alexametrics

Aktivitas Gempa di Jatim Meningkat 450 Kali Setahun

19 Desember 2021, 16:15:21 WIB

JawaPos.com–Berdasar catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sepanjang 2013–2015, jumlah gempa bumi di Jawa Timur dengan beragam magnitudo terjadi kurang dari 230 kali per tahun. Pada 2016 hingga 2020, jumlah gempa bumi dengan beragam magnitudo itu meningkat menjadi lebih dari 450 kali setahun. Frekuensi tertinggi 655 kali yaitu pada 2016.

Atas hal itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak pemerintah kabupaten/kota terutama di sepanjang wilayah selatan Jawa Timur memperkuat mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami. ”Kepada kepala daerah mohon untuk segera melakukan audit kelayakan konstruksi bangunan dan infrastruktur, penyiapan jalur, dan sarana prasarana evakuasi yang layak dan memadai,” ungkap Khofifah pada Minggu (19/12).

Sebelumnya, pada Sabtu (18/12), Khofifah mengunjungi wilayah terdampak gempa di Desa Ambulu, Dusun Krajan, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember dilanjutkan ke Pantai Watu Ulo.

Menurut Khofifah, penguatan mitigasi harus dilakukan untuk meminimalisir dampak yang terjadi jika sewaktu-waktu gempa bumi dan tsunami menghamtam selatan Jatim. Pemkab/pemkot harus segera membuat rencana aksi dengan berbagai scenario.

“”Jadi disiapkan dari yang ringan hingga antisipasi  terburuk. Rencana aksi tersebut harus juga mencakup evakuasi dan proses evakuasi, serta pola penanganan pengungsi jika bencana terjadi,” papar Khofifah.

Selain mitigasi, lanjut Khofifah, perlu juga penguatan dalam hal literasi bencana masyarakat. Dengan begitu masyarakat tidak gagap dan bingung serta tahu harus berbuat apa saat bencana terjadi.

”Masyarakat ini harus mengerti kalau suatu daerah berpotensi untuk tsunami. Gempa sebenarnya sudah menjadi early warning system. Sosialisasi tentang mitigasi bencana harus ditingkatkan karena masyarakat harus bisa melakukan evakuasi mandiri,” jelas Khofifah.

Menurut dia, sistem menunggu datangnya relawan tidak akan efektif. Sebab, interval waktu dari gempa ke tsunami relatif singkat.

”Karena gak akan nutut, kalau mengikuti ritme dan menunggu relawan datang. Sebab, kemungkinan jarak dari gempa ke tsunami biasanya hanya 20 menit saja,” tutur khofifah.

Sebelumnya, gempa berkekuatan 5,1 terjadi pada Kamis (16/12) pukul 06.01.33 WIB. Gempa berpusat pada 8,55 LS, bujur 113,49 BT dengan kedalaman 10 km. BMKG memastikan gempa itu tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Meskipun demikian, gempa tersebut dirasakan di Kabupaten Jember dengan intensitas IV MMI, Kabupaten Banyuwangi dengan intensitas II–III MMI, Kabupaten Malang dengan intensitas II MMI, Kabupaten Lumajang dengan intensitas I–II MMI, Kabupaten Bondowoso dengan intensitas I–II MMI, serta Kabupaten Trenggalek berintensitas I–II MMI.

Berdasar data, sedikitnya 46 unit rumah mengalami kerusakan. Yakni 34 unit rusak ringan, 11 unit rusak sedang, dan 1 unit mengalami rusak berat. Selain itu, 5 unit fasilitas umum berupa 4 sekolah dan 1 gedung juga terdampak gempa tersebut. Dilaporkan juga 6 warga  mengalami luka ringan.

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : rafika

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads