alexametrics

Jika Tak Ada Aksi Serius, Sebelas Tahun Lagi Bumi Berada Dalam Bahaya

Elemen Masyarakat Jatim Turun ke Jalan
20 September 2019, 19:14:57 WIB

JawaPos.com-Puluhan orang yang berasal dari beberapa elemen masyarakat yang datang dari berbagai wilayah Jawa Timur turun ke jalan untuk menghelat aksi bertajuk Jeda Untuk Iklim. Aksi yang berlangsung hari ini (20/9) tersebut dipusatkan di sekitar Monumen Tugu Pahlawan, Surabaya.

Kiprah ini adalah tindakan kolektif. Jadi, merupakan bagian dari aksi besar Global Climate Strike. Tuntutannya adalah lahirnya deklarasi status darurat iklim dan adanya aksi nyata untuk mengatasi kegentingan ini.

Aksi di Surabaya ini berlangsung tiga hari menjelang pertemuan PBB untuk perubahan iklim (UN Climate Action Summit 2019) yang berlangsung New York.

Para peserta aksi melakukan orasi, yel-yel, membaca puisi, dan membentangkan poster berisi keprihatinan tentang kondisi bumi. Bahkan, dalam sesi menyanyikan lagu nasional, ada peserta yang sampai meneteskan air mata.

Sejumlah elemen masyarakat mulai anak, remaja, dan orang dewasa dari beberapa wilayah di Jawa Timur turun ke jalan sebagai bentuk keprihatinan pada kondisi bumi. (Tajuddin Aljufri for Jawa Pos).

’’Krisis iklim merupakan isu global melampaui identitas, kepentingan pribadi, dan batas-batas administratif wilayah dan negara,’’ kata Lyly Freshty, anggota Komunitas Homeschooler Peduli Iklim yang ikut aktif dalam aksi ini.

’’Ini berkaitan dengan kondisi satu-satunya bumi yang kita huni bersama. Sebab itu, butuh penanganan sinergis secara global,’’ imbuhnya.

Koordinator Aksi Jeda Untuk Iklim Surabaya Marhamah mengatakan hal yang senada. Sebelas tahun lagi, ucap Marhamah, bumi akan mencapai climate tipping point. Itu adalah titik di mana segala sesuatu sudah tidak bisa diperbaiki lagi.

Bila kenaikan suhu 1,5 derajat celcius tidak bisa ditahan lajunya, maka dalam 11 tahun mendatang kerusakan tidak akan bisa dikendalikan lagi. ’’Dampak pahit ini akan dirasakan terutama oleh generasi saya dan generasi setelah kita nantinya,’’ ucap Marhamah.

Selain orang dewasa, banyak juga anak dan remaja yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Salah satunya adalah Maiza Aisyah, seorang pelajar homeschooling berusia 11 tahun. Dia ikut aksi bersama kedua orang tuanya. Maiza berangkat pagi buta dari rumahnya di Probolinggo.

’’Aku pernah nonton video-nya Greta (Greta Thunberg). Dia pelajar dari Swedia yang tiap Jumat bolos sekolah untuk aksi demo soal lingkungan. Jadi, sedih sekali melihat teman-teman masih banyak buang sampah sembarangan. Aku ingin teman-teman semua lebih peduli pada lingkungan,’’ kata Maiza.

Yang hadir dalam aksi hari ini adalah gabungan dari elemen pemuda, mahasiswa, pelajar sekolah, juga para pekerja. Mereka mengambil cuti untuk turun ke jalan mendukung aksi Jeda Untuk Iklim.

Aksi ini membawa pesan untuk diperhatikan oleh semua pihak. Antara lain, menuntut pemerintah mendengarkan para ilmuwan dan mendeklarasikan darurat iklim.

Selain  itu, pemerintah juga harus lebih serius dalam menekan emisi gas rumah kaca. Juga melaksanakannya secara tegas, konsisten, dan segera.

Selain itu, pesan dalam aksi ini adalah mengajak setiap orang untuk memberikan perhatian lebih pada kondisi darurat iklim dan mengambil tindakan segera dan nyata.

Selain itu, peserta aksi juga menyampaikan keprihatinan akan minimnya materi pengajaran tentang krisis ekologis di sekolah-sekolah. Kumpulan komunitas dari latar belakang berbeda-beda ini juga ingin mengajak para pemuka agama untuk lebih gencar mengajarkan prinsip-prinsip menghormati lingkungan hidup.

Tujuannya agar publik secara luas menolak segala praktik yang menyebabkan polusi udara di sekitar tempat tinggal.

Marhamah berharap bahwa melalui aksi ini masyarakat sadar akan kondisi ’darurat iklim’. Dari kesadaran inilah, akan memupuk sikap semakin bersemangat untuk peduli kepada lingkungan.

“Krisis iklim ini adalah keadaan darurat, dan kami ingin agar semua bertindak sebagaimana mestinya. Kami menginginkan keadilan iklim untuk semua,” tegasnya.

’’Keadaan ini harus menjadi pembicaraan semua orang karena penyelesaiannya hanya bisa terjadi ketika semua orang bertindak. Sebelas tahun adalah waktu bagi kita untuk membenahi banyak hal. Resiko sangat besar sedang menghadang. Bencana dan kepunahan akan datang kalau kita semua enggan berubah memperbaiki keadaan krisis ini,’’ lanjutnya.

Selain di Surabaya, aksi ’Jeda Untuk Iklim’ ini juga dilakukan di beberapa kota lain di Indonesia. Antara lain di Aceh, Medan, Bengkulu, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Sidoarjo, Malang, Bali, Palangkaraya, Palu, dan Kupang.

Secara global, mogok untuk iklim ini berlangsung di 150 negara dan diikuti jutaan orang. Aksi ini diprediksi sebagai aksi terbesar yang pernah dilaksanakan di dunia untuk mengatasi krisis iklim.

 

Editor : Ainur Rohman



Close Ads