alexametrics

Cerita di Balik Penyekapan Tiga Bocah di Makassar

Lari Dik, Jangan Ikut Kakak
18 September 2018, 16:41:47 WIB

JawaPos.com – Sembari menutup ritsleting tas berwarna pink, FN berbisik ke seorang petugas. “Uang itu nanti saya akan kasih ke kakakku setelah ketemu,” kata upik (bocah perempuan) berusia 5 tahun itu.

AW, sang kakak, sempat menghilang setelah melarikan diri dari sebuah rumah toko (ruko) di Makassar, Sulawesi Selatan.

Tempat buyung (bocah lelaki) 10 tahun itu dan FN serta adik bungsu mereka, DV, 2, disekap dan dipaksa bekerja selama ini. Oleh si ibu angkat Gensel alias Memey.

Cerita di Balik Penyekapan Tiga Bocah di Makassar
Salah seorang bocah korban penyekapan orang tua ketika diselamatkan warga. (Istimewa)

Hingga kemarin keberadaan Memey belum diketahui. Sedangkan FN dan DV kini berada dalam perlindungan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Makassar. Sedangkan AW akhirnya berhasil ditemukan.

P2PT2A juga sudah melaporkan kejadian kaburnya tiga anak yang diduga korban penyekapan itu ke Polsek Panakkukang. Rencananya, hari ini mereka melapor ke Polrestabes Makassar.

Seperti dilansir Fajar (Jawa Pos Group), AW kabur terlebih dahulu setelah mencungkil gembok pintu harmonika ruko tiga lantai itu. Dia tidak membawa apa-apa. Hanya baju di badan. Adik angkatnya, FN, berusaha mengejar. Namun, setelah terpisah tiga ruko, FN kehilangan jejak AW.

Melihat kakaknya melarikan diri, DV juga keluar dari ruko. Saat di depan ruko, petugas sekuriti melihat dan menolong bocah itu. Warga setempat juga berusaha menolong FN. Meski begitu, dia berinisiatif kembali ke ruko dan bergegas mengambil pakaian di lantai atas. Satu pasang untuknya dan satu pasang untuk adiknya.

“Lari mako Dik (lebih baik kamu lari Dik, Red), jangan ikut sama saya. Supaya kalau saya didapat, kau tidak ikut didapat,” tutur FN seperti ditirukan Pattahari, salah seorang warga.

Pattahari melihat tiga anak tersebut keluar dari ruko di kawasan Kelurahan Pandang itu. Namun, adiknya menarik-narik hingga akhirnya AW berhasil melepaskan tarikan. “Saya berteriak sama sekuriti, tolong ambil itu anak-anak, nanti ditabrak. Saya lari dan menggendong anak yang perempuan dan sekuriti menolong anak yang paling kecil,” ungkap Pattahari kepada Fajar.

Kepada FN, Pattahari sempat bertanya mengapa melarikan diri. FN menjawab hanya ingin mencari kakaknya. Dia juga sudah tidak tahan. Ingin pergi meninggalkan ruko Gensel. “Kakak pergi cari tempat titipan,” ucapnya.

Sebelum kejadian kemarin, Pattahari mengaku pernah melihat anak tersebut berteriak di lantai 3. Sembari melambaikan tangan dan memegang perut. “Tapi, kami takut karena banyak barang berharga di dalam. Nanti disangka kami mau mencuri,” ungkapnya.

Informasi yang dihimpun dari Pattahari dan warga lain di sekitar ruko, tiga anak itu dipekerjakan sebagai pembantu. Tugasnya membersihkan kotoran dan memberi makan hewan serta mengepel lantai. Gensel dikenal warga berpembawaan cuek. Sudah lebih dari tiga tahun dia tinggal di ruko tersebut. Dia kerap keluar pagi dan kembali malam hari. Itu pun langsung menutup pintu. Tanpa menegur tetangga setempat.

Di ruko yang berlantai tiga, terdapat butik di lantai 1. Di lantai 2 banyak binatang seperti anjing dan kucing. Pernah juga ada ular. Tiga bocah malang tersebut menghuni lantai 3.

Lalu, siapa sebenarnya Gensel dan tiga bocah itu? Ketua RT 5 Kelurahan Pandang Nuraeni Daeng Sunggu, 39, mengaku tak pernah melihat keberadaan suami Gensel. “Tapi, waktu melapor ke RT dan RW, Gensel mengakui tiga anak itu bukanlah anak kandungnya,” ujar dia.

Belum bisa dipastikan apakah AW, FN, dan DV bersaudara kandung. Juga siapa orang tua kandung mereka. Menurut FN, DV merupakan anak seorang pembantu. “DV anaknya Mama Sinta yang diadopsi lagi sama Memey,” kata FN seperti ditirukan Kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Makassar Tenri Palallo.

Ini bukanlah insiden pertama yang melibatkan Gensel dan para bocah malang itu. Kasus pertama terjadi pada April 2017. Saat itu di Jalan Veteran AW dan FN dikurung di salah satu rumah kos. Mereka senantiasa menangis.

Ketika itu Gensel mengaku mendapatkan perlakuan kekerasan dari suami. Karena itu, PPPA Makassar ikut membela. Dia lalu didamaikan dengan suami.

“Jahat, seluruh tubuh anak ini bengkak bekas rokok, pukulan besi. Di kepala juga ada bekas pukulan,” kata Tenri.

Koordinator Divisi Pengaduan dan Reaksi Cepat P2TP2A Kota Makassar yang juga pemerhati anak Makmur Payabo menegaskan, kasus itu murni penyekapan. Bukan lagi anak ditinggal orang tua angkat. 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (gun/JPG/c9/ttg)

Cerita di Balik Penyekapan Tiga Bocah di Makassar