JawaPos Radar

Mahasiswa Ubaya Didorong Hasilkan Obat Herbal

18/07/2018, 16:09 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Ubaya
Penampakan laboratorium kultur jaringan hasil kerja sama antara Universitas Surabaya dan PT Kalbe Farma. (Aryo Mahendro/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Universitas Surabaya (Ubaya) punya fasilitas baru berupa laboratorium kultur jaringan. Laboratorium itu dibangun atas kerja sama dengan PT Kalbe Farma.

Rektor Ubaya Joniarto Parung mengatakan, pemanfaatan laboratorium tentu untuk penelitian. Mahasiswa yang tertarik dengan bidang kultur jaringan dapat memanfaatkan fasilitas itu.

"Mahasiswa yang tertarik dengan kultur jaringan, dapat mengembangkan tanaman obat (herbal) dengan fasilitas itu," kata Joniarto di kampus Ubaya, Selasa (18/7).

Komoditi tanaman yang dapat dimanfaatkan bermacam-macam. Terutama tanaman umbi-umbian. Serta jenis tanaman yang tidak dapat tumbuh di Indonesia. Misalnya, saat ini laboratorium masih mengutamakan tanaman ginseng dan jahe merah.

Selanjutnya mahasiswa akan ditugaskan untuk memanfaatkan tanaman asli Indonesia. "Nanti mahasiswa akan kami tugaskan untuk memanfaatkan tanaman asli Indonesia. Tujuannya menciptakan obat herbal," papar Joniarto.

Namun, Ubaya tidak akan membuka mata kuliah atau program studi baru terkait pemanfaatan laboratorium tersebut. Karena mata kuliah kultur jaringan sendiri memang sudah ada di Fakultas Bioteknologi. "Hasilnya nanti diproduksi massal. Lalu dipakai pelaku usaha di sektor industri," ulasnya.

Sebelum ada laboratorium itu, mahasiswa masih memanfaatkan metode kultur jaringan dengan cara tradisional. Sehingga butuh waktu lama untuk mendapatkan hasil pengembangan.

Misalnya, ginseng. Kalau ditanam dengan cara konvensional, harus menunggu puluhan hingga ratusan tahun sebelum dapat dipanen. Menanamnya pun harus di kawasan pegunungan. "Kalau di olah di laboratorium itu, hanya perlu waktu 45 hari. Karena yang diambil hanya ekstrak dari akarnya," jelasnya.

Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk Vidjongtius mengatakan, pembelajaran kultur jaringan butuh waktu hingga 15 tahun jika tanpa laboratorium. Karena tujuannya adalah menumbuhkan tanaman menggunakan media yang dikondisikan.

"Nah, untuk menciptakan media itu nggak gampang. Harus sesuai dengan ekosistem alam aslinya. Ilmunya ini kami belum punya. Meski peralatannya bisa diimpor," jelas Vidjongtius.

Karenanya, Vidjongtius menyatakan memanfaatkan hasil penelitian ginseng di laboratorium itu. Sehingga perusahaan tidak lagi memanfaatkan ginseng yang masih diimpor dari Korea Selatan.

"Selain ginseng, kami juga melakukan pengembangan jahe merah. Kami sudah membangun komunitas pengambangan jahe merah dengan petani dan badan pengkajian dan pengembangan teknologi (BPPT)," urainya.

(HDR/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up