JawaPos Radar

Eksekutor Pembakar 1 Keluarga yang Diburon Polisi Tertangkap

19/08/2018, 10:31 WIB | Editor: Budi Warsito
Eksekutor Pembakar 1 Keluarga yang Diburon Polisi Tertangkap
Tersangka eksekutor pembakaran, Zulkifli Amir alias Ramma yang sempat menjadi DPO usai diringkus tim Jatanras Polrestabes Makassar, di Mako Polrestabes, Minggu (19/8). (Syahrul Ramadan/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Salah satu pelaku kasus pembakaran rumah yang menewaskan satu keluarga di Jalan Tinumbu, 166B, Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, yang sempat kabur akhirnya tertangkap.

Sempat masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), tersangka Zulkifli Amir alias Ramma, 22 diringkus tim dari unit Tindak Kejahatan dan Kekerasan (Jatanras) Satreskrim Polrestabes Makassar, usai melakukan pelarian sepekan lamanya.

Kasat Narkoba Polrestabes Makassar, Kompol Diari Estetika mengungkapkan, tersangka ditangkap di sebuah terminal di Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel). Penangkapan bertepatan dengan momentum puncak Kemerdekaan Republik Indonesia, Jumat (17/8) lalu.

Eksekutor Pembakar 1 Keluarga yang Diburon Polisi Tertangkap
Tersangka eksekutor pembakaran, Zulkifli Amir alias Ramma yang sempat menjadi DPO usai diringkus tim Jatanras Polrestabes Makassar, di Mako Polrestabes, Minggu (19/8). (Syahrul Ramadan/JawaPos.com)

"Yang bersangkutan kita tangkap disana, dengan barang bukti sepeda motor yang digunakan dalam pelarian," kata Diari di Mako Polrestabes Makassar, Jalan Ahmad Yani, Minggu (19/8).

Penangkapan terhadap tersangka, merupakan hasil dari pengembangan setelah melakukan penangkapan terhadap enam tersangka lainnya. Mereka masing-masing adalah Andi Muhammad Ilham, 23; Riswan Idris, 23; Haidir Mutalib, 25 dan Wandi 23. Keempatnya ditangkap pada Rabu (8/8) atau tepat dua hari setelah insiden pembakaran terjadi.

Setelah dilakukan pengembangan, di waktu yang sama, penyidik menemukan lagi dua tersangka lain. Masing-masing Iwan Lili dan Akbar Daeng Ampu. Keduanya bahkan masih bertatus sebagai narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1A Makassar.

Diari menjelaskan, dalam kasus tersebut Ramma berperan sebagai eksekutor pembakaran di rumah korban yang berjumlah enam orang. Masing-masing korban adalah, pasangan suami isteri Sanusi 70 dan Bondeng 65; anaknya Musdalifa, 30; Fahri, 24 dan Namira 24; serta cucunya Hijas yang masih berusia 2,5 tahun.

Dihadapan petugas, Ramma mengaku melakukan aksinya bersama dua tersangka lainnya Andi Muhammad Ilham dan Idris. Mereka membakar rumah atas perintah aktor utama alias otak dari pembakaran tersebut, Akbar Daeng Ampu dari dalam Lapas.

"Motif dibalik pembakaran yang menemaskan enam jiwa ini, dilatarbelakangi karena hutang narkoba. Korban Fahri, berhutang sebanyak 9 paket sabu-sabu dari Akbar Daeng Ampu. Sabu itu didapatkan melalui perantara Iwan Lili yang memberikannya ke Fahri," terang Diari.

Setelah beberapa lama dijanjikan untuk melunasi utang, Akbar Daeng Ampu terakhir mendapatkan kabar bahwa Fahri bakal lari, keluar dari kota Makassar. Puncaknya, dari dalam Lapas, Akbar Daeng Ampu kemudian mengintruksikan kepada tersangka lainnya untuk menghabisi nyawa Fahri.

"Jadi yang bersangkutan ini berperan sebagai pembakarnya dengan tersangka yang lebih dulu kita tangkap. Dia menyiramkan bensin dari luar rumah korban kemudian dia juga yang bakar, yang sulut api atas perintah dari Akbar Daeng Ampu ini," terang Diari.

Sebelum melakukan pembakaran pada Senin (6/8) sekitar pukul 04.00 Wita subuh lalu, lanjut Diari para tersangka lebih dulu mengkonsumsi minuman keras dan sabu-sabu. Barang haram tersebut diakui Ramma adalah milik dari Akbar Daeng Ampu, yang diberikan melalui Andi Muhammad Ilham.

"Dalam kondisi seperti itu, sebagai pemantik setelah diinstruksikan, para tersangka ini langsung menuju ke rumah korban, kemudian langsung beraksi, puncaknya membakar," tambah Diari.

Seluruh tersangka hingga saat ini masih sementara ditangani Satreskrimsus Polrestabes Makassar. Akibat perbuatan melawan hukumnya, tersangka disangkakan melakukan pelanggaran pasal 170 ayat 1 dan 2, pasal pasal 351 ayat 2 juncto pasal 333 ayat 1 dan 2 KUHP dengan ancaman minimal 5 tahun penjara.

Pasal itu diterapkan juga terhadap tersangka lainnya. Sementara aktor utama dalam kasus ini, Akbar Daeng Ampu disangkakan melanggar pasal 340 KUHP subsidaer 187 KUHP juncto Pasal 55 KUHP dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup.

(rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up