alexametrics

Bak Pahlawan, Driver Taksi Online Pakai Mobilnya Jadi Bilik Persalinan

20 Februari 2019, 22:41:40 WIB

JawaPos.com – Sandy Eko Prasetyo, 33, tak menyangka kelahiran putri pertamanya bakal memberikan pengalaman yang begitu membekas di ingatannya. Warga Jalan Cemara I Kav. 12, Banyumanik itu, pasalnya tidak pernah mengira jika sang istri Febriana Kristiningrum, 28, awal Februari 2019 silam, bisa-bisanya melahirkan di dalam mobil.

Dijumpai di Warung Penang, Jalan Singosari, Semarang Tengah, Rabu (20/2), Sandy mengisahkan cerita di balik kelahiran putri perdana yang ia namai Adysa Atlana Hadinata tersebut. Katanya, semua berlangsung menegangkan sejak istri tiba-tiba mulai merasakan kontraksi hebat pukul 02.00 WIB.

“Waktu itu, istri sudah mengeluh mules. Kita sudah target di Klinik Pratama karena dekat dari rumah, cuma 30 meter. Tapi pas sampai di sana, ternyata bidannya lagi sakit. Dua perawat di sana nggak bisa nangani persalinan dan saya akhirnya inisiatif ke klinik di Damaraya,” ujarnya menjelaskan pada saat itu ia mencoba membawa istrinya dengan sepeda motor.

Driver Taksi Online
Jam kerja tak lazim ini seringkali menghadapkan Imam kepada situasi-situasi darurat. Bukan cuma persalinan, mengantar jenazah pun pernah ia lakoni. (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)

Namun, kondisi tak jauh berbeda dijumpai di sana. Di saat rasa sakit istri makin tak tertahankan, layanan klinik di sana ternyata cuma sampai jam 21.00 WIB saja. Upaya mengetok pintu klinik pun tak membuahkan hasil. Tidak seorang pun keluar.

“Langsung berpikiran ke RS Banyumanik. Cuma istri saya udah nggak kuat, minta dipanggilkan Go-Jek, pas itu Go-Car saja. Saat itu yang datang Pak Imam, waktu itu beliau di Tusam. Istri sudah telentang, saya minta untuk segera dan lima menit, Pak Imam datang. Tapi karena ragu di RS Banyumanik ada tenaga medis, akhirnya saya minta ke Hermina aja yang basic-nya persalinan,” kisahnya panjang.

Setelah dibantu memasukkan istri ke dalam kursi tengah, sang driver Go-Car pun kata Sandy, langsung tancap gas. Hingga motornya tak mampu mengejar lajunya. Ia hanya mendapati selang beberapa waktu kemudian, kendaraan Go-Car yang ia pesan sudah terparkir di depan IGD. Dikerumuni para dokter dan perawat.

Imam Suachadij, 50, driver yang kala itu mengantarkan Febriana, menceritakan bagaimana tegangnya suasana dalam perjalanan menuju RS Hermina. Waktu itu, istri Sandy hanya bisa menahan rasa sakit sembari berterik. Memintanya untuk segera tiba di lokasi tujuan.

“Pak cepetan, pak cepetan. Dia teriak begitu. Saya bilang, atur nafas, atur nafas. Saya nggak kurang akal. Saya bohongin, ini udah mau nyampai. Ini belok sampai, saya bilang gitu. Padahal belum kelihatan juga. Ngebut, tapi nggak mengesampingkan keselamatan, sampai, saya inisiatif, masuk IGD, panggil dokter, suster, jaga. Pas itu air ketuban langsung pecah, bayinya sepertinya udah mulai keluar separuh, lalu ditangani, dan istri Mas Sandy berhasil melahirkan dengan selamat di dalam mobil. Lalu order saya selesaikan. Saya belum mikir bayaran dan order lain keburu masuk. Jauh, ke Ngaliyan jadi saya buru-buru,” katanya.

Sandy kembali bercerita jika sebelum Imam meninggalkan RS Hermina, ia sempat memintanya untuk menunggunya sebentar karena harus mengurus administrasi RS. Ia sadar belum sempat membayar tarif layanan Go-Car yang dipesannya. Apalagi membantu membersihkan bagian dalam mobil Imam yang kena darah dan air ketuban.

“Saya minta nunggu. Pas saya turun, beliau sudah nggak ada. Ya sudah, paginya inisiatif cari lewat sosmed. Saya sempat motret juga proses persalinan lewat belakang untuk kenangan. Saya posting di Miksemar itu. Cuma dapat akun Facebook, Instagram, tapi nomernya nggak dapet. Saya pasrah aja pas itu, semoga bisa dipertemukan. Abis itu di-repost sama suatu akun. Terus ramai,” ujarnya.

Sihir media sosial itu akhirnya mempertemukan Sandy dan Imam di Warung Penang. Adalah pihak Go-Jek yang menjodohkan keduanya. Sang driver pun kembali berkisah bagaimana panggilan Sandy bisa menjangkau dirinya.

“Saya melakoni Go-Car sudah 2 tahun. Saya mulai kerja jam 00.00 WIB memang. Karena driver belum banyak, hemat BBM, lancar jalannya. Waktu kejadian, di Tusam saya kumpul sama komunitas, terima order, ngobrol, saya baca tujuan ke RS banyumanuk. Saya sering kalau pagi nggak ke bandara atau stasiun, pasti ini sakit. Saya cek ternyata bener,” katanya.

Jam kerja tak lazim ini seringkali menghadapkan Imam kepada situasi-situasi darurat. Bukan cuma persalinan, mengantar jenazah pun pernah ia lakoni. “Saya ikhlas menolong dan tidak suka membaginya di media sosial,” tegasnya.

Head of Corporate Affairs Go-Jek untuk wilayah Jateng, DIJ, Jatim, Bali, dan Nusa Tenggara, Alfianto Domy Aji, dalam hal ini menjelaskan, para mitra sedianya diarahkan untuk tak memberikan kontaknya kepada orang lain. Karena bisa saja disalahgunakan, kecuali si mitra memang berkenan untuk suatu hal.

Intinya, dengan adanya kejadian ini, dirinya sangat mengapresiasi yang dilakukan mitranya ini. Katanya, bukan cuma Imam saja yang memiliki jiwa sosial tinggi macam ini.

“Khusus untuk Pak Imam, kami memberikan apresiasi berupa langganan program Go-Jek Swadaya, yakni asuransi Pasarpolis dan asuransi kesehatan Allianz selama dua tahun. Harapan kami, apresiasi ini memberikan tambahan semangat bagi Pak Imam untuk terus bekerja dengan tulus, menjadi driver Go-Jek handal yang membantu sesama dan selalu memberikan pelayanan terbaiknya,” tutupnya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : Tunggul Kumoro


Close Ads
Bak Pahlawan, Driver Taksi Online Pakai Mobilnya Jadi Bilik Persalinan