alexametrics

Deforestasi Hutan Harapan Mengancam Habitat Harimau dan Gajah

19 Maret 2019, 17:17:12 WIB

JawaPos.com – Hutan Harapan seluas 98 ribu hektar yang berada di Sumatera Selatan (Sumsel) dan Jambi saat ini mulai terdeforestasi. Deforestasi ini, disebabkan pembalakan liar (ilegal logging) serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi pada tahun 2015 lalu.

Akibatnya, habitat yang berada di dalam hutan harapan pun terancam terusir diantaranya, harimau; gajah; dan lain sebagainya.

Direktur Operasional PT Reki, Adam Azis mengatakan, saat ini dari total luasan Hutan Harapan seluas 98.555 hektar, yang sudah deforestasi mencapai 20 ribu hektar. Dengan rincian, 2 ribu hektar di wilayah Sumsel, sedangkan 18 ribu hektar di wilayah Jambi.

Menurutnya, adanya Ilegal logging dikarenakan ulah manusia. salah satu faktor lainnya dikarenakan adanya akses jalan. Hal ini terlihat di wilayah Jambi.

Sedangkan di Sumsel, hanya melalui akses sungai. Sehingga pembalakan liar pun tidak terlalu banyak. “Jika ini terus terjadi, maka tentunya mampu mengancam habitat yang ada di dalam kawasan hutan harapan tersebut,” katanya saat ditemui, Selasa (19/3).

Karena itu, saat ini pihaknya menolak keras usulan pembangunan jalan batubara sepanjang 31.8 kilometer yang melintasi kawasan hutan harapan tersebut.

Ia mengaku, dengan dibangunnya jalan batubara, maka peluang deforestasi ini semakin besar karena memberikan mereka akses jalan untuk mengeluarkan kayu di dalam hutan.

Padahal, Hutan Harapan ini harus dijaga. Apalagi disana banyak habitat. Berdasarkan data di lapangan, habitat yang ada yakni harimau sebanyak 29 ekor; gajah sebanyak 8 ekor; burung; tapir dan lain sebagainya masih banyak berkeliaran.

“Jadi kami harap, usulan pembangunan jalan batubara ini ditolak oleh kementerian,” ujarnya.

Kalau pun memang ingin membangun jalan, maka harus diluar kawasan hutan harapan. Ia mengaku, usulan pembangunan jalan batubara ini sudah lama dan sempat ditolak.

Namun, usulan ini kembali masuk. Ia menduga ada maksud tertentu untuk membangun jalan batubara ini. Karena sangat ingin melintasi hutan harapan.

Karena itu, ia berharap Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tidak mengeluarkan rekomendasi kelayakan lingkungan terhadap usulan tersebut.

“Kami PT Reki ini sudah sepuluh tahun melakukan restorasi Hutan Harapan ini. Kalau dibangun jalan maka akan sia-sia,” singkatnya.

Sementara itu, Direktur Riset dan Kampanye Hutan Kita Institute (HaKI), Adiosyafti menambahkan, pihaknya juga menolak pembangunan jalan batubara yang melintasi Hutan Harapan ini.

Karena, Hutan Harapan merupakan representasi dari 20 persen hutan dataran rendah yang tersisa di Indonesia, dengan keanekaragaman hayatinya masih luar biasa.

“Kalau jalan batubara ini dibangun di dalam Hutan Harapan, maka semuanya akan habis,” katanya.

Selain itu, pembangunan jalan batubara ini juga mampu menimbulkan konflik antar masyarakat dan lain sebagainya. Saat ini, ia mengaku ada 8 kelompok yang ada di dalam Hutan Harapan. Diantaranya kelompok suku anak dalam, dan kelompok batin sembilan.

“Jadi kami sangat menolak adanya pembangunan jalan di kawasan tersebut. Apalagi, di Hutan Harapan ini banyak pohon-pohon terbaik seperti meranti; unglen; dan burian,” tutupnya.

Editor : Budi Warsito

Reporter : Alwi Alim

Copy Editor :

Deforestasi Hutan Harapan Mengancam Habitat Harimau dan Gajah