JawaPos Radar | Iklan Jitu

Laporan Langsung JawaPos.com dari Gowa (1)

Belum Ada Azan Lagi di Masjid Tempat Terbunuhnya Khaidir

18 Desember 2018, 20:29:35 WIB
pengeroyokan marbot masjid gowa
Masjid Nurul Yasin Jatia yang menjadi lokasi terbunuhnya Khaidir usai dikeroyok oleh sekelompok warga Kampung Jati, Kelurahan Mata Allo, Bajeng, Kabupaten Gowa. (Sahrul Ramadan/ JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com- Hidup Muhammad Khaidir harus berakhir dengan cara yang begitu memilukan, Senin pekan lalu (10/12). Nyawa mahasiswa berusia 23 tahun itu melayang usai menjadi bulan-bulanan warga di Kampung Jati, Kelurahan Mata Allo, Bajeng, Kabupaten Gowa.

Dia dituduh mencuri kotak amal oleh marbot Masjid Nurul Yasin Jatia. Padahal, dia hanya ingin beristirahat sejenak di masjid tersebut, setelah menempuh perjalanan dari Makassar dengan sepeda motor. Polres Gowa sendiri sudah menetapkan sepuluh orang sebagai tersangka pengeroyokan.

Video aksi main hakim sendiri itu juga sempat viral di media sosial. Bahkan Mahfud MD turut berkomentar melalui Twitter. Menurutnya, aksi main hakim sendiri dengan alasan apapun tidak dibenarkan, siapapun pelakunya.

pengeroyokan marbot masjid gowa
Lokasi pembakaran motor Khaidir oleh sekelompok warga Kampung Jati, Kelurahan Mata Allo, Bajeng, Kabupaten Gowa. (Sahrul Ramadan/ JawaPos.com)

Suasana Kampung Jati terasa begitu hening, Selasa (18/12). Saat JawaPos.com tiba di sana sekitar pukul 13.30 WITA, jalanan desa sangat lengang. Bahkan nyaris tidak ada satupun kendaraan yang melintas.

Pemandangan yang sama juga tersaji di Masjid Nurul Yasin Jatia. Sejak peristiwa memilukan itu hingga Selasa (18/12) subuh, memang tidak memungkinkan masjid itu dipakai salat. Sebab, sudah dilignkari garis polisi. Tidak ada yang bisa masuk.

Baru pagi tadi garis polisi dilepas dari masjid tersebut. Artinya, masjid bisa dipakai lagi untuk beribadah. Namun, sepertinya warga masih trauma dengan aksi brutal sekelompok orang yang menghakimi Khaidir.

Sama sekali tidak terdengar lantunan azan saat waktu Ashar tiba. Warga yang biasanya berbondong-bondong memenuhi masjid, hari ini masih memilih untuk salat di rumah masing-masing.

Salah seorang warga yang minta namanya diinisial, DW, mengatakan bahwa memang tidak terdengar azan sejak Subuh tadi. ”Duhur juga tidak ada azan. Masjidnya dikunci. Nggak tahu siapa yang bawa kuncinya,” katanya.

JawaPos.com memastikan keterangan DW tersebut. Pintu utama masjid memang tidak bisa dibuka. Dari balik pintu kaca, terlihat karpet-karpet sudah digulung dan diberdirikan di sudut masjid. Di sebelahnya terdapat mimbar dan gulungan kabel mikrofon berwarna merah transparan.

Lokasi masjid tepat berada di tepi jalan penghubung lintas Kabupaten, antara Gowa dan Takalar. Di sisi kanan masjid terhampar tanah kosong. Sedangkan di sisi sebelah kiri halaman masjid, terdapat dua rumah semi permanen. Tedapat lorong kecil di sela-sela dua unit rumah tersebut. 

Lorong sempit yang lebarnya sekitar 1,5 meter itu yang menjadi jalur penghubung utama warga Kampung Jati menuju ke masjid. Tak jauh dari sana, tampak dua orang ibu rumah tangga sedang membersihkan pelataran. Saat JawaPos.com memperkenalkan diri, mereka mengambil jarak.

JawaPos.com kemudian bertemu dengan Daeng Tene, salah seorang warga yang rumahnya berada persis di belakang masjid. Dia mengakui, kondisi kampungnya memang mendadak senyap usai peristiwa seminggu lalu. ”Kemarin-kemarin tidak begini, biasanya agak ramai. Mungkin ya karena kasus di masjid itu,” ceritanya.

Sayangnya, dia enggan bercerita lebih jauh bagaimana kondisi sejumlah warga di kampungnya, sebelum dan setelah penganiayaan yang berujung pada kematian Khaidir. Dia juga tidak mau menyebutkan di mana tempat tinggal sang marbot dan warga lain yang ikut mengeroyok korban.

JawaPos.com kemudian mencoba menelusuri rumah marbot dengan bertanya kepada warga lainnya. Terutama mereka yang tinggal berdekatan dengan masjid.

Warga mengarahkan agar mengunjungi rumah Daeng Alle, Ketua RT di Kampung Jati. Oleh warga setempat, ia dianggap sebagai tokoh kampung sekitar. Namun saat disambangi di rumahnya, keluarga mengatakan bahwa Daeng Alle sedang tidak berada di tempat. 

JawaPos.com mencoba bertanya ke warga lainnya. Ketemulah dengan seorang lelaki bernama Dewasa. Dia tidak tahu di mana rumah para pengeroyok. "Kurang tahu di mana tempat tinggalnya. Sepengetahuan saya, mereka (pengeroyok Khaidir, Red) memang lebih banyak di dalam masjid,” ucapnya.

Dewasa juga masih ketakutan saat ditanya soal kronologi pengeroyokan itu. Dia mengakui bahwa sang marbot berteriak lewat pengeras suara. Namun dia tidak mendengarnya.  ”Waktu teriakan malam-malam katanya ada, tapi kami tidak pernah dengar. Pagi-paginya baru kami tahu kalau ada kejadian di dalam," ujarnya.

Dia mengarahkan, jika ingin mendapatkan informasi tambahan, bisa langsung ke kantor Kelurahan Mata Allo. Ditemui di kantornya, Lurah Mata Allo Hasanuddin mengatakan, tak begitu banyak mengetahui terkait identitas jelas warganya yang menjadi tersangka pengeroyokan dalam masjid. Hasanuddin mengaku, bahwa proses hukum, sepenuhnya telah ditangani pihak kepolisian.

"Saya juga sebenarnya baru di sini. Baru satu tahun. Jadi warga yang di dalam (Kampung Jati), saya tidak terlalu kenal. Saya baru tahu kalau ada kejadian saat pagi harinya, sampai banyak polisi. Sekarang kan sudah ada di kantor polisi, jadi mungkin bagus kalau langsung dari polisi," ungkap singkat Hasanuddin.

Wakapolres Gowa Kompol Muhammad Fajrin menjelaskan, masyarakat di Kampung Jati cenderung tertutup setelah ada penetapan sepuluh orang tersangka. "Jadi kami memang sempat memeriksa puluhan saksi, agak susah juga untuk mendapatkan keterangan mereka. Mereka takut akan dijadikan tersangka,” jelasnya.

Sesaat sebelum pengeroyokan terjadi, salah satu tersangka, marbot masjid berinisial RDN menyampaikan kepada warga kampung sekitar melalui pengeras suara. Dia woro-woro bahwa ada seorang pencuri yang menyatroni masjid. Kejadiannya sekitar pukul 02.00 dini hari.

Beberapa menit kemudian, warga yang mendengar teriakan tersebut, berbondong-bondong menghampiri sumber suara di dalam masjid. "Jadi hasil penyidikan, para tersangka berbondong-bondong menuju ke masjid melalui jalur lorong tersebut," jelas Fajrin. 

Fajin menambahkan, garis polisi telah  dilepas dari masjid. Barang-barang yang berserakan saat kejadian itu sudah dibersihkan dan diperbaiki.. "Sudah kami buka garis polisinya tadi pagi. Tapi tetap saja seperti tidak ada aktifitas apa-apa, mungkin masih khawatir kalau masjid mau dipakai lagi. Padahal kan sudah tidak apa-apa, sudah bisa digunakan untuk ibadah,” tambah perwira polisi dengan satu melati di pundak itu.

Pengeroyokan itu berawal saat korban singgah di masjid. Khaidir sebenarnya hendak pulang ke kampung halamannya, di Selayar.

Lantaran pintu masjid terkunci, korban kemudian mengetuk rumah salah seorang penduduk bernama YDS. Rupanya, YDS mengira korban hendak mengancam. YDS lalu melaporkan korban ke RDN, marbot masjid.

RDN yang mendapat informasi tersebut langsung mengumumkan menggunakan pengeras suara masjid. Dia menuding Khaidir hendak mencuri. Hal itu memantik warga lainnya berdatangan menuju ke masjid. Mereka menghajar korban habis-habisan. Tak hanya itu, motor korban yang terparkir di halaman masjid ikut dibakar.

Dua di antara 10 tersangka masih berusia di bawah 17 tahun. Delapan tersangka yang sudah dewasa antara lain RDN, 47, marbot masjid; ASW, 26; HST, 18; IDK, 52; SDS, 53; INA, 24; YDS, 49; dan HDL, 54. Saat ini mereka sudah dijebloskan ke dalam tahanan. 

Khusus 2 tersangka di bawah 17 tahun, ditangani khusus oleh tim pendamping Polres Gowa. Sedangkan 8 sisanya dijerat pasal 170 KUHP ancaman pidana minimal 12 tahun penjara. 

Editor           : Dida Tenola
Reporter      : (rul/JPC)

Alur Cerita Berita

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up