JawaPos Radar

Polling Pilpres Ketua ORI Sumut Masih Menjadi Polemik

18/10/2018, 23:25 WIB | Editor: Budi Warsito
Polling Pilpres Ketua ORI Sumut Masih Menjadi Polemik
Kepala Perwakilan ORI Sumut, Abyadi Siregar. (Prayugo Utomo/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Polling Pemilihan Presiden (Pilpres) yang diposting Kepala Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan  Sumatera Utara (Sumut), Abyadi Siregar kembali mencuat. Advokat muda Wili Erlangga menganggap,  Abyadi tidak menunjukkan independensinya sebagai pejabat publik.

Menurut Wili, Abyadi sudah menuai polemik ditengah publik. Karena Abyadi tidak bisa dipisahkan sebagai pribadi dan selaku pejabat publik. “Terus terang menurut saya selama kepemimpinan Abyadi Siregar ini, Ombudsman kurang begitu mendapat tempat dihati para pencari keadilan untuk menyelesaikan permasalahannya. Karena terkesan kepemimpinan Abyadi ini, adalah pencitraan media saja. Sehingga butuh penyegaran di internal Ombudsman Sumut ini dengan pencopotan Abyadi dari jabatan Kepala Perwakilan itu," kata Wili lewat keterangan tertulis yang diterima Kamis (18/10).

Dia melanjutkan, Abyadi harusnya bisa menahan diri dalam penggunaan media sosial. "Bahwa memang seharusnya pejabat publik mengetahui tupoksinya dalam menjabat, jangan sembarangan saja melakukan sikap. Walau beliau di dalam media sosialnya mengatasnamakan diri sebagai pribadi, tetap tidak boleh, karena jabatan sudah melekat di dirinya sendiri. Sehingga beliau seharusnya menahan diri agar tidak terjadi polemik seperti saat ini, dan hal ini akan kita serahkan kepada pihak yang berwenang untuk itu apakah beliau harus mundur dari jabatannya atau dicopot," ujarnya.

Selain itu Wili mengatakan bahwa, apabila sikap tidak netral dari pejabat publik tersebut terus dibiarkan seperti saat ini, akan menjadi contoh yang tidak baik bagi kalangan lainnya. "Sebenarnya, akibat sikap tidak netral yang dilakukan oleh Ketua Ombudsman Sumut, takutnya masyarakat menjadi pesimis dengan lembaga ombudsman ini. Menurut saya Ombudsman harus tetap menjadi lembaga yang mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik seperti awal dibentuk dan tetap netral,” tandasnya.

Namun, pernyataan itu berbanding terbalik dengan pendapat Rurita Ningrum, Direktur Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA). Rurita mengakui bahwa, selama kepemimpinan Abyadi, ORI Sumut dinilai profesional dalam menangani kasus-kasus pengaduan dari masyarakat, civil society dan NGOm

“Beliau kooperatif. Di luar jam kerja pun beliau meluangkan waktu,” kata Rurita Ningrum.


Dalam kinerjanya, Abyadi juga kerap melakukan sosialisasi peran Ombudsman dan pelayanan publik. Kerjasama dengan FITRA juga berjalan dengan baik.


"Kalau yang bersama FITRA Sumut, kita fokus terhadap pelayanan publik. Bagaimana kabupaten/kota atau Pemda memiliki sistem terhadap pelayanan pengaduan," kata Rurita.

Rurita mengungkapkan, FITRA dan para jejaring Ombudsman Sumut sudah mendengar langsung penjelasan Abyadi, bahwa status di media sosialnya itu tidak ada tujuan politik sama sekali.

“Salah satu hal yang kita lihat langsung (kinerjanya) itu misalnya di Kota Medan, salah satu daerah terbaik di Sumut yang memiliki kanal pengaduan LAPOR, MRK dan SMS Center. Begitu juga dengan Kabupaten Deliserdang dan Pemprov Sumut, juga mengalami perbaikan dengan survey pelayanan publik yang dilakukan Ombudsman," tandasnya.

Rurita menambahkan, saat ini FITRA dan Ombudsman Sumut lebih intens kerjasama dalam menguatkan layanan pengaduan di Kota Medan.

Sementara itu, soal Abyadi yang di laporan ke Bawaslu Sumut juga sudah terjawab. Ketua Bawaslu Sumut, Safrida R Rasahan mengatakan, pihaknya sudah memproses sesuai prosedur. Permasalahan itu pun sudah dihentikan prosesnya.

"Untuk pelanggaran Pemilunya tidak terbukti," kata Safrida.

Bawaslu sudah menyerahkan permasalahan itu ke ORI Pusat. Sementara itu, Abyadi juga sudah memberikan klarifikasi ke Bawaslu Sumut. Abiyadi yang merupakan mantan jurnalis harian terbitan Medan itu pun mengherankan desakan pencopotan dirinya. Karena, selama ini dia menganggap kinerjanya  dalam pengawasan pelayanan publik cukup baik. 

"Ada motif yang tidak baik dari rangkaian kegiatan ini. Ini tantangan bagi saya yang selama ini mengawasi pelanggaran publik bersama kawan-kawan media," tandasnya. 

(pra/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up