alexametrics

Curah Hujan Ekstrem di Jayapura

Korban Meninggal 83 Orang
19 Maret 2019, 11:15:28 WIB

JawaPos.com – Korban banjir bandang di Kabupaten Jayapura bertambah. Kemarin (18/3) tim gabungan yang terdiri atas anggota TNI, Polri, dan Basarnas serta masyarakat kembali menemukan 17 jenazah. Dengan demikian, hingga pukul 21.30 WIT, total korban tewas mencapai 83 orang.

Kabidhumas Polda Papua Kombespol A.M. Kamal menjelaskan, di antara 83 jenazah yang ditemukan, 66 jenazah dievakuasi ke RS Bhayangkara untuk diidentifikasi. “Hingga saat ini baru 26 jenazah yang teridentifikasi oleh tim DVI RS Bhayangkara dan telah diserahkan kepada pihak keluarga. Sisanya masih dalam proses identifikasi,” katanya di RS Bhayangkara kemarin.

Kamal menambahkan, tim gabungan TNI-Polri beserta Basarnas terus melakukan upaya pencarian di sembilan lokasi yang terkena dampak banjir bandang dan tanah longsor di Sentani, Jayapura. “Tidak tertutup kemungkinan masih ada korban tambahan. Kami juga berharap, apabila ada masyarakat yang merasa kehilangan (anggota keluarga, Red), segera laporkan kepada petugas terdekat,” tuturnya.

Curah Hujan Ekstrem di Jayapura
Pesawat terseret banjir bandang di Jayapura, Minggu (17/3). (Robert-Mboik/Cenderawasih Pos/Jawa Pos Group)

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Jayapura selaku Humas Posko Induk Banjir Bandang Kabupaten Jayapura Doddy Sambodo Samiyana mengungkapkan, saat ini jumlah pengungsi 1.797 KK atau 5.725 jiwa. Mereka menempati sejumlah titik lokasi pengungsian.

Untuk memulihkan kondisi di wilayah terdampak, pihaknya mengerahkan 12 ekskavator guna membersihkan material yang berserakan di jalan raya. Sementara itu, personel yang diterjunkan berjumlah 1.613 orang.

Dari Jakarta, Kapusdatin dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa curah hujan yang mengakibatkan banjir di sejumlah wilayah di Jayapura memang ekstrem. Mencapai angka 248 milimeter yang jatuh selama kurun waktu tujuh jam. “Ini sama dengan rata-rata curah hujan sebulan,” katanya.

Curah hujan ekstrem tersebut turun merata di wilayah cagar alam Cycloop (Pegunungan Dobonsolo/Robhong Holo). Sutopo menjelaskan, kawasan hulu itu sejatinya sudah mengalami perambahan lahan sejak 2003. Daerah tangkapan air (DTA) banjir juga tercatat digunakan sebagai permukiman dan lahan pertanian kering campur seluas 2.415 hektare.

Penebangan pohon rata-rata dilakukan untuk pembukaan lahan, kebutuhan kayu hunian, maupun lahan pertanian. Ada juga beberapa lokasi tambang galian C. Kondisi topografi juga menjadi faktor penyumbang terjadinya banjir. Kontur di hulu Pegunungan Cycloop berlereng curam dengan komposisi batuan penyusun yang mudah terkikis.

Sejauh ini BNPB mencatat sembilan kelurahan yang terdampak banjir bandang. Meliputi Kelurahan Dobonsolo, Hinekombe, Hobong, Ifale, Ifar Besar, Keheran, Sentani Kota, Sereh, dan Yobhe. Tiga kelurahan mengalami kerusakan parah, yakni Dobonsolo, Doyo Baru, dan Hinekombe. “Data ini masih sementara dan bisa mengalami perubahan,” ujarnya.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, hingga dua minggu ke depan, Polda Papua berfokus membantu proses evakuasi dan penyaluran bantuan kemanusiaan. “Tapi, setelahnya akan dilihat perlukah langkah mengetahui penyebab banjir tersebut,” ujarnya.

Dedi mengakui, ada informasi mengenai penyalahgunaan lahan yang menjadi serapan air. Nanti perlu dikaji apakah ada keterkaitan antara penyalahgunaan tersebut dan bencana banjir. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (kim/bet/eri/nat/tau/idr/c9/fal)

Curah Hujan Ekstrem di Jayapura