JawaPos Radar

Deradikalisasi, Eks Napiter di Poso Beternak Ayam

19/08/2018, 10:11 WIB | Editor: Budi Warsito
Deradikalisasi, Eks Napiter di Poso Beternak Ayam
Kapolres Poso, AKBP Bogiek Sugiyarto. (Desyinta Nuraini/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Bekas narapidana teroris maupun simpatisan teroris Santoso di Poso, Sulawesi Tengah, kini sudah berbaur dengan masyarakat. Mereka hidup secara berdampingan.

Hal itu diungkapkan oleh Kapolres Poso, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Bogiek Sugiyarto. Ia pun bersyukur masyarakat dapat menerima mereka.

"Alhamdulillah tidak ada resistensi dari masyarakat terhadap sekembalinya mereka, eks napiter," ujar AKBP Bogiek Sugiyarto saat berbincang dengan JawaPos.com di kantornya, Jumat (17/8) sore.

Hal tersebut, tidak lepas dari kinerja Kepolisian bersama TNI, Pemerintah Daerah, dan para tokoh agama serta masyarakat dengan mengganyang program deradekalisasi. Namun, tidak sekedar penyuluhan, mereka melakukan pendekatan ekonomi.

"Kami berharap mereka kembali ke masyarakat melalui agenda kegiatan yang kita adakan kerja sama antara Polri- TNI maupun dengan unsur pemerintah daerah," sebut dia.

Kegiatan ekonomi yang dimaksud, berupa dibuat dan diberdayakannya para eks napiter itu di peternakan ayam. "Kemudian ada beasiswa (buat anak-anak eks napiter) kemudian ada usaha berkaitan dengan air isi ulang dan masih banyak lagi yang kita laksanakan," tutur Bogiek.

Polres Poso sendiri, membuat program polisi Managuraya yang penuh budaya. Artiny, polisi yang baik hati. "Ini program deradikalisasi dengan mengedepankan fungsi bhabinkamtibmas kita yang tentu lebih dekat dengan masyarakat, dekat dengan eks napiter, dekat dengan keluarganya," pungkas Bogiek.

Sebagaimana diketahui, wilayah pegunungan Poso dan bagian swlatan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi, sempat menjadi daerah kekuasaan Mujahidin Indonesia Timur di bawah pimpinan Santoso. Kelompok tersebut telah menyatakan sumpah setia kepada Negara Islam Irak dan Syam yang bersekutu dengan ISIS.

Santoso tewas pada 2016 silam dan para pengikutnya ditangkap. Hingga kini, masih ada sekitar 7 orang anak buah santoso yang lari ke Gunung Biru, Poso dan dalam pengejaran Satgas Tinombala.

(dna/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up