alexametrics

Baru Delapan Bulan, Kelas SDN Mojosetu Nganjuk Sudah Rusak

19 November 2019, 12:48:17 WIB

JawaPos.com – Siswa kelas I sampai VI SDN Mojosetu, Gondang, Nganjuk, tidak bisa belajar di dalam kelas. Pasalnya, enam ruang kelas di sana semuanya rusak. Termasuk dua ruang kelas yang baru direhab akhir 2018. Akibatnya, siswa terpaksa belajar di teras kelas, perpustakaan, dan musala.

Pantauan koran ini kemarin (18/11) menunjukkan, siswa kelas VI terlihat belajar di ruang perpustakaan. Sementara siswa kelas III, IV, dan V belajar di teras kelas. Sedangkan siswa kelas I dan II menempati musala sekolah. ”Sudah hampir dua tahun belajar di perpustakaan,” ujar salah seorang siswa SDN Mojosetu.

Siswa yang sebentar lagi menempuh ujian nasional (UN) itu harus belajar di ruangan yang sempit karena plafon kelasnya ambrol. Hingga pertengahan November ini belum kunjung diperbaiki.

Kerusakan yang sama terjadi di ruang kelas III, IV, dan V. Akibatnya, siswa tiga kelas tersebut harus belajar di teras kelas. Nasib yang hampir sama dialami adik kelas mereka. Siswa kelas I dan II terpaksa belajar di musala. Sebab, dinding ruang kelas mereka sudah retak-retak hingga menyisakan rongga sekitar 1,5 meter.

Kerusakan dua kelas yang terakhir itu jadi pertanyaan banyak pihak. Sebab, dua ruang kelas tersebut baru direhab akhir 2018. Dana perbaikan mencapai Rp 321,9 juta. Anggaran itu termasuk untuk perbaikan ruang kantor. Tetapi, dua bulan lalu atau baru dipakai sekitar sembilan bulan, ruang kelas kembali rusak.

Kepala SDN Mojosetu Lasmi Hartini yang dikonfirmasi tentang kerusakan kelas di sekolahnya mengatakan, pihak sekolah terpaksa memanfaatkan perpustakaan untuk kegiatan belajar-mengajar karena plafon ruangan rusak. ”Anak-anak takut kalau belajar di kelas yang lama,” ujarnya.

Lasmi mengakui bahwa lima ruang kelas lainnya bernasib serupa. Pun dua ruang kelas dan kantor yang direhab tahun lalu. ”Belum setahun direhabilitasi, bangunannya sudah retak,” lanjutnya.

Pernyataan Lasmi dibenarkan Kasi Arianti, 12. Siswa kelas VI tersebut mengaku takut belajar di kelasnya yang lama. Karena itu, meski kurang nyaman, dia dan teman-temannya terpaksa belajar di perpustakaan dan ruang UKS. ”Sebenarnya ingin kembali belajar di kelas seperti dulu,” ungkapnya malu-malu.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Nganjuk Mokhamad Yasin yang dikonfirmasi tentang kerusakan kelas di SDN Mojosetu menjelaskan, dispendik sudah mengirim tim untuk mengecek kondisi sekolah. ”Saya masih menunggu laporan dari tim,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Jika ada kelas yang bangunannya sudah tua dan rusak, Yasin memastikan bakal memasukkannya ke dalam prioritas perbaikan 2020. Bagaimana dengan kerusakan dua ruang kelas yang baru selesai dibangun akhir 2018? Ditanya demikian, Yasin menyebutkan, dispendik akan mengecek lebih detail. Terutama untuk mengetahui penyebab dinding kelas yang retak-retak itu.

”Dilihat dulu, apakah karena spek bangunan atau ada penyebab lainnya,” tutur Yasin. Dengan usia bangunan yang kurang dari satu tahun, menurut dia, dispendik bisa saja meminta pertanggungjawaban kontraktor pelaksana.

Kerusakan Kelas SDN Mojosetu

  • Enam ruang kelas di SDN Mojosetu tidak bisa digunakan untuk belajar.
  • Empat ruangan dikosongkan karena bangunan tua dan plafonnya ambrol.
  • Dinding dua ruang kelas lain yang baru dibangun akhir 2018 sudah retak-retak.
  • Siswa kelas I–VI terpaksa belajar di teras kelas, musala, serta perpustakaan.

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : rq/ut/end



Close Ads