JawaPos Radar

Jalan Jauh dan Bermalam di Hutan Demi Air Bersih

20/11/2017, 17:23 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Air Bersih
Satu-satunya: Sumur tanpa penutup di tengah hutan ini digunakan warga satu desa untuk akses air bersih ketika kemarau. (Tika Hapsari/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Mandi tanpa harus terkendala urusan air dan bisa melakukannya kapan saja, mungkin menjadi hal biasa bagi sebagian orang. Namun, mandi dengan air bersih mungkin menjadi hal mewah bagi sebagian orang. Bahkan, hal itu terjadi di Jawa Timur.

Gambaran betapa susahnya mendapatkan air sangat jelas terlihat di dua dusun di Kabupaten Bojonegoro. Adalah Dusun Balong, Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, dan Dusun Kedung Ingas, Desa Kolong, Kecamatan Ngasem.

JawaPos.com berkesempatan mengunjungi dua dusun tersebut bersama dengan water.org, non-government organization (NGO) non-profit yang peduli terhadap akses air bersih dan sanitasi. Bersama kami juga turut serta lembaga keuangan mikro (LKM) untuk pembiayaan pinjaman sanitasi, dan Koperasi Mitra Dhuafa (Komida).

Air bersih
Susah: Jalan menuju sumber air di Dusun Balong yang menjadi harapan satu-satunya bagi warga saat kemarau. (Tika Hapsari/JawaPos.com)

Dusun Balong berlokasi sekitar 30 kilometer dari pusat Kabupaten Bojonegoro, dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam.

Medan yang sulit dengan kontur tanah berbatu kapur dan berlumpur lengket ketika musim hujan, membuat perjalanan menjadi lama. Apalagi Bojonegoro setiap hari diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga deras.

Bojonegoro merupakan termasuk daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo. Sehingga saat musim hujan tiba, banjir sampai merendam rumah dan jalan utama bukan lagi pemandangan baru. Kondisi ini yang membuat perjalanan menjadi lama.

Jarak antara kampung dengan jalan beraspal terdekat sekitar 2 kilometer, dan akses jalan kampung untuk menuju rumah-rumah penduduk hanya dapat menggunakan kendaraan roda dua.

Mobil yang kami tumpangi harus berhenti di ujung jalan kampung yang bersebelahan langsung dengan hutan jati. Selanjutnya, kami berjalan menempuh jalan dengan kontur menanjak, makadam, becek dan berkapur.

Tidak ada pepohonan besar di kiri dan kanan jalan yang melindungi dari teriknya sinar matahari. Kebun warga kebanyakan ditanami kacang hijau, tembakau dan jagung.

Rumahnya khas bangunan tradisional dengan bentuk semacam pendopo lengkap dengan soko guru atau tiang penyangga. Kebanyakan masih berdinding papan kayu dan berlantai tanah. Bangunan permanen dengan lantai keramik dan dinding bata putih hanya bisa dihitung jari, itu pun termasuk gedung fasilitas kesehatan umum.

Saat siang hari, kondisi sepi. Hanya ada satu dua orang yang melintas di kampung tidak padat penduduk itu. Selebihnya, warga menghabiskan waktu dengan menggembala ternaknya atau bertani.

Dusun ini termasuk kawasan kekurangan air, utamanya ketika musim kemarau. Air menjadi sangat susah. Kondisi ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.

"Mulai saya kecil, bahkan mulai zaman dulu ya memang seperti ini kondisinya. Kekeringan, tidak ada air ketika musim kemarau," ungkap Reni, warga asli Dusun Balong kepada JawaPos.com saat berkunjung ke rumahnya yang berlantai tanah dan didominasi batu kapur serta beratap kayu.

Ketika musim kemarau, perjuangan warga untuk mendapatkan air cukup panjang dan sengsara. Air tidak ada di dusun mereka. Sumur yang ada di Balong semuanya tidak ada yang mengeluarkan air. Hanya ada 15 kepala keluarga dari total 90 yang memiliki sumur.

Warga harus mencari air ke sumur terbuka yang letaknya di tengah hutan. Jarak antara sumur dengan pemukiman sekitar 1 kilometer. Jangan bayangkan jarak ini ditempuh dengan motor. Mereka, utamanya ibu-ibu, harus berjalan kaki melewati sawah, kebun dan hutan sambil membawa gentong gerabah, jerigen dan ember untuk mengangkut air.

Perjuangan tidak berhenti pada jalan yang jauh saja. Sesampai di hutan, sudah ada puluhan warga dari Desa Turi yang mengantre air. Bahkan untuk mendapatkan antrean dan memastikan mereka bisa mengambil air, para warga harus rela untuk menginap di hutan dengan hanya beralaskan tikar. "Kalau pas kemarau ya ramai di sini, banyak warga ngantre air sampai menginap. Mulai pukul 19.00 WIB hingga 07.00 WIB, semalam suntuk," kata Reni.

Sumur tersebut sangat sederhana, hanya ada bak penampung air dan tidak pompa. Jika ingin mendapatkan air, warga harus menimba. Tidak ada penutup apapun yang menghalangi pandangan mata. Jika ingin mandi dan beraktifitas apapun, warga bisa melakukan secara bebas. Hanya mengenakan pakaian seadanya untuk mandi. Air ditimba dan ditampung di bak air panjang yang ada di sisi sumur.

Kondisi ini, menurut wanita berusia 40 tahun itu, sudah menjadi hal yang lumrah. Semua warga juga mandi dan beraktifitas lainnya di sumur tanpa dinding itu.

Sumur yang selalu penuh air di segala musim ini bahkan menjadi lokasi yang dikeramatkan. Setiap tahun, digelar selamatan. Terutama setelah panen raya. Selamatan dilakukan sebagai wujud syukur dan doa agar air terus mengalir sepanjang tahun. "Sumber utama di tempat kami ya sumur ini. Kalau kemarau, semua punya warga kering. Kecuali kalau musim hujan, baru ada air," bebernya.

Sebenarnya, sudah ada aliran air berlangganan dari Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (Hippam) desa. Namun untuk mendapatkan sambungannya, warga harus mengeluarkan anggaran jutaan rupiah. Reni misalnya, mulai berlangganan sejak setahun silam. Dia membutuhkan biaya sekitar Rp 3 juta untuk memasang pipa sambungan.

Setiap bulannya, dia mengeluarkan dana sekitar Rp 30 ribu untuk membayar Hippam. Alirannya juga tidak terlalu lancar. "Airnya dijatah waktu. Siang hanya menyala dua jam dan malam juga sekitar dua jam," jelas ibu tiga anak.

Warga lain, Siti Nurjanah, menjelaskan, kondisi mereka mulai membaik ketika musim hujan. Sumur warga penuh dengan air. Mereka tidak perlu berjalan jauh untuk memenuhi kebutuhan logistik dan rumah tangga.

Namun tidak semua warga memiliki sumur. Dari 90 kepala keluarga, baru 15 yang memilikinya. Itupun harus digunakan secara bersama-sama dengan warga lainnya. Hal ini menjadi pemandangan lumrah di Dusun Balong.

Di Balong, air dan sumur adalah barang berharga. Mereka rela antre berjam-jam untuk mendapatkannya. Jika musim hujan, numpang ke tetangga untuk mengambil air. Si empunya sumur juga dengan sukarela mempersilahkan kanan kirinya untuk memanfaatkan fasilitas itu. Bahkan tanpa dipungut biaya.

"Nabung pahala, membantu karena di sini semua butuh air. Siapa saja yang mengambil tidak pernah saya larang, saya persilahkan," ucap warga yang baru menghuni Dusun Balong sejak empat tahun lalu.

Susahnya akses air bersih juga dirasakan di Dusun Kedung Ingas, Desa Kolong, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro. Menuju kawasan ini harus melewati berhektare-hektare hutan jati, jalan yang bergelombang dan berbatu kapur serta makadam, becek dan lengket penuh lumpur, kebun kacang hijau, jagung dan tembakau milik warga.

Warga harus mengambil air di sumur bersama yang mereka namakan Sumber Lanang. Lokasinya di tengah areal persawahan dengan kontur tanah menurun. Berbeda dengan sumur di Dusun Balong, di Kedung Ingas, sumur bersama ini sudah dikelilingi oleh dinding. Namun aktivitas penggunanya masih bisa terlihat dari kawasan di atasnya.

Sumur yang juga dikeramatkan itu berada persis di bawah pohon Krebet. Air ditampung di bak penampungan yang ukurannya sekitar dua kali dua meter. Jika musim kemarau, debet air tidak terlampau penuh. Sehingga warga harus menimba. Namun jika musim hujan, penuh hingga sampai di permukaan. "Kalau hujan, air bisa dicibuk (diambil dengan gayung) karena penuh," tutur salah satu warga, Supeni, dengan logat daerah yang kental.

Demi mendapatkan air, warga juga harus ngangsu alias mengambil air dengan ember atau wadah besar lainnya. Kemudian dibawa dengan cara dipikul untuk mengisi kiwan atau gerabah besar untuk mandi.

Beruntung, jarak rumah Supeni dengan sumber air sangat dekat, hanya sekitar 100 meter saja. Sehingga dia tidak perlu menginap seperti tetangganya di Dusun Balong.

Masalah air ini diakui oleh warga di dua dusun sebagai problem klasik selama bertahun-tahun lamanya. Beruntung bagi mereka, saat ini ada lembaga keuangan mikro (LKM) yang memberikan pinjaman lunak untuk akses air bersih dan sanitasi.

Salah satunya adalah Koperasi Mitra Dhuafa (Komida). Mereka memberikan pinjaman untuk pembangunan jamban atau akses air bersih, dengan angka maksimal Rp 6,5 juta. Angsuran dicicil setiap minggu, disesuaikan dengan kemampuan anggota.

Direktur Komida Sugeng menjelaskan, pihaknya sudah merambah di sekitar 400 kabupaten dan kota di 11 provinsi. "Sudah ratusan ribu penerima manfaat pinjaman untuk sanitasi dan air bersih ini," kata Sugeng.

(tik/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up