alexametrics

Ridwan Kamil Minta Kepala Daerah Penyintas Covid-19 Donor Plasma Darah

19 Januari 2021, 16:30:16 WIB

JawaPos.com–Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mendorong dan meminta para kepala daerah dan pejabat publik penyintas Covid-19 mendonorkan plasma darah. Sebab, plasma tersebut untuk membantu pasien positif korona yang masih dirawat di rumah sakit.

”Ada gerakan donor plasma konvalesen. Saya imbau kepada ribuan orang yang sembuh di Jabar, kami dengan sangat memohon menyumbangkan plasma darahnya untuk digunakan bagi penyembuhan pasien yang masih berjuang karena Covid-19. Mudah-mudahan kampanye donor plasma konvalesen ini bisa berhasil di Jabar,” kata Ridwan Kamil seperti dilansir dari Antara di Bandung, Selasa (19/1).

Saat ini, minat penyintas Covid-19 menyumbangkan plasma darahnya tergolong rendah. PMI mencatat jumlah calon pendonor plasma darah hanya lima hingga 10 persen dari total jumlah pasien yang sembuh secara nasional. Beberapa kepala daerah yang terkonfirmasi positif Covid-19 seperti Wali Kota Bogor, Wakil Wali Kota Bandung, Bupati Karawang, Bupati Bogor, Wali Kota Bandung, dan terbaru Bupati Bandung Barat. Selain itu, Sekda Kota Bogor pun diketahui terkonfirmasi dan masih banyak pejabat publik setingkat eselon II.

”Bagi kepala daerah atau pejabat publik yang memenuhi syarat, seperti tidak ada komorbid, belum pernah hamil, dan positifnya bergejala, saya dorong untuk mendonorkan plasma darahnya. Rakyat itu kan bagaimana pemimpin. Kalau pemimpinnya kasih contoh baik, insya Allah masyarakat pun akan ikut. Dulu pas uji klinis peminatnya sedikit, tapi setelah saya dan forkopimda daftar, relawan malah membeludak. Kemarin vaksin, pejabat publik pun memulainya agar masyarakat juga ikut,” ujar Ridwan Kamil.

Saat pandemi, menurut Gubernur Jabar, pemimpin harus menanamkan empati dan solidaritas di masyarakat. ”Bagaimana caranya? Jadilah contoh, jadilah panutan. Jangan justru memunculkan preseden buruk,” tutur Ridwan Kamil.

Sementara itu, Ketua Komunitas Pendonor Plasma Darah Ariani menjelaskan, terapi plasma darah dapat menjadi alternatif penyembuhan terbaik bagi pasien positif, di tengah belum ditemukannya obat Covid-19 dan vaksinasi yang baru dimulai. Terapi plasma darah dipakai dokter di Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang. Berdasar penelitian, plasma darah dapat meningkatkan angka kesembuhan pasien positif dengan derajat berat 95 persen sembuh dan derajat kritis 59 persen sembuh.

”Intinya semuanya masih dalam taraf penelitian, tapi menjanjikan di saat belum ada obat pasti,” kata Ariani.

Menurut Ariani, saat ini minat penyintas Covid-19 untuk mendonorkan plasma darahnya masih rendah, sementara permintaan sangat tinggi. Padahal tidak semua PMI melayani donor plasma darah. Jika ada, tidak membuka pendaftaran secara sukarela tapi berdasar permintaan dari rumah sakit. Jika tidak ada permintaan, PMI tidak akan mencari pendonor.

Ariani menjelaskan, minat penyintas Covid-19 mendonorkan plasma darahnya rendah disebabkan beberapa hal. Di antaranya karena mereka tidak tahu dan malas ke PMI.

”Kita tidak bisa memaksa. Donor sifatnya hanya sukarela. Penyebab lain karena ada stigma sehingga penyintas banyak yang merasa malu atau tidak mau ditampilkan jika mendaftar jadi pendonor plasma, nanti takut dikucilkan,” tutur Ariani.

Rendahnya donor plasma pun dapat disebabkan banyak penyintas yang sebetulnya sudah bersedia jadi pendonor, tapi setelah dites kesehatan ternyata tidak memenuhi syarat. Contohnya, saat positif yang bersangkutan terkategori orang tanpa gejala, atau perempuan yang pernah hamil.

”Perempuan yang pernah hamil itu punya antigen HLA dan HNA, kalau plasma darahnya didonorkan akan terjadi penolakan dari penerima,” jelas Ariani.

Ariani menyambut baik ide bahwa kepala daerah dan pejabat publik penyintas Covid-19, mau mendonorkan plasma darahnya. ”Baik banget itu. Pejabat publik bisa jadi influencer,” ujar Ariani.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Latu Ratri Mubyarsah

Reporter : Antara




Close Ads