenti,” katanya dilansir dari Antara.

Aris mengatakan, meski mayoritas angkutan umum tidak layak pakai, namun pengusaha tetap mengoperasikan armada untuk mengangkut penumpang, namun pihaknya tetap tidak dapat melakukan tindakan, kecuali angkutan tersebut kedapatan atau terjaring razia atau operasi petugas gabungan.

“Kayaknya iya (beroperasi), jadi kita kalau pas ada operasi baru kita tindak, kalau nggak kita tidak bisa berbuat banyak, sehingga itu (penindakan) ranahnya kita libatkan kepolisian. Biasanya di Bantul ada operasi sendiri, karena kita juga diminta membantu provinsi,” katanya.

Menurut dia, pemilik armada enggan meremajakan angkutan bus karena kemungkinan sekarang ini bisnis jasa transportasi tersebut sudah lesu yang diakibatkan karena minim penumpang. Bahkan di daerah tertentu sudah tidak ada penumpang, sehingga pendapatan minim.

“Kalau penumpang tidak ada, penghasilan minim mau menanamkan modal untuk angkutan umum kan berat. Kalau ada penumpang pagi sama siang saja pas jam sekolah, itupun tidak bisa penuh,” katanya.

Dia menyebutkan, angkutan umum di Bantul itu di antaranya bus jurusan Jogjakarta-Kretek (Parangtritis Bantul), angkutan Jogjakarta-Imogiri, serta angkutan Jogjakarta-Srandakan.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : Antara



Close Ads