alexametrics

Pengungsi Korban Perkosaan, Psikolog: Berikan Dia Kenyamanan

18 Oktober 2018, 17:06:15 WIB

JawaPos.com – Kasus perkosaan menimpa pengungsi korban gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng). Korban berinisial SH, 7, yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Sedangkan pelakunya berinisial MI, 14. Aksi bejat itu terjadi di Perumahan BTN Bumi Permata Sudiang (BPS) 1, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Psikolog anak Dr Asniar Khumas memberikan perhatian serius pada kasus tersebut. Dia menekankan, penanganan terhadap kondisi mental korban harus segera dilakukan. Sebab pemulihan psikologis adalah hal yang paling mendasar dan utama.

“Langkah yang paling penting dan sederhana untuk dilakukan adalah menciptakan suasana yang menyenangkan, menggembirakan dan membahagiakan. Makanya terus terang, mohon untuk pendampingnya jangan dulu terlalu banyak prosedur yang diberikan. Dampingi, berikan dia kenyamanan. Suasana harus aman,” tegas Asniar saat berbincang dengan JawaPos.com di Makassar, Kamis (18/10).

Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan menyediakan sarana bermain. Sarana itu akan menjadi pengalaman tandingan yang bisa bertahan. Bahkan sangat tepat untuk melampiaskan kecemasan korban usai kejadian.

“Harus ada alat bermain, alat gambar yang dia bisa gunakan untuk melupakan apa yang terjadi. Kalau dia kelihatan sedih, bawa dia pergi berwisata. Bawa dia pergi ke situasi-situasi di mana dia bisa merasa excited, bahagia. Setidaknya itu akan membuat dia lupa segalanya. Harus ada kondisi tandingan yang membuat dia lupa dengan apa yang sudah terjadi sebelumnya,” ulas doktor dalam bidang psikologi anak dan keluarga itu.

Berkaca dari pengalaman penanganan beberapa kasus, anak-anak yang pernah menjadi korban pelecehan di masa kecil mesti diperlakukan selayaknya teman bermain. Bukan sebagai orang dewasa yang memberikan berbagai aturan.

“Kalau bisa menciptakan kondisi yang terbalik dengan keadaan yang dialami sekarang, maka anak perlahan menerima. Ada rasa aman di situ. Ada rasa nyaman. Maka dia akan lupa. Dia akan bangkit menjadi orang yang lebih baik. Bahkan lebih sukses dari anak yang tidak pernah mengalami pelecehan atau perundungan. Ini serius,” tukasnya.

Korban mesti dijauhkan dari berbagai macam tekanan luar. Seperti saat korban harus diperiksa ke sana ke mari, dites ke sana ke mari, bahkan di mintai keterangan. Kondisi itu yang justru akan menambah beban psikologis korban. Namun ketika diciptakan suasa tandingan, korban akan menerima dengan lapang.

“Perlahan itu akan menjadi suasa baru bagi dia. Kalau nyaman, sikapnya akan berubah drastis. Sebagaimana anak-anak seperti biasa. Lupa semuanya, yang diingat adalah bermain dan bergembira, “urai Asniar.

Apabila pendamping intens melakukan hal ini, tak butuh waktu lama bagi korban untuk merasa baik. “Seperti itu harusnya. Yakin dan percaya bahwa akan lebih baik ketika menciptakan kondisi terbalik, kondisi tandingan, itu yang paling penting dan mendasar,” pungkas Asniar.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : (rul/JPC)

Copy Editor :

Pengungsi Korban Perkosaan, Psikolog: Berikan Dia Kenyamanan