Laporan Wartawan JawaPos.com

Poso Cerdas yang Merah Putih

18/08/2018, 09:12 WIB | Editor: Bintang Pradewo
Peringatan HUT ke-73 RI di Poso, Sulawesi Tengah (Desyinta Nuraini/ JawaPos.com)
Share this image

"Aman itu belum tentu damai, tapi kalau sudah damai berarti sudah aman".

Oleh: Desyinta Nuraini

Mungkin sebagian orang takut untuk menjamah kabupaten yang ada di Sulawesi Tengah ini. Stigma daerah konflik yang sangat melekat. Ditambah lagi teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Abu Wardah alias Santoso dan kelompoknya sempat bermukim di sana, membayangi orang yang hanya mengenalnya dari luar.

Peringatan HUT ke-73 RI di Poso, Sulawesi Tengah (Desyinta Nuraini/ JawaPos.com)

Namun ternyata, Poso tak seseram yang dibayangkan. Masyarakat dengan suku yang beragam, kini sudah hidup berdampingan dan rukun.

Wajah seram sama sekali tak terlihat di Poso. Seperti saat JawaPos.com datang ke wilayah tersebut pada Rabu (15/8).

Menempuh perjalanan dengan jalur darat hampir enam jam dari Palu, sepertinya terbayar pasca melewati gapura perbatasan antara Poso dengan Parigi Maoutong.

Kedatangan kami disambut dengan bentangan Gunung Biru yang begitu indah. Memang, masih ada segelintir teroris jaringan Santoso dalam pelarian di gunung itu. Namun mereka telah terkepung dan diburu Satuan Tugas Tinombala.

Anehnya, tak tampak ketakutan dari para warga yang bermukim di kaki Gunung Biru itu. Mereka tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Bahkan anak kecil berlarian bebas di lapangan.

Keindahan di pintu gerbang Poso juga bisa dilihat dengan jejeran rumah bernuansa Bali. Lengkap dengan dupa yang ada di setiap rumah, nuansa asri menghiasi tempat yang disebut Kampung Bali itu.

Hamparan sawah hijau bercampur kuning menjadi pelengkap keindahannya. Tak henti di situ, berjalan sekitar 30 menit menuju pusat Poso, JawaPos.com ditemani dengan laut biru yang membentang di sisi kiri.

Hingga akhirnya sampai di pusat kabupaten, terlihat lingkungan yang bersih, bebas dari sampah. Masyarakat di sana pun terbilang beragam suku dan agama.

Ada Bali, Jawa, Bugis, Toraja, Makassar, Gorontalo, dan tentunya suku asli Pamona, Lore, Kaili, Napu. Banyaknya pendatang karena mereka bagian dari program transmigrasi pemerintah beberapa tahun silam maupun memang keinginan sendiri.

"Kalau kita ingin melihat Indonesia, lihatlah di Poso," kata Bupati Poso Kolonel Marinir (Purn) Darmin Agustinus Sigipulu ketika berbincang dengan JawaPos.com usai upacara pengibaran Bendera Merah Putih di Lapangan Sintuwu, Maroso, Poso, Jumat (17/8).

Terlepas dari beragam suku dan agama, warga Poso yang beragam itu ternyata bisa hidup rukun dan berdampingan. Seperti tak pernah ada konflik agama dan sosial beberapa tahun silam karena situasi masyarakat terlihat sangat damai.

"Aman itu belum tentu damai, tapi kalau sudah damai berarti sudah aman," tegas Agustinus

Ini kata dia, buah kerja seluruh stake holder baik pemerintah daerah, Polri, TNI, dan para tokoh masyarakat serta agama untuk bisa menciptakan kedamaian yang berujung pada situasi aman. Tercetuslah sebuah simbol huruf "C"yang berarti "Poso Cerdas".

"Cerdas itu ceria, elok, ramah, damai, adil sejahtera. Saya ajak masyarakat Poso mari kita selalu berpikiran cerdas, bertindak cerdas, berperilaku cerdas, lakukan segala sesuatu dengan cara-cara yang cerdas," ucap Agustinus.

Begitu pula ucapan selamat pagi. "Pagi, pagi, pagi Maroso. Itu artinya persatuan yang kuat untuk kita hidup bersama," imbuhnya.

Di sisi lain, masyarakat Poso pun sangat cinta tanah air kendatipun mereka dahulu banyak dicap radikal. Itu terlihat ketika warga memenuhi lapangan tempat upacara pengibaran Bendera Merah Putih dalam rangka Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Teriknya matahari tak menyulutkan semangat para peserta upacara yang terdiri dari siswa-siswi berbagai tingkat pendidikan hingga warga sekitar. Mereka tetap bernyanyi lantang ketika Sang Saka Merah Putih dikibarkan.

Bahkan antusiasme tampak ketika para pengibar bendera dengan derap langkah yang kompak datang dan meninggalkan lokasi. Begitu pula ketika lagu-lagu nasionalisme dinyanyikan dan beragam pertunjukkan seperti silat dan tak ketinggalan penampilan Batalyon Infaneri 714 Sintuwu Maroso yang mendapat sorak sorai.

Arti kemerdekaan sendiri bagi Poso ternyata cukup dalam. "Karena untuk mencapai kemerdekaan, kedamaian itu tidak mudah, tidak murah banyak korban jiwa yang dipersembahkan untuk mendapatkan itu, jadi maknanya sangat dalam," kata Agustinus.

Mereka juga sangat menghormati jasa-jasa para pahlawan yang gugur di medan perang saat memperjuangkan NKRI. "Siapa lagi yang bisa menghormati, siapa lagi yang bisa mengenang jasa-jasa para pahlawan kusuma bangsa, beliau-beliau telah gugur, telah mempersembahkan tubuh jiwa raga raganya untuk merebut dan pertahankan Republik Indonesia kita ini hanya tinggal lanjutkan saja mengisi kemerdekaan itu," pungkas Agustinus.

Tak hanya di lapangan Sintiwu Maroso, dalam perjalan kembali ke Palu, setiap desa menggelar beragam perlombangan, karnaval, dan aksi gerak jalan. Terdengar pula lagu khas Kemerdekaan berjudul "Hari Merdeka" (17 Agustus 1945) ciptaan H.Mutahar di setiap tempat yang menggelar lomba di Poso.

Tujuh belas Agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap sedia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap sedia
Membela negara kita

(dna/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi