alexametrics

Orang Utan Albino Akhirnya Dilepasliarkan ke Hutan Bukit Raya

19 Desember 2018, 13:29:36 WIB

JawaPos.com – Alba akhirnya bisa menghirup udara hutan kembali. Orang utan albino itu mengalami banyak perubahan setelah diselematkan BKSDA Kalteng dan BOS Nyaru Menteng pada 29 April 2017 lalu.

Alba, dari bahasa Latin yang berarti putih. Ketika ditemukan warga di Desa Tanggirang, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Alba berusia sekitar 5 tahun. Berat badannya cuma 8,3 kilogram. Mengalami gangguan pengelihatan. Beberapa hari pertama di karantina, Alba hanya mau makan tebu.

Berkat perawatan intensif dari tim medis, hewan bernama latin Pongo Pygmaeus Wurmbii berjenis kelamin betina itu sudah banyak mengonsumsi lebih banyak variasi makanan. Seperti buah-buahan dan susu. Kondisinya berangsur membaik dan beratnya bertambah. Kondisi fisik meningkat signifikan.

Orang Utan Albino, Orang Utan Dilepasliarkan, Orang Utan Albino Kalimantan
Orang utan Albino saat hendak dilepasliarkan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR). (Agus Pramono/Kalteng Pos/JPG)

Setelah dikarantina, Alba ditempatkan di Kompleks Sosialisasi 7 bersama tiga orang utan betina lainnya, yakni Kika, Radmala, dan Unyu. Alba bergaul baik dengan Kika dan mereka bersahabat. Ia juga tidak menyukai kehadiran manusia dan memanjat dinding kompleks untuk menghindari kontak atau interaksi.

Meski warna rambutnya berbeda dari orang utan lain, hal ini tidak mencegah Alba bersosialisasi baik dengan orang utan lainnya. Ia sangat lincah dan cukup mampu membela diri saat diperlukan. Pertanda bagus untuk hidup di alam liar.

“Kurang lebih 18 bulan dikarantina, beratnya kini sudah 27,9 kilogram,” kata CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite sebagaimana diberitakan Kalteng Pos (Jawa Pos Group), Rabu (19/12).

Pada usianya 6 tahun, kini dilepasliarkan alias kembali ke habitatnya di hutan. Bersama temannya di Kompleks Sosialisasi 7, Kika. Kika berusia 7 tahun. Berat badan 22,6 kilogram. Disita dari seorang warga yang memeliharanya di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Februari 2017. Mereka berdua siap menjelajahi rimba Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR).

Keputusan mengembalikan Alba, satu-satunya orang utan albino yang pernah tercatat, ke alam liar telah dikaji dengan baik. Tidak ada kekhawatiran ketika di dalam rimba dikucilkan oleh orang utan lain. Pasalnya, selama ini, bisa bersosialisasi dengan orang utan lainnya yang berbeda warna.

“Sampai sejauh ini Alba masih diterima. Tidak ada penolakan. Jadi semoga saja saat berada di habitatnya nanti dia diterima dalam spesiesnya dan dapat hidup dengan sehat,” harapnya.

Ia mengatakan hutan menjadi pelepas liaran Alba. Semua sudah diperhitungan. Dari kerapatan hutan tersebut sampai keamannya di sana. “Kami terus lakukan pemantauan. Baik dari makan hingga bangun tidurnya dan berbaurnya Alba. Bahkan, kami pasang chip (penanda) selama enam bulan, untuk memantau,” ungkapnya seraya menyebut di TNBBBR ada 112 orang utan.

Perjalanan ke TNBBBR sendiri memakan waktu 16 jam perjalanan darat dan sungai. Tim dari yayasan BOS Nyaru Menteng membawa tim medis dan turut serta artis dan model Devina yang sudah keenam kalinya mengikuti pelepasliaran orang utan di Kalteng.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem diwakili oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Indra Exploitasia juga hadir dalam pelepasan. Perempuan berkacamata ini menyatakan bahwa kegiatan ini menunjukkan bagian dari komitmen pemerintah untuk meningkatkan populasi satwa di habitat alam.

Pengembalian tersebut sesuai ketentuan, jenis satwa yang dapat dilepaskan kembali ke habitatnya. Dengan syarat, satwa yang dilepaskan secara fisik sehat, memiliki keragaman genetik tinggi dan habitat pelepasan merupakan bagian dari sebaran asli jenis yang dilepaskan. TNBBBR telah dikaji dan merupakan bagian dari sebaran Orang utan ini.

”Untuk hutan yang dihuni oleh Alba sudah kami kaji sebelumnya, dari tingkat pancaran sinar mataharinya. Karena orang utan yang albino sangat rentan terkena sinar matahari,” bebernya.

Keberanian pemerintah dalam melapasliarkan orang utan Albino tidak lain adalah lulusnya orang utan tersebut dalam syarat-syarat yang telah ditentukan dan hutan yang menjadi habitatnya sudah dikaji dengan baik.

”Jadi Alba tidak perlu berlama-lama lagi di tempat rehabilitasi karena dia sudah menunjukan sikap liarnya. Makanya kami berani melepaskannya kehabitat aslinya tentu dengan pengawasan,” terangnya.

Kepala Balai TNBBBR Heru Raharjo menyatakan, berdasarkan hasil kajian yang dilakukan bersama dengan yayasan BOS, mengidentifikasi tujuh zona potensial untuk reintroduksi orang utan di TNBBBR yang tersebar dari arah barat ke arah timur.

Dua di antara tujuh zona potensial terletak di daerah Sungai Bemban dan Sungai Mahalat, mempunyai akses yang bagus, area hutan hujan yang besar, dan memiliki dataran rendah yang luas, sehingga sangat cocok sebagai lokasi pelepasliaran orang utan.

“Wilayahnya luas, memiliki batas alam, habitat yang cocok, bagus untuk monitoring dan menyokong populasi liar yang layak, diperkirakan area ini dapat menampung 200 orang utan,” ucapnya.

Editor : Fadhil Al Birra

Reporter : (fab/jpg/JPC)

Orang Utan Albino Akhirnya Dilepasliarkan ke Hutan Bukit Raya