Hujan Buatan Sulit Diturunkan di Jateng

18/08/2018, 13:32 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
ILUSTRASI: Terik matahari di Batam. (Bobi Bani/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Bencana kekeringan di Jawa Tengah (Jateng) kian memprihatinkan. Bahkan beberapa daerah sudah lama tak guyur dihujan antara 60-100 hari. Hujan buatan sebagai solusi musim kemarau panjang, belum memungkinan dilakukan di Jateng.

Kepala Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Klas I BMKG Kota Semarang Iis Harmoko mengatakan, ada beberapa faktor kenapa hujan buatan sulit diturunkan di Jateng. Selain besarnya biaya, juga karena kondisi ketiadaan awan dan situasi angin di musim kemarau yang cenderung kencang.

"Kemarau ini sifatnya kalau pagi dingin sekali. Kalau siang banyak angin kencang. Bisa dilihat itu kondisi langit sekarang ini, sedikit atau bahkan tidak ada awan (karena tertiup angin)," kata Iis saat dihubungi, Sabtu (18/8).

Padahal keberadaan awan adalah syarat dapat dibuatnya hujan buatan. Dengan kondisi cuaca yang panas, penguapan di daerah perairan sebenarnya tetap terjadi.

Sebagai informasi, hujan buatan merupakan hasil rekayasa manusia. Caranya dengan menaburkan bahan kimia yang disebut dengan Argentium lodida ke dalam awan. Fungsinya untuk mempercepat pembentukan awan sehingga dapat terjadi hujan.

Hujan buatan dapat diartikan bukan membuat hujan dalam arti sebenarnya. Melainkan membuat percepatan pada proses fisika yang terjadi di awan untuk membuat hujan. Syarat inti dalam keseluruhan proses ini adalah adanya awan yang sudah terbentuk secara alami.

Di dalam awan ada kandungan jenis-jenis air cukup untuk nantinya dimantaatkan sebagai calon awan pembuat hujan buatan. Awan jenis cumulus aktif adalah tipe yang dibutuhkan.

"Akan tetapi ya itu tadi. Bahan dasarnya membuat hujan buatan garam ya, karena menyerap air. Sementara awan itu kan kumpulan-kumpulan uap air. Kalau awannya nggak ada, apa yang mau diserap," sambung Iis.

Bahkan ketika hujan buatan sudah bisa dibuat, tetap dikhawatirkan bakal tidak tepat penempatannya. Lantaran kecepatan angin kencang yang ditakutkan malah membawa awan hujan buatan ke daerah bukan tujuan.

"Takutnya malah salah sasaran. Karena ini kemarau, ada angin monsoon Timur. Makanya saat ini ombak di Selatan Jawa juga sedang tinggi. Di Utara juga, tapi tidak setinggi di sana," paparnya.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi