100 Hari Lebih, 4 Kecamatan di Jateng Tak Diguyur Hujan

18/08/2018, 12:45 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
ILUSTRASI: Distribusi air besih di Gunungkidul, Jogjakarta. (Ridho Hidayat/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Musim kemarau yang melanda sebagian besar wilayah Jawa Tengah masih (Jateng) belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Bahkan sejumlah kabupaten telah memasuki kondisi ekstrem lantaran sudah 60-100 hari tak diguyur hujan.

Kepala Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Klas I BMKG Kota Semarang Iis Harmoko mengatakan, daerah yang mengalami kemarau dibagi menjadi beberapa kategori. Pembagian berdasarkan berapa lama wilayah tersebut tidak ada hujan.

"Kami memang ada informasi hari tanpa hujan. Ada pos-pos hujan bersama di Jatim. Melaporkan tiap 10 hari sekali. Berdasarkan laporan itu, kriterianya banyak. Yang bisa dikategorikan panjang itu kalau 30 hari tidak hujan. Lalu ekstrem ada 60 hari atau lebih. Di Jateng ada banyak," kata Iis saat dihubungi, Sabtu (18/8).

Berdasarkan data per 10 Agustus 2018, ada beberapa kabupaten yang sudah 30 hari lebih tidak hujan Antara lain Kabupaten Banjarnegara, Banyumas, Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Cilacap, Sragen, dan masih banyak lagi. Total ada lebih dari 200 kecamatan.

Bahkan ada kecamatan di kabupaten tersebut yang selama 60 hari lebih tidak ada hujan. Sebut saja Kabupaten Banyumas, tepatnya di Kecamatan Lumbir, Rawalo, dan Menganti, serta Brebes, di Larangan, Cisari, dan Cimunding. Kemudian Kecamatan Buyaran dan Sayung Gemulak di Kabupaten Demak. Lalu kecamatan Gombong, Srimadono, dan Rembes di Kebumen. Total seluruhnya ada sekitar 50 kecamatan.

"Ada kecamatan yang sudah seratus hari lebih (tidak ada hujan). Data ini akan diupdate setelah 20 Agustus nanti. Karena kalkulasinya memang hitungan dasarian atau satuan waktu meteorologi. Jadi per sepuluh hari," sambung Iis.

Daerah yang sudah 100 hari lebih tanpa hujan antara lain Kecamatan Bangsri di Kabupaten Jepara. Yakni, 123 hari tidak ada hujan. Kemudian Baturetno di Wonogori selama 112 hari. Kemudian Kecamatan Pracimantoro dan Giritontro di Wonogiri, yang sudah tidak hujan selama 108 hari.

Kemarau ekstrem memang telah menimbulkan bencana kekeringan di sejumlah daerah. Banyak warga yang kemudian kekurangan air bersih. Bantuan tangki air bersih dari beberapa instansi selama hampir dua bulan terakhir juga sudah didistribusikan.

"Kami analisis kekeringan ini secara meteorologis berdasarkan curah hujan, bukan hidrologis. Kalau hidrologis itu misalnya kekeringan karena tidak adanya air masuk mengairi sawah," papar Iis.

BMKG Kota Semarang memprediksi musim hujan di Jateng baru datang sekitar dua hingga tiga bulan ke depan, tergantung daerahnya. "September itu di daerah tengah, daerah Pegunungan Slamet, Sindoro-Sumbing dan sekitarnya. Oktober itu daerah Brebes, Pemalang, Purworejo, Tegal, Semarang, semuanya bagian selatan. Terakhir baru Pantura dan sisanya," ulas Iis.

(gul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi