alexametrics

Aliran Kiamat Ponorogo Viral, Jual Harta Benda Dijamin Masuk Surga

19 Maret 2019, 12:05:02 WIB

JawaPos.com – Geger isu kiamat di Jawa Timur ternyata masih banyak dipercaya sebagaian orang. Tercatat sudah ada 52 warga Ponorogo yang memilih pindah ke Malang. Mereka adalah jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah, Pondok pesantren Kasembon Malang.

Para jamaah itu pindah dengan alasan kiamat sudah dekat. Saking percayanya mereka bahkan rela menjual harta benda yang diklaim sesuai perintah kiai di ponpes itu. Meski sudah ada imbauan bahwa isu kiamat namun hal itu tidak pernah digubris jamaah.

Salah satu buktinya, Khoirul warga Desa Tatung, Kecamatan Balong, Ponorogo. Ia mengaku ditinggal keluarganya sendiri karena mereka memilih pindah ke Malang. Sejak 10 hari lalu bapak dua anak ini ditinggal 7 anggota keluarganya. Yakni, Paijem istri, anak Ahmad Sholikin dan Suratno, serta dua menantu dan dua cucunya.

Sebelum hijrah ke Ponpes Malang, dua anak Khoirul yakni Ahmad Sholikin dan Suratno sudah tiga bulan menjadi pengikut jamaah Thoriqoh Akmaliyah Ash Sholihiyah di Ponpes Kasembon Malang.

“Dalam keseharian tidak ada yang nyeleneh dalam tingkah laku kedua anak saya,” ujar pria yang kini sudah berusia 55 tahun itu.

Namun, dalam tiga hari sebelum berangkat ke Ponpes Malang, kedua anak Khoirul telah menjual dua truk dan mobil, serta hewan ternak miliknya. Lalu mendadak pada 6 Maret lalu, kedua anaknya, menantu dan istrinya memaksa Khoirul untuk menjual rumah dan tanah untuk pindah ke Ponpes Malang.

“Saya merasa keberatan untuk menjual rumah dan tanah, dan memutuskan untuk tetap tinggal di rumah, meski sempat dirayu jika hijrah di Ponpes Malang, nanti akan bisa masuk surga,” kata Khoirul.

Lebih lanjut Khoirul juga berharap kepada Pemerintah Ponorogo dan kepolisian untuk turun tangan agar keluarganya bisa kembali untuk ke Ponorogo. “Ya mesti disadarkan,” ujarnya.

Sementara itu, Radar Jombang (JawaPos Grup) berhasil mendatangi Sajidin, 40 warga Dusun Jemparing, Desa Pakel Kecamatan Bareng, masih kekeh dengan keinginannya untuk boyongan pindah ke Kasembon, Malang. Dia sempat menawarkan rumahnya dengan harga murah seperti keyakinan jamaah Thoriqoh Akmaliyah lainnya. Namun setelah tak mendapat restu dari sang ibu, ia gagal berangkat.

Ditemui di rumahnya, Sajidin masih melakukan aktivitas seperti biasa. Dia tampak kelelahan sepulang dari sawah mencari rumput untuk pakan sapinya. ”Ini baru pulang dari sawah,’’ ujar dia dengan raut muka kaget.

Dari penuturannya, saat ditanya tentang niatnya boyongan ke Kasembon Malang, Sajidin mengaku jamaah Thoriqoh Akmaliyah di Ponpes Miftahu Falahil Mubtadiin Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang sejak satu tahun lalu.

Sesuai amanat Gus Romly, (kiai Agus Muhamad Romli Sholeh) pengasuh ponpes tersebut, dia ingin berhijrah domisli ke Kasembon. ”Namun setelah saya izin berkali-kali sama emak tidak diijinkan,’’ terangnya.

Dijelaskan, tidak menaati perintah dan amanat pengasuh ponpes adalah tindakan salah dan bisa berdosa. Namun setelah dia mikir-mikir tidak menaati perintah orang tua dan meninggalkan orang tua adalah lebih berdosa. ”Saya takut kalau saya tinggal disini sendirian nanti gimana ibuk saya. Akhirnya saya sadar dan tidak pindah,’’ jelas dia.

Sebelumnya, dia sempat sudah menawarkan rumahnya dengan harga murah. Gara-gara menawarkan rumahnya yang murah itu pun dia sempat dimarahi oleh ibunya. Akhirnya hingga sekarang rumah tersebut belum laku. ”Sampai sekarang belum ada yang nawar,’’ tambahnya.

Ditanya tentang isu kiamat, Sajidin dengan sadar membantah. Isu kiamat yang sempat santer mencuat ke permukaan itu sebenarnya bukan kiamat. Namun banyak kejadian yang beberapa tahun terakhir, ciri-cirinya menandakan kiamat. ”Jadi bukan kiamat, saya tidak paham dengan apa yang dikatakan orang orang, karena sebenarnya bukan kiamat. Namun tanda-tandanya saja yang sudah banyak,’’ tuturnya.

Sajidin mengaku, selama setahun menjadi jamaah Thoriqoh Akmaliyah setiap Sabtu dan Minggu sering mengikuti pengajian disana. ”Ya sama cuma ikut ngaji saja, membaca Alquran,’’ pungkasnya. 

Sementara itu, Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meminta kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama Kanwil Kemenag Jatim segera turun melakukan investigasi terkait isu kiamat sudah dekat.

Dia meminta ada investigasi terkat adanya puluhan warga Desa Watu Bonang Kecamatan Badegan Kabupaten Ponorogo, yang bedol desa karena alasan yakin akan kiamat.

Menurut Khofifah, fenomena ini sangat memprihatinkan sebab puluhan warga sampai harus pindah dengan alasan kiamat sudah dekat. “Saya meminta segera turun ke lapangan melakukan investigasi dan mencari pokok persoalan atas kejadian ini,” tegasnya.

Seperti di beritakan ada 16 kepala keluarga yang terdiri dari 52 warga Ponorogo meninggalkan desa dengan alasan tidak jelas. Mereka sampai menjual harta benda dan rumah untuk pindah ke Malang karena isu kiamat sudah dekat.

Editor : Dimas Ryandi

Copy Editor :

Aliran Kiamat Ponorogo Viral, Jual Harta Benda Dijamin Masuk Surga