JawaPos Radar

Ini Tiga Masalah Besar soal Air yang Dialami Kabupaten Malang

19/11/2017, 23:30 WIB | Editor: Suryo Eko Prasetyo
Apel pasukan penanggulangan risiko bencana di Sungai Panguluran
SEKOLAH SUNGAI: Apel pasukan dalam kegiatan penanggulangan risiko bencana di Sungai Panguluran. (Tika Hapsari/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Kabupaten Malang memiliki tiga masalah klasik untuk urusan air bersih. Problem ini diakui Bupati Malang, Rendra Kresna, sudah terjadi sejak bertahun-tahun lalu. Ketiganya adalah too dirty, too much, dan too little.

Dia menjelaskan, yang dimaksud dengan too dirty adalah terlalu kotor alias banyak polusi, too much alias terlalu banyak atau bisa juga diartikan dengan banjir, dan too little yang berarti terlalu sedikit atau kekeringan ketika musim kemarau.

Ketiga hal itu terjadi karena merosotnya kualitas ekosistem daerah aliran sungai (DAS) yang disebabkan oleh pemanfaatan sumber daya DAS secara berlebihan dan tidak ramah lingkungan.

Rendra menjelaskan, salah satu cara yang dilakukan untuk menanggulangi hal ini adalah dengan sekolah sungai. Program Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini adalah penaggulangan risiko bencana, yang dikemas dalam Gerakan Nasional Penanggulangan Risiko Bencana.

Implementasi Gerakan Nasional Penanggulangan Risiko Bencana mengarahkan cara berpikir ecosystem based, yaitu melalui pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) secara berkesinambungan dan berkelanjutan.

Caranya, dengan membedakan aksi di hulu (sekolah gunung), tengah (sekolah sungai), dan hilir (sekolah laut).

Tahap pelaksanaannya sejak tahun 2016 yang lalu, telah dilaksanakan model sekolah sungai Gerakan Pengurangan Risiko Bencana di 23 kabupaten dan kota yang melingkupi wilayah Sungai Bengawan Solo, Sungai Citarum, Sungai Panguluran, dan Sungai Torarangga.

Melanjutkan program tersebut yang dapat dikatakan telah berfalan dengan cukup baik, maka pada tahun 2017 ini Badan Nasional Penanggulangan Bencana kembali melaksanakan model Gerakan Nasional Penanggulangan Risiko Bencana di 44 kabupaten dan dan lima provinsi.

"Termasuk salah satunya dilaksannkan di Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur. Sudah dilaksanakan Sabtu (18/11). Juga hadir Dandim 0818 Letkol Inf Ferry Muzawwad," kata Rendra.

Dia menambahkan, dilaksanakannya festival sungai sebagai bagan dari Gerakan Nasional Penanggulangan Risiko Bencana.

Dia menjelaskan, sekolah sungai untuk Kabupaten Malang tahun ini dilaksanakan di Sungai Panguluran, Dusun Roworante, Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

Alasannya, kawasan ini kerap diterjang banjir ketika musim hujan. Bahkan, hingga merendam satu desa. Ketinggian air bervariasi, antara satu hingga dua meter.

Banjir di Sitiarjo terjadi bukan hanya luapan air Sungai Panguluran, tapi juga kiriman air dari desa sebelahnya yang 'terperangkap' di Sitiarjo. Lagi-lagi, karena kualitas DAS yang menurun.

(tik/ce1/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up