JawaPos Radar

Jokowi Muda itu Urakan, Arogan Tapi Menang Olahraga

19/12/2017, 19:13 WIB | Editor: Sari Hardiyanto
Dies Natalies UGM
Presiden Joko Widodo saat menghadiri acara puncak Dies Natalis UGM ke-68, Selasa (19/12) (Ridho Hidayat/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Kuliah Umum Presiden Joko Widodo dalam puncak acara Dies Natalis ke-68 Universitas Gadjah Mada, Selasa (19/12) semacam menjadi mini reuni teman-teman seangkatannya.

Maklum saja, Jokowi merupakan alumni UGM, Jurusan Teknologi Kayu Angkatan 1980. Banyak kisah menarik selama perjalanan Jokowi menempuh pendidikannya di Perguruan Tinggi tersebut pada 37 tahun silam.

Teman Jokowi seangkatan, Bambang Supriyambodo mengatakan teman satu angkatannya dulu berjumlah 88 mahasiswa. Dengan perincian 80 laki-laki dan sisanya adalah perempuan. Oleh karena itu, kegiatan yang dilakukan selalu didominasi dengan hal-hal yang identik dengan olahraga seperti naik gunung.

"Seangkatan dulu itu paling arogan, urakan, dan menang dalam urusan olahraga," katanya antusias bercerita tentang masa muda Jokowi, Selasa (19/12).

Selama tergabung dalam Pecinta Alam, Mapala Silva Gama, berbagai gunung pun telah dijelajahinya. Mulai dari gunung Merapi hingga Kerinci di Jambi. "Waktu itu saat ke Padang (menuju Kerinci), dari Jakarta naik bus Damri itu tahun 1983. Naik merapi (sering) kayak malam minggu," beber pria yang saat ini menjabat sebagai dewan komisaris di perusahaan Pupuk Kaltim ini.

Asam garam mendaki gunung dirasakannya bersama Jokowi. Prinsipnya menikmati alam tanpa merusak. Mengetahui masa muda Jokowi, Bambang merasa kaget setelah Jokowi memilih aktif di dunia politik. Serasa berbalik 180 derajat. Hal itu mulai terlihat ketika mencalonkan diri sebagai Wali Kota Solo sampai menjadi Presiden RI. "Dia tidak ikut organisasi. Itu saya juga kaget begitu nyalonkan Walikota," tuturnya, saat perayaan Dies UGM ke-68.

Sementara itu, dosen pembimbing tugas akhir Jokowi, Kasmudjo menambahkan Jokowi merupakan tipe mahasiswa yang disiplin dalam tugas belajarnya. Ia selalu meminta bertemu untuk melakukan pembimbingan. Karena itu dalam pengerjaan tugas akhirnya, tidak terlalu banyak perbaikan. "Cukup bagus, tidak terlalu (banyak) perbaikannya," ungkapnya.

Dalam kuliah umumnya, Jokowi mengungkapkan cita-citanya dulu ingin menjadi Pegawai di Perhutani. Mendaftar dan mengikuti sejumlah test pun telah dilakukannya. Namun takdir berkata lain, ia tidak diterima.

"Saya juga daftar saat itu, tapi saya gak diterima. Saya sempat berpikir apa saya yang bodoh, apa tesnya yang salah, apa jangan-jangan banyak titipan. Saya tidak jadi pegawai Perhutani tapi jadi Presiden. Tapi ya sudahlah ini kehendak Tuhan," katanya.

Tidak lupa di akhir kuliahnya, Jokowi mengucapkan terima kasihnya kepada seluruh pihak yang telah membantunya selama kuliah di UGM. Terutama dosen pembimbing Kasmudjo.

Karena berkatnya, dirinya bisa menyelesaikan skripsinya. "Meskipun harus bolak-balik, dibentak. Ini kok galak sekali. Tapi saya ucapkan terimakasih setinggi-tingginya kepada Bapak Kasmudjo," pungkasnya.

(dho/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up