alexametrics

Peduli Pantai Labuan Bajo, Perempuan Asal Islandia Rela Pungut Sampah

19 Juli 2019, 13:20:08 WIB

JawaPos.com – Birunya laut Laboan Baju kini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik dalam negeri, maupun luar negeri. Namun sayangnya, di balik keindahan itu terdapat masalah sampah yang semakin menumpuk. Hal ini karena berbagai faktor. Salah satunya adalah para wisatawan yang menggunakan Kapal Pinisi yang bermalam beberapa hari di tengah laut Labuan Bajo. Kini, sampah itu tampak terbawa arus aliran laut ke pantai.

Oleh sebab itu, Danone AQUA bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, dan Pemkab Manggarai Barat menggelar aksi nyata beach cleanup atau bersih-bersih pantai. Aksi Beach Cleanup Danone AQUA di Pantai Pede, Labuan Bajo, Jumat (19/7) pagi. Berbagai sampah plastik dan sampah organik diangkut oleh beberapa relawan penggiat lingkungan di Labuan Bajo. Bahkan, ada wisatawan dari Islandia, Ragnhei.

Ragnhei punya perhatian lebih terhadap masalah sampah di lautan. Perempuan itu ternyata selama ini bekerja di perusahaan daur ulang asal Prancis yang berada di Pasuruan, Jawa Timur. “Saya concern tentang lingkungan dan aku bekerja untuk Perusahaan Veoila, perusahaan Prancis di bidang daur ulang plastik di Pasuruan. Kami berkolaborasi dengan Danone-AQUA untuk mendaur ulang PET botol dan mengubahnya menjadi kualitas yang bagus dan menjadikannya botol baru,” kata Ragnhei.

Aksi bersih-bersih sampah di Pantai Pede, Labuan Bajo, NTT. (Bintang Pradewo/ JawaPos.com)

Dia menganggap aksi beach cleanup adalah cara yang tepat untuk mengedukasi masyarakat dalam menjaga pantai dari sampah plastik. Menurutnya, sampah plastik di lautan adalah masalah global yang harus segera diatasi. “Saya pikir ini beach cleaning, aktivitas yang bagus untuk mengurangi polusi plastik. Aku pikir ini masalah global (sampah) terbuang di lautan tidak hanya di Indonesia tapi juga di negara lain, jadi kita harus bekerja secara global untuk menghentikan (agar sampah) tidak terbuang ke laut,” kata Ragnhei.

Sementara itu, Bupati Manggarai Barat Agustinus C. Dula mengaku kewalahan mengatasi sampah di laut. Pihak Kabupaten Manggarai Barat itu pun mengaku sudah mengajak tiga pilar seperti TNI-Polri dan ASN untuk membantu membersihkan sampah-sampah di laut.

Namun, kenyataannya setelah beberapa jam dibersihkan, sampah itu muncul kembali sekitar 10 menit. Sehingga, dia sangat mendukung acara Aksi Beach Cleanup Danone AQUA. “Lautnya Labuan Bajo memang laut yang luas dan pantai kita memang indah, namun meski kita membersihkan sampah berjam-jam, tapi masih saja penuh (sampah). Kita sudah taruh petugas di pantai, tapi meski tidak 100 persen tuntas tapi sudah cukup membantu,” tuturnya.

Sampah Plastik Harus Ada Solusi

Aksi bersih-bersih sampah di Pantai Pede, Labuan Bajo, NTT. (Bintang Pradewo/ JawaPos.com)

Di tempat berbeda, Sustainable Development Director Danone Indonesia Karyanto Wibowo mengatakan perlu adanya solusi dari masalah sampah plastik yang ada di lautan. Untuk itu pengelolaan sampah plastik perlu dilakukan bersama sama dengan berbagai pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta, LSM, maupun masyarakat.

Danone AQUA bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan menggagas Program Business Management Development Koprasi Serba Usaha (KSU) Sampah Komodo sejak 2018 yang lalu, sebagai bentuk kontribusi nyata dalam menyumbang solusi bagi permasalahan lingkungan khususnya sampah plastik di Labuan Bajo.

“Konsumsi plastik Indonesia mencapai 5,32 juta ton per tahun. Jumlah ini relatif kecil dibanding Jepang yang mencapai 13,72 ton per tahun,” kata Karyanto Wibowo.

Menurutnya komitmen Danone AQUA terhadap penanganan sampah diwujudkan melalui penerapan Model Ekonomi Sirkular (Circular Economy). “Model ekonomi sirkular juga untuk mendukung program Pemerintah Republik Indonesia untuk mengurangi sampah plastik di laut sebanyak 70 persen pada tahun 2025. Komitmen tersebut telah mulai dijalankan sejak 1993 melalui program Aqua peduli,” katanya.

Karyanto mengatakan model ekonomi sirkular (Circular Economy/ CE) merupakan cara memberdayakan dengan penerapan teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas pemakaian sumber daya. “CE menjadi alternatif ekonomi linier tradisional (membuat, menggunakan, membuang) dengan menyimpan sumber daya yang digunakan selama mungkin, mengekstrak sumber daya tersebut, kemudian memulihkan dan meregenerasinya,” katanya.

Menurutnya, Danone Aqua menerapkan CE dengan menjadikan kemasan plastiknya sebagai sumber daya atau bahan baku yang dapat digunakan selama mungkin. Bagaimanapun, meski memiliki konsekuensi yang tak diinginkan, namun kemasan plastik adalah hal yang tak terhindarkan dari kehidupan. Namun, dengan dukungan inovasi teknologi, dampak buruk kemasan plastik dapat dihindari. Melalui prinsip daur ulang dan penerapan CE, sampah plastik dapat menjadi barang baru bernilai ekonomi.

Editor : Bintang Pradewo


Close Ads