alexametrics

Ikuti Mujahadah Kubro, Puluhan Ribu Warga NU Bergerak ke Ponorogo

18 Juni 2022, 20:30:07 WIB

JawaPos.com- Puluhan ribu warga dan kader Nahdlatul Ulama (NU) Jatim, mulai Minggu (19/6) pagi bakal bergerak menuju ke Kabupaten Ponorogo. Tepatnya, di kompleks makam Kiai Ageng Muhammad Besari, Desa Tegalrejo, Kecamatan Jetis. Mereka datang dari berbagai kabupaten/kota.

Kedatangan warga Nahdliyyin itu untuk mengikuti Mujahadah Kubro dan Doa 11 Kiai Jatim. Rencananya, kegiatan religi itu akan berlangsung Minggu (19/6) malam, sekitar pukul 21.00 WIB. ’’Bagian dari ikhtiar dan doa bersama agar Jatim tetap kondusif, damai dan aman, serta dijauhkan dari segala musibah. Juga, upaya batiniah agar negara dan dunia bisa bangkit lagi setelah dua tahun pandemi,’’ kata Wakil Ketua PWNU Jatim KH Abdussalam Shohib.

Beberapa kiai yang dijadwalkan hadir antara lain Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar, Rais Syuriah PWNU Jatim KH Anwar Mansur, Ketua PWNU Jatim KH Marzuki Mustamar, KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali), Ketua MUI Jatim KH Mutawakkil Alallah, dan banyak ulama/kiai Jatim lainnya.

Gus Salam, panggilan KH Abdussalam Shohib, mengungkapkan, Mujahadah Kubro tersebut juga merupakan rangkaiaan pembuka dari peringatan 100 tahun atau Satu Abad NU yang dilaksanakan PWNU Jawa Timur.

’’Nanti kita akan mengadakan banyak kegiatan. Karena itu, kita berdoa supaya acara-acara selanjutnya hingga puncak nanti, dilancarkan oleh Allah SWT. Nah, kita buka dengan mujahadah kader NU,’’ ujar pengasuh Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jatim, itu.

Dia menjelaskan, pada Mujahadah Kubro itu murni ritual tanpa ada pidato sama sekali. Mujahadah itu juga akan diisi dengan ijazah hizb nawawi, hizb autad, hisb nashr dari para kiai. Setelah itu, dilanjutkan istighotsah. ’’Jadi kita upayakan untuk tetap taqarrub (mendekatkan diri, Red) kepada Allah,’’ jelas Gus Salam.

Soal pemilihan lokasi di Tegalrejo, Ponorogo, Gus Salam menjelaskan, hal itu dilatarbelakangi kaitan sejarah yang kuat antara NU dan Ki Ageng Muhammad Besari. Dari sudut pandang nasab, misalnya. Ki Ageng Muhammad Besari  yang masih tersambung dengan pendiri NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari. Demikian pula terkait sanad keilmuan. Tegalsari merupakan pesantren pertama di Jatim.

’’Ki Ageng Muhammad Besari juga dikenal dengan perjuanganya melawan Belanda. Jadi, nuansa perjuangan kita ambil dalam konteks kekinian. Karena itu tema yang kita usung adalah NU Membangun Sanad Jamiyyah, Menyambung Sanad Keilmuan dan Perjuangan,’’ ungkap Gus Salam.

Mengutip Jawa Pos Radar Madiun, Ki Ageng Muhammad Hasan Besari cucu Mbah Kiai Ageng Besari. Dari pesantren ini melahirkan beberapa tokoh besar. Termasuk Pangeran Diponegoro dan Hadratusyaikh KH Hasyim Asyari.

Dari garis keturunan Kiai Ageng Besari pula kelak lahir sosok Sultan Kartasura, yakni Pakunuwono II, Begawan Kasultanan Kartasura Raden Ngabehi Ronggowarsito, dan tokoh pergerakan kemerdekaan HOS Tjokroaminoto.

Pendiri Pesantren Tremas Pacitan KH Abdul Mannan juga pernah nyantri di Tegalsari. Beberapa pesantren besar dan sepuh di Pulau Jawa juga memiliki hubungan erat dengan Mbah Kiai Besari. Di antaranya, Lirboyo, Ploso,  Jampes,  Tremas, dan lainnya.

Editor : M. Sholahuddin

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads