alexametrics
Hasil Rekomendasi Tim Kajian Banjir Sulsel

Perlu Ada Bangunan Konservasi di DAS Jeneberang

20 Maret 2019, 17:35:14 WIB

JawaPos.com- Tim Kajian Banjir membeberkan penyebab utama banjir yang melanda sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan (Sulsel) awal Januari lalu. Yakni alih fungsi lahan dan deforestasi, khususnya di hulu dan tengah Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang.

“Selain itu ada kondisi eksisting berupa tutupan lahan, konfigurasi lahan atau kelerengan, kondisi sungai (pendangkalan) yang mendukung terjadinya banjir, hunian bantaran sungai, sistem drainase dan tampungan air yang tidak memadai,” papar Ketua Tim Kajian Banjir Sulsel Syamsu Rijal di Baruga Lounge Kantor Gubernur Sulsel, Rabu (20/3).

Kondisi itu diperparah dengan intensitas peningkatan curah hujan yang melanda sebagian besar wilayah di Sulsel saat itu. Naiknya permukaan air laut juga memberikan kontribusi penyebab banjir. Data curah hujan yang tercatat pada beberapa stasiun hujan terdekat menunjukkan kedalaman melebihi 300 mm per hari atau tergolong sangat ekstrem.

“Kemudian, air Bendungan Bili-bili mendekati elevasi maksimal di atas 103 meter. Sejumlah DAS juga dalam kondisi yang sangat kritis. Mulai dari DAS Jeneberang sampai DAS Kelara, Kabupaten Jeneponto,” jelas Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas) tersebut.

Tim yang dibentuk Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah ini kemudian memberikan rekomendasi mengenai metode pencegahan atau mitigasi bencana yang bisa dilakukan pemerintah. Di wilayah hulu DAS misalnya, bisa dilakukan kegiatan mekanik atau teknis dan vegetatif. Rekayasa teknik berupa penambahan bangunan konservasi seperti embung, waduk, dan DAM.

Lalu bisa juga dengan pembuatan terasering yang bisa mengendalikan aliran permukaan dan erosi. “Bisa juga dibuat rorak untuk meresapkan air ke dalam tanah, serta menampung sedimen dari bidang olah, membuat biopori, rehabilitasi riparian, serta sistem agroforestry-perhutanan sosial,” urainya.

Sedangkan di wilayah tengah DAS, mitigasi menurutnya bisa dilakukan dengan bangunan konservasi seperti wilayah hulu. Ia menerangkan, perlu dibangun DAM konsolidasi, groundsill, dan sand pocket khusus di Jeneberang. Langkah itu diyakini akan membuat tampungan banjir berupa waduk, normalisasi aliran Sungai Jeneberang, dan pengerukan bendungan secara berkelanjutan.

“Di wilayah tengah juga perlu dilakukan penanaman tanaman konservasi sepanjang aliran sungai yang rawan longsor. Seperti bambu, rumput vetifer atau akar wangi, beringin, dan rumput gajah,” terangnya.

Sedangkan di wilayah hilir, tim merekomendasikan implementasi penataan ruang dan zonasi wilayah, pembangunan waduk retensi, sumur resapan, dan biopori. Wilayah sepadan sungai sebagai bantaran banjir yang telah dihuni masyarakat perlu direlokasi ke wilayah yang lebih aman.

“Perbaikan tanggul yang rusak perlu segera dilakukan. Kemudian penanaman pada wilayah riparian di luar kawasan permukiman, sistem drainase di wilayah cekungan, dan pembangunan early warning system pada wilayah dampak terkait kebencanaan dengan melibatkan provider telekomunikasi dan sistem informasi lainnya,” terangnya.

Tim ini juga memberikan sejumlah rekomendasi lain. Seperti pengembangan industri pengolahan skala kecil dan menengah pada desa di hulu DAS dengan memanfaatkan komoditas yang dihasilkan petani sebagai bahan bakunya. Program pengembangan sektor jasa, antara lain usaha ekowisata dan agrowisata serta perdagangan skala desa.

Editor : Dida Tenola

Reporter : Sahrul Ramadan


Close Ads
Perlu Ada Bangunan Konservasi di DAS Jeneberang