JawaPos Radar

Penyanderaan di Papua, PGRI: Negara Tak Bisa Menjamin Keamanan Guru

20/04/2018, 13:44 WIB | Editor: Ilham Safutra
Penyanderaan di Papua, PGRI: Negara Tak Bisa Menjamin Keamanan Guru
EVAKUASI - Para guru berhasil dievakuasi menggunakan dua helikopter Penerbad dari Kampung Aroanop, Distrik Tembagapura ke Timika, Kamis (19/4) kemarin. (KRISTOFORUS DUTEREM/RADAR TIMIKA/Jawa Pos Group)
Share this

JawaPos.com - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menuntut pemerintah lebih menjamin keselamatan guru. Kasus penyanderaan di Papua adalah bentuk kealpaan dan kelalaian pemerintah. "Kami berterima kasih karena guru berhasil dibebaskan. Namun, peristiwa itu juga menunjukkan negara tidak bisa menjamin keamanan guru," kata Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi.

Unifah Rosyidi menjelaskan, guru memiliki hak untuk memperoleh rasa aman. Pendidikan kepada anak-anak memang wajib dilakukan. Namun, itu saja tidak cukup tanpa jaminan keamanan. Terutama untuk guru-guru di daerah perbatasan dan rawan konflik. "Ini warning kepada kita, pekerjaan guru yang mulia tapi tidak aman. Terutama di daerah konflik," ucapnya.

Dia pun setuju bahwa 18 guru tersebut benar-benar ditarik selama belum mendapat jaminan keamanan. Ke depan Unifah meminta pemerintah memberikan perlindungan kepada guru yang berada di daerah konflik. Kalau perlu, personel keamanan ditempatkan di wilayah tersebut. "Jangan dilepas," ucapnya.

Penyanderaan di Papua, PGRI: Negara Tak Bisa Menjamin Keamanan Guru
Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhamad Aidi saat membopong salah satu guru yang sempat pingsan begitu turun dari helikopter. (KRISTOFORUS DUTEREM/RADAR TIMIKA/Jawa Pos Group.)

Hal lain yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko adalah pendekatan budaya. Guru-guru yang ditempatkan di wilayah tersebut merupakan warga asli. Dengan begitu, guru maupun masyarakat memahami kondisi sosial budaya. "Saya pernah lihat di Merauke. Pernah diterapkan dan itu bagus," paparnya.

Kasus penyanderaan di Aroanop menambah panjang daftar kekerasan oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB). November lalu ratusan warga di kampung Banti dan Kimbely disandera. Dua kampung itu juga berada di Mimika. 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, 18 guru yang bertugas di Kampung Aroanop, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika menjadi korban penyanderaan KKSB. Mereka umumnya orang pendatang. Para guru itu terdiri atas guru PNS, guru kontrak, dan guru yang merupakan mahasiswi Kolese Pendidikan Guru (KPG) PGSD Universitas Cenderawasih. Mahasiswi itu sedang menjalani program pengalaman lapangan (PPL).

Sebanyak 13 di antaranya kemarin (19/4) berhasil dievakuasi. Sisanya akan dievakuasi hari ini karena kemarin helikopter yang mengangkut tidak mencukupi.

(lyn/syn/c10/ang)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up