alexametrics

Ke Perpustakaan Bung Karno, Djarot Ajak Gelorakan Pancasila sejak Dini

19 Juni 2022, 20:16:16 WIB

JawaPos.com- Ketua Badan Pengkajian MPR RI Djarot Syaiful Hidayat, Minggu (19/6) menyempatkan sambang ke Perpustakaan Bung Karno di Kota Blitar. Satu di antara destinasi wisata edukasi dan sejarah menarik. Perpustakaan itu tidak lain hasil inisiasi Djarot ketika menjabat Wali Kota Blitar.

Di Perpustakaan Bung Karno itu, Djarot juga menjadi narasumber dalam dialog kajian terhadap sistem ketatanegaraan UUD 1945 dan pelaksanaannya. Dalam kesempatan itu, Djarot mengajak agar segenap elemen bangsa Indonesia untuk aktif melawan setiap aksi intoleran. Sebab, perilaku tersebut menjadi ancaman persatuan dan kesatuan bangsa.

Salah satu cara yang bisa dilakukan dengan membekali generasi bangsa untuk menjalankan nilai-nilai Pancasila sejak usia dini. Selain itu, dengan terus mengenalkan keberagaman dan wawasan kebangsaan kepada anak-anak. “Praktiknya dalam lingkungan keluarga sendiri, saya tekankan pendidikan anak-anak sekolah nasional. Ini penting,” ungkap Djarot

Dialog itu diikuti guru kewarganegaraan Kota Blitar, para pelaku seni budaya, mahasiswa, dan pelajar. Selain Djarot, narasumber lain adalah Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto yang mengupas pelaksanaan Perda tentang Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. Tampak hadir mengikuti dialog tersebut, Ketua DPRD Kota Blitar Syahrul Alim dan sejumlah anggota DPRD Kabupaten dan Kota Blitar.

Djarot yang juga ketua DPP PDI Perjuangan menambahkan, cara ampuh membentuk karakter kebangsaan Indonesia bisa dijalankan melalui pendidikan. Baik pada anak usia dini, pendidikan formal, informal di keluarga maupun pendidikan nonformal. Pendidikan formal bisa dikerjakan para guru dan nonformal dilakukan oleh orang tua.

“Ini jadi tanggung jawab, kita semua. Saya titip benar soal pendidikan ideologi Pancasila. Kini, untuk belajar sejarah Pancasila, bisa ke Perpustakaan Bung Karno,’’ paparnya.

Namun, lanjut dia, hal itu rasanya belum cukup dan tidak bisa sendir. Harus ada gerakan terus menerus. Pengalaman di Jogjakarta seperti apa dengan kehadiran Perda tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan bisa diadoposi. ‘’Saya rasa bisa dikerjakan daerah lain, termasuk di Blitar,” kata Djarot.

Sementara itu, Eko Suwanto mengungkapkan, daerahnya memang kini telah menerapkan Perda Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaa. ’’Alhamdulillah kita punya Pancasila. Sinau Pancasila menancapkan karakter kebangsaan penting sekali,’’ ucap dia.

Hadirnya Perda Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan, kata Eko, bertujuan untuk menanamkan cinta Pancasila bagi semua. Apakah itu di lingkup pendidikan hingga aparatur sipil negara. ‘’Selain pendidikan formal, nonformal bisa dilakukan dengan pendidikan berbasis budaya,’’ kata politikus yang juga ketua DPC PDI Perjuangan Jogjakarta itu.

Dia menegaskan, keberadaan Perda tentang Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan menjadi satu langkah internalsasi dan pemantapan nasionalisme. Nah, salah satu sumber rujukan pembelajaran sejarah bisa didapatkan di Perpustakaan Bung Karno di Blitar. Sebab, perpustakaan itu menyimpan koleksi ribuan buku. Termasuk koleksi milik Bung Karno.

Pancasila itu lahir dari saripati kebudayaan Indonesia. Proses pembelajaran harus bersumber dari aslinya. Muatan materi dari risalah BPUPKI dan secara khusus pidato Bung Karno, 1 Juni 1945 dan pembukaan UUD 1945. ’’Ini sumber aslinya yang jadi rujukan pendidikan Pancasila,” tegasnya.

Hartono, kepala Perpustakaan Bung Karno, menyatakan, pihaknya sangat bangga atas keberadaan perpustakaan yang diinisiasi Djarot Syaiful Hidayat saat menjabat Wali Kota Blitar.

“Bung Karno milik semua. Kini, juga sudah ada auditorium. Bangga atas inisiator perpustakaan di masa Pak Djarot yang kini pengelolaan. Telah terintegrasi dengan Pemkot Blitar, ” katanya.

Di bulan Bung Karno, Juni ini ada kegiatan sebanyak 25 kali di perpustakaan. Di antaranya, Grebeg Pancasila, pameran inklusi sosial diikuti peserta dari berbagai daerah. “Bangsa yang besar, seperti kata Bung Karno, adalah bangsa yang tidak meninggalkan sejarah,’’ ungkap Hartono.

Dia memaparkan, setelah 20 tahun lalu berdiri Perpustakaan Bung Karno, kini ada auditorium dan koleksi buku 243 ribu ditambah 640 koleksi khusus Bung Karno. ’’Kunjungan 720 orang per hari. Sebelum Hari Raya mencapai 2.000 orang. Kunjungan banyak dari masyarakat,” pungkas Hartono.

Editor : M. Sholahuddin

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads