JawaPos Radar

Pengaruh Video Porno di Internet, 2 Bocah SD Cabuli Teman Sebaya

20/07/2018, 22:25 WIB | Editor: Yusuf Asyari
Pengaruh Video Porno di Internet, 2 Bocah SD Cabuli Teman Sebaya
Ilustrasi (Dok JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com – Dua bocah SD di Kota Serang, Banten, diduga menjadi korban pencabulan. Ironisnya, pelaku pencabulan diduga dua bocah lelaki yang juga masih SD. Korban berinsial A, 6, dan E, 6, siswa kelas I SD di Kota Serang. Sedangkan diduga pelakunya J dan W.

Kasus masih diproses kepolisian. Polisi akan berkoordinasi dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Serang untuk penyidikan. Sebab, pelaku merupakan anak-anak yang masih berusia di bawah 12 tahun.

“Kasusnya sudah kita tindak lanjuti. Kita masih koordinasi dengan P2TP2A untuk menunggu rekomendasi proses penyidikannya,” kata Kapolres Serang Kota AKBP Komarudin saat ditemui di kantornya, Kamis (19/7).

Dikatakan Komarudin, penyidik sudah memeriksa dua terduga pelaku berinisial J dan W. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, kedua bocah kelas V SD tersebut tega melakukan tindakan tidak senonoh kepada korban karena terpengaruh tayangan video pornografi.

“Hasil analisa sementara dari penyidik, pelaku melakukan tindakan itu karena terpengaruh tontonan video porno di internet. Pelaku juga sudah mengakui perbuatannya,” tutur Komarudin.

Kendati demikian, polisi tidak bisa melakukan penahanan terhadap pelaku lantaran masih berstatus anak di bawah umur. Namun, Komarudin memastikan proses hukum berlanjut.

“Jadi, bukan enggak bisa diproses hukum. Proses hukum tetap berjalan, hanya tidak dilakukan penahanan karena pelaku di bawah umur. Kita hanya menyampaikan fakta-fakta betul ada dugaan pencabulan. Terkait perkaranya, nanti bagaimana hakim yang memberi keputusan,” tuturnya.

Ia memastikan penyidik telah mengirimkan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan (SP2HP) kepada kedua orangtua korban. Kepada orangtua korban, polisi juga sudah memberikan pemahaman bahwa proses pemeriksaan terhadap pelaku harus mempertimbangkan aspek psikologis.

“Ini yang harus dipahami orangtua korban. Penyidik tidak bisa memeriksa pelaku kalau sendiri, harus ada pendampingan. Makanya, kita masih menunggu rekomendasi dari P2TP2A,” ungkap Komarudin.

Radar Banten (Jawa Pos Group) melaporkan, dua bocah lelaki yang masih tetangga korban itu dituduh mencabuli korban di lapangan yang berada tidak jauh dari rumah korban.

“Kejadiannya sekitar bulan puasa. Malam, pas mau tarawih. Awalnya, saya enggak percaya, mana mungkin anak kecil bisa melakukan hal itu. Tapi, anak saya pas pulang, nangis-nangis. Katanya disetubuhi,” kata AS, ibu kandung A ditemui di kantor Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Banten, Rabu (18/7).

AS mengaku tidak pernah menaruh curiga terhadap kedua anak lelaki tetangganya itu. Soalnya, anak korban kerap bermain bersama dengan terduga pelaku.

“Waktu itu anak saya lagi main sama yang (anak-red) lain. Terus anak saya diajak sama dua orang ini (J dan W-red),” tutur AS.

Perbuatan cabul dua pelajar kelas V SD itu terbongkar lantaran kedua korban menangis seusai pulang dari lapangan. Tangisan korban memancing perhatian warga sekitar. AS juga penasaran atas penyebab putrinya menangis. “Saya juga baru tahu setelah anak saya pulang ke rumah. Dia nangis dan ngeluh ke saya bagian intimnya sakit,” beber AS.

Pengakuan kedua korban mengenai peristiwa pencabulan itu segera menyebar ke warga sekitar. Sabtu (9/6) malam, orang tua kedua korban sepakat melaporkan peristiwa tersebut ke Mapolres Serang Kota. “Kita juga sudah visum ke rumah sakit,” kata AS.

Namun, AS menilai laporannya masih belum ditindaklanjuti penyidik Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Serang Kota. Hingga kemarin (18/7), J dan W masih bebas berkeliaran di sekitar rumah korban.

“Sebetulnya, saya masih ingin menjaga nama baik semuanya. Kita enggak mau menjatuhkan nama baik mereka (orangtua kedua pelaku-red). Tapi, sejak kejadian itu enggak ada itikad baik (orangtua-red) sama sekali. Sudah dimediasi sama tokoh masyarakat, hasilnya sama saja,” kata AS.

Bahkan, sambung AS, peristiwa tersebut menyebabkan kedua korban mengalami trauma. Oleh karena itu, orang tua A dan E meminta pendampingan kepada LPA Banten.

“Kita datang ke sini buat minta pendampingan. Anak kami sampai sekarang masih trauma, apalagi kalau melihat pelakunya. Pasti mereka ketakutan,” kata AS.

Sementara itu, Ketua LPA Banten M Uut Lutfi menegaskan, kedua bocah terduga pelaku pencabulan itu tidak dapat diproses secara hukum. Sebab, keduanya masih berusia di bawah 12 tahun.

“Ini memang jadi problem karena yang diduga pelaku juga masih anak-anak. Di Undang-Undang 11 Tahun 2012 (perlindungan anak-red) disebutkan kalau di bawah 12 tahun, tidak bisa diadili. Mereka nanti harus dikembalikan ke orang tua,” jelas Uut.

Namun, Uut memastikan bahwa LPA Banten akan memberikan pendampingan terhadap korban beserta orangtuanya. Selain itu, LPA Banten akan mengintesifkan komunikasi dengan penyidik Satreskrim Polres Serang Kota. “Terutama pemulihan trauma yang dialami korban. Sampai sekarang kan, satu anak itu nangis terus,” kata Uut.

(yuz/jpg/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up