alexametrics

Calon Senator Bukukan Kritiknya Terhadap Moral Bangsa yang Bergeser

20 Agustus 2018, 23:20:58 WIB

JawaPos.com – Setiap orang tentunya mempunyai cara tersendiri untuk mengungkapkan pandangannya atau kritikannya. Mulai dari berorasi, membuat puisi, dan banyak lagi.

Ada juga yang merangkum kritikannya dalam sebuah catatan yang kemudian dijadikannya sebuah buku. Dia adalah Dadang Darmawan Pasaribu, salah seorang calon senator asal Sumatera Utara.

Ia baru saja merilis buku perdananya yang berisi curahan kritiknya terhadap kehidupan bernegara. Buku itu berjudul ‘Kita Telah Mati’.

Calon Senator Bukukan Kritiknya Terhadap Moral Bangsa yang Bergeser
Dadang Darmawan saat peluncuran buku 'Kita Telah Mati', Senin (20/8). (Prayugo Utomo/JawaPos.com)

Peluncuran buku digelar sederhana di Gedung Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Sumatera Utara (USU), Senin (20/8) sore. Awalnya, acara itu hanya mengundang para kolega sesama aktivis. Nyatanya acara itu mendapat banyak sambutan.
Ruangan disesaki tamu dari kalangan mahasiswa dan organisasi lainnya. Bahkan Bupati Serdangbedagai Soekirman ikut hadir dalam peluncuran buku itu.

“Buku ini bagian dari upaya saya membangun kita dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Segala fenomena yang selama ini saya lihat, dituangkan dalam buku ini. Jadi ini catatan saya dan bentuk kontemplasi melihat kondisi zaman sekarang,” kata Dadang kepada JawaPos.com usai acara.

Dadang juga menceritakan kenapa dia memberi judul ‘Kita Telah Mati’. Ternyata alasannya cukup mendasar. Judul itu sendiri bentuk kritik Dadang terhadap masyarakat Indonesia.

“Ini menggambarkan kematian nurani dan jiwa dalam mayoritas masyarakat Indonesia. Terlihat bagaimana negara memandang secara biasa, kondisi kemiskinan yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Usaha yang dilakukan pemerintah pun hanya menjadi sebatas seruan dan rutinitas,” katanya.

Dia pun membuat analogi sederhana. Aktivis era reformasi itu mencontohkan soal penerapan kawasan bebas asap rokok. Kata dia, itu hanya sebatas seruan. Itu dituruti, hanya sekedar paksaan dan bukan dari kesadaran nurani.

“Padahal kesadaran nurani menjadi kunci dari kehidupan berbangsa. Kalau kesadaran nurani yang dikedapankan tanpa dipaksa pun orang akan mampu bersikap sesuai dengan koridornya,” papar Calon DPD Termiskin versi LHKPN itu.

Buku itu juga menceritakan bagaimana pemaknaan manusia dalam kehidupan beragama. Menurutnya, sebagai bangsa beragama, harusnya Indonesia menjadi bangsa yang paling baik. Karena, agama manapun sejatinya mengajarkan tentang kebaikan.

Namun menurut Dadang, saat ini Indonesia mengalami krisis moral. Misalnya, maraknya tindak asusila dan darurat narkoba. Tak pelak, masalah ini terus mengancam. Yang terjebak juga terkadang dari kalangan pejabat.

“Kenapa kondisi demikian terjadi pada bangsa yang mayoritas masyarakatnya beragama. Ini membuktikan bahwa yang kita kedepankan harusnya kesadaran nurani, bukan bersifat paksaan,” lanjut Dadang.

Lebih jauh lagi, Dadang menampik kalau peluncuran buku itu adalah bagian strategi untuk mendongkrak pamor sebagai Calon DPD. Karena, buku itu sudah ditulisnya jauh sebelum dia menyatakan niatan untuk maju.

“Buku ini telah saya siapkan setahun yang lalu. Naskahnya pun sudah saya berikan dari awal tahun ini saat belum merencanakan maju ke DPD. Jadi tidak ada hubungannya,” ujarnya.

Buku yang ditulisnya ini, adalah bentuk kontribusi dirinya terhadap negara. Dia pun berharap, ada manfaat yang diberikan buku itu. “Mudah-mudahan ini menjadi masukan dalam perbaikan kita bernegara. Terimakasih juga kepada teman-teman yang telah mendukung buku ini. Dan saya juga berterima kasih kepada rekan-rekan media yang membantu publikasi. Semoga bermanfaat bagi khalayak,” katanya.

Buku Kita Telah Mati menjadi satu dari empat buku yang rencananya akan dirilis dalam setahun kedepan. Naskah salah satu bukunya juga telah selesai dikerjakan dan dalam proses penyelesaian.

Untuk diketahui, dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) Dadang Darmawan Pasaribu menempati urutan pertama sebagai calon senator termiskin. Hartanya tercatat minus Rp 158 juta. Namun dia tidak khawatir. Bagi mantan Ketua Badko HMI Sumut itu, uang bukan penentu dan segalanya.

“Tuhan dan teman adalah modal kita. Sehingga kita optimis meski menjadi semut yang melawan para ‘gajah-gajah’ politik,” tandasnya.

Editor : Budi Warsito

Reporter : (pra/JPC)

Calon Senator Bukukan Kritiknya Terhadap Moral Bangsa yang Bergeser