Potensi Anak Muda Jangan Sebatas Komoditas Politik

19/08/2018, 19:25 WIB | Editor: Budi Warsito
Fahd Pahdepie dan Romzi Ahmad berdiskusi bersama puluhan anak muda Cirebon membahas tentang pemuda millenial dan kepemimpinan nasional di Kantin Cirebon, Minggu (19/8). (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Memasuki tahun politik, kalangan usia muda diperebutkan menjadi lumbung suara oleh partai politik dan calon anggota legislatif. Tercatat, 42 persen lebih daftar pemilih tetap (DPT) nasional terdiri dari kalangan usia muda.

Artinya, kaum muda memiliki saham elektoral tertinggi untuk menentukan arah perubahan kebijakan negara. Hal tersebut, disampaikan tokoh pemuda sekaligus Pendiri Revolusi Kedai Kopi, Fahd Pahdepie saat berdiskusi di Kota Cirebon, Minggu (19/8).

Menyambut momentum politik, penulis buku Best Seller Hidup Berawal Dari Mimpi itu mengimbau kepada pemuda, jangan hanya menjadi komoditas politik oleh para politisi. Jauh dari itu, pemuda dituntut meningkatkan kualitas untuk mengisi peran strategis di bidang apa pun.

"Momen politik adalah milik semua orang, termasuk anak muda. Akan tetapi, jangan sampai anak muda hanya berfikir mereka akan berguna jika jadi caleg, atau tim kampanye," ujar Fahd.

Menurutnya, pada momentum Pilpres dan Pileg yang digelar bersamaan pada 2019, semua partai politik dan kandidat calon legislatif sedang memperebutkan suara anak muda. Ironinya, aspirasi anak muda tidak pernah dibahas baik oleh partai politik maupun di tingkat eksekutif maupun legislatif.

Fahd pun menyoroti, selama 20 tahun di struktur pemerintahan, baik di eksekutif maupun legislatif masih didominasi oleh aktor politik itu-itu saja. Padahal, kalangan pemuda memiliki saham elektoral paling berpengaruh saat pemilu.

"Dari tahun 98 hingga sekarang, aktor politik dan king maker-nya masih didominasi orang-orang itu saja. Harusnya pemerintah memberikan ruang lebih luas lagi, dan meregenerasi kepimpinan nasional," ujarnya.

Tantangan persaingan global yang semakin terasa, Fahd pun menyarankan kepada pemerintah agar mengelola dengan baik bonus demografi yang dialami Indonesia. Menurutnya, bonus demografi yang didominasi usia produktif patut dipersiapkan, agar ke depan Indonesia memiliki sumber daya masyarakat berkualitas.

Fahd menambahkan, anak muda jangan mudah silau dengan jumlah bonus demografi. Akan tetapi, angka bonus demografi di Indonesia harus dimaksimalkan potensinya, agar anak muda semakin berkualitas.

"Anak muda yang punya keterampilan, gagasan dan struktur, harus bersatu membuat momentum sejarah. Karena perubahan bangsa ini ditentukan kualitas SDM anak mudanya," kata Fahd.

Di tempat yang sama, pendiri AIS Nusantara, Romzi Ahmad menilai, soal demografi Indonesia tidak menjadi masalah. Sementara hal serius yang harus diselesaikan adalah peningkatan kapasitas SDM. Dikatakannya, Cirebon memiliki potensi SDM anak muda yang besar. Potensi tersebut harus terus dikembangkan dengan menyesuaikan kebutuhan potensi daerah.

"Asal dikembangkan dan dimaksimalkan potensi anak mudanya, mereka bisa terlibat mengembangkan daerah," ujar Romzi.

(wiw/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi