JawaPos Radar

Pelayaran di Danau Toba Belum Sesuai Prosedur

19/06/2018, 12:26 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
KM Sinar Bangun
Warga menyaksikan proses evakuasi korban KM Sinar Bangun. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - KM Sinar Bangun karam di Danau Toba, Senin (18/6) sore. Penyebabnya diduga kelalaian dari pengelola kapal. Saat musim liburan, mereka kerap kali mengangkut penumpang berlebih demi keuntungan.

Insiden karamnya KM Sinar Bangun sekaligus menunjukkan bahwa standar transportasi penyebrangan di Danau Toba memang masih sangat rendah. Bahan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) menyebutkan, rata-rata transportasi penyeberangan danau tidak sesuai prosedur. Sehingga kapal tidak memiliki manifes atau data penumpang.

"Seharusnya naik kapal, terlebih dahulu membeli tiket dengan disertai asuransi. Jadi manifestnya ada. Kalau ferry di Danau Toba sudah memiliki tiket dan menjalani pelayaran sesuai dengan standart pelayaran," kata Direktur Keuangan, Umum dan Publikasi Publik‎ BPODT John M Situngkir, Selasa (19/6).

Selama ini, yang belum punya standar operasional adalah kapal milik perorangan. Ke depan, BPODT akan melakukan sosialisasi untuk standar pelayaran di Danau Toba.

"Kapal-kapal milik masyarakat yang kapal kayu itu. Saya naik kapal itu kemudian berlayar. Saat belayar, baru ditarik biayanya dan dikasih karcisnya. Seharusnya sebelum berangkat sudah didata penumpang melalui tiket," ujarnya.

Kejadian nahas itu harus dijadikan evaluasi bagi semua pihak penyedia jasa penyeberangan untuk memikirkan keselamatan penumpang. Selama ini, mereka hanya memikirkan untuk mencari keuntungan semata. Bahkan untuk penyediaan pelampung saja sangat minim.

"Itu semua untuk lebih baik. Kalau Kementerian Pariwisata umumnya sudah melakukan sosialisasi bersama dengan Kementerian Perhubungan. Termasuk Kapal Ferry sendiri. Antisipasinya, untuk tertata lebih baik transportasinya di Danau Toba," pungkasnya.

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up