JawaPos Radar

Kisah Sukses Wakacao

Berawal dari Tugas Akhir Kuliah, Kantongi Omset Ratusan Juta

18/07/2018, 09:44 WIB | Editor: Imam Solehudin
Wakacao
Salah satu gerai Wakacao di kawasan BSD, Tangerang, Banten. (Dok.JawaPos)
Share this image

JawaPos.com - Tangerang merupakan kota suburban dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi. Tak kalah dengan Ibukota Jakarta sebagai Kota Megapolitan di Indonesia.

Sebagai kawasan yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi, membuat kawasan ini memberi kesempatan usaha untuk menunjang aktivitas dan kegiatan sehari-hari penduduknya.

Bukan hanya menjamurnya tempat-tempat usaha, perkantoran, dan pendidikan. Tetapi semakin menjamurnya tempat makan dan hangout yang menyuguhkan berbagai macam jenis makanan yang ditawarkan.

Peluang inilah yang dilihat Aisyah Hafiza. Bersama kelima temannya, Fernald Albert Wiguna, Charles Tantiono, Deninda Fairuzahra, dan Andika Adidharma, mereka menggagas ide untuk membuat satu usaha kuliner yang unik.

“Berawal dari tugas akhir kampus sebagai syarat lulus untuk meraih gelar sarjana dari Universitas Prasetya Mulya di BSD. Saya bersama kelima teman memilih usaha membuka sebuah restoran atau rumah makan yang saat ini dikenal dengan nama "Wakacao"," beber dia.

"Kebetulan kami semua juga memiliki cita-cita yang sama yaitu setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, kami ingin berwiraswasta dan tidak ingin menjadi pekerja kantoran," lanjut Aisya.

Tidak mudah menggagas sebuah ide yang mampu diterima dan mendapat kepercayaan dari publik. Echa-sapaannya- mengaku butuh waktu satu tahun untuk merancang dan menyiapkan konsep dari idenya.

"Bahkan selama kurang lebih enam bulan, kami merumuskan resep dari makanan yang akan kami tawarkan kepada konsumen. Beberapa kali kami membuat dan mencoba serta merancang bagaimana cita rasa yang sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia," ungkapnya.

Memperkuat cita rasa Nusantara merupakan salah satu kunci kesuksesan 'Wakacao'. Wakacao hadir tidak hanya secara musiman saja, melainkan terus berkelanjutan.

Hal ini terbukti dengan Wakacao telah tersebar dibeberapa daerah. Sejak dimulainya usaha pada tahun 2016, Wakacao sudah memiliki 16 cabang hingga akhir tahun 2017.

"Kami berencana memperbanyak gerai sebanyak 15 cabang pada tahun 2018 ini," kata dia.

Jatuh Bangun Wakacao

Dibalik kesuksesan Wakacao, tersimpan perjuangan yang tidak mudah. Sebelum besar seperti sekarang, mereka sempat mengalami sejumlah ujian.

Terutama ketika awal-awal merintis usaha. Persisnya ketika pertama kali membuka gerai di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. "Wisata kuliner dikawasan tersebut sangat mudah mendapatkan pangsa pasar," jelas dia.

Namun, nasib berkata lain, Echa dkk ditipu oknum yang mengelola lapak di kawasan tersebut.

Sebab, lokasi yang mereka hendak gunakan milik pemerintah dan akan dibangung stasiun MRT Jakarta.

"Padahal kami telah membayar lapak sebesar Rp 36 juta," cetusnya.

Kemudian Pasar Modern BSD menjadi pilihan dan langkah awal menuju kesuksesan yang diraih Wakacao. Echa menceritakan dengan modal awal sebesar Rp 50 juta, dan masing-masing orang memberikan modal sebanyak Rp 10 juta, Wakacao mulai dirintis.

"Satu bulan pertama sama sekali tidak menghasilkan laba dan hanya sedikit pengunjung yang datang," tambah dia.

Bulan kedua, promosi dilakukan dari program buy one get one serta menyebar brosur kepada teman-teman kuliah pun dilakukan. Tak hanya itu, Echa melakukan promosi dari mulut ke mulut agar publik megetahui kehadiran Wakacao.

Kesuksesan Wakacao saat ini, dimulai dari Pasmod BSD yang kemudian tersebar ke-1 cabang lainnya di kawasan Tangerang, Jakarta hingga Bandung.

“Untuk setiap gerai Wakacao memberikan omset sebesar Rp 270 juta hingga Rp 280 juta per bulan atau Rp 8 juta hingga Rp 9 juta per hari. Adapun harga yang ditawarkan sekitar Rp 32.000 hingga Rp 35.000," jelasya.

Bagi Aisyah Hafiza, Pasmod BSD memiliki peran dan sejarah terhadap kesuksesan yang telah dicapai saat ini. Wakacao yang mampu memikat pencinta beef pepper rice yang disajikan dengan hot plate.

Pada tahun 2017 lalu, Wakacao mampu mengantongi pendapatan hingga Rp 2,4 M dengan laba 30% persen. Saat ini, Echa merupakan salah satu pelaku UMKM Pasar BSD City yang telah sukses dengan bisnis kulinernya.

Berkat kegigihan dan keuletannya, kini Wakacao menjadi salah satu tujuan favorit para pengunjung. “Kerja keras dan pantang menyerah tidak akan pernah mengkhianati hasil akhir dari usaha yang dilakukan," pungkasnya.

(mam/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up