alexametrics

Jalani Operasi Tulang, Kondisi Kesehatan Hope Membaik

18 Maret 2019, 22:00:32 WIB

JawaPos.com – Kondisi kesehatan Hope, Orangutan dengan 74 peluru di tubuhnya terus membaik. Hope telah menjalani operasi tulang di bawah penanganan Tim Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP).

Sudah sepekan terakhir, Hope dirawat intensif. Teranyar, kondisi tulang bahu mendapat luka patah terbuka. Operasi terhadap Hope dilakukan Tim Medis SOCP bersama Dr. Andreas Messikommer, seorang ahli bedah tulang dan saraf pada manusia, yang berasal dari Swiss, Minggu (17/3).

Andreas sering membantu SOCP dan PanEco sebagai relawan saat ada kasus bedah tulang yang rumit. Operasi Hope dilakukan selama lebih dari tiga jam. Dalam prosesnya, ditemukan juga bahwa tulang bahu yang patah mengakibatkan robeknya kantong udara (air sac).

drh. Yenny Saraswati, Dokter Hewan Senior YEL-SOCP. mengungkapkan, kondisi itu membuat infeksi lokal. Sehingga tim melakukan penanganan pada area yang terinfeksi terlebih dahulu. Tim juga melakukan penutupan luka luka lain yang berada pada bagian-bagian tubuh Hope seperti di tangan dan kaki.

“Dalam operasi ini kami belum mengeluarkan peluru yang masih ada di tubuh Hope, karena kami memprioritaskan untuk melakukan penanganan pada tulang bahu, mengingat risiko infeksi pada bagian tersebut,” ujar drh. Yenny Saraswati, Dokter Hewan Senior YEL-SOCP, Senin (18/3).

Kondisi Hope cukup stabil selama operasi. Pascaoperasi kondisinya juga cukup stabil. Karantina dan rehabilitasi terhadap Hope dilakukan untuk pemeriksaan intensif. Baik secara fisik atau pun mentalnya.

Jika pun Hope sembuh total, kondisinya tidak akan mungkin dilepasliarkan kembali. Karena kondisi matanya juga buta total karena tertembak.

Selain Hope, SOCP juga melakukan operasi kepada Brenda. Anak Orangutan berusia 3-4 bulan yang mengalami patah lengan atas kiri (tulang humerus). Brenda dievakuasi minggu lalu oleh seorang anggota TNI dari area pembukaan lahan di daerah Aceh Barat Daya. Anggota TNI tersebut kemudian menghubungi BKSDA Aceh melaporkan keberadaan bayi Orang Utan.

Tim BKSDA Aceh dan SOCP kemudian bergerak ke Aceh Barat Daya dan membawa Brenda ke SOCP, Senin (11/3).

Dr. Andreas Messikommer yang bekerjasama dengan Tim Medis SOCP sebagai relawan dalam operasi Hope dan Brenda telah berkali-kali membantu melakukan operasi penanganan kasus- kasus patah tulang pada orangutan. Semua penanganan kasus pada orangutan-orangutan tersebut dilakukan Andreas secara sukarela.

Direktur SOCP Ian Singleton mengungkapkan, dirinya begitu prihatin dengan maraknya perburuan orang utan. Apalagi Hope yang menjadi korban kebrutalan senapan angin pemburu.

“Kondisi Hope masih sangat serius dan tim medis SOCP tetap bekerja keras untuk mengupayakan keselamatanya. Kami sedih sekali menghadapi kasus seperti ini, terutama karena ini bukan kasus pertama. Kami telah menerima dan merawat cukup banyak orangutan yang tubuhnya penuh dengan puluhan, bahkan ada yang lebih dari seratus peluru akibat ditembak oleh masyarakat,” jelasnya.

Kementrian lingkungan Hidup dan Kehutanan juga baru-baru ini mengeluarkan peraturan menteri No : P106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 due to the revision of P20/Menlhk/Setjen/kum.1/6/2018 berkenaan dengan spesies satwa yang dilindungi dan terancam punah yang mencakup semua spesies orangutan.

“Kami mengutuk pelaku yang menyakiti satwa yang dilindungi ini. BKSDA Aceh saat ini sedang bekerja sama dengan pihak GAKKUM untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap insiden ini. Kami juga bekerja sama dengan pihak kepolisian Aceh untuk mengawasi dan mengamankan penggunaan senapan angin yang menurut peraturan kepolisian indonesia no. 8 tahun 2012, bahwa penggunaan senapan angin adalah hanya terkait olah raga yang disertai dengan surat izin kepemilikan pula” Sapto Aji, Kepala BKSDA Aceh.

Sementara itu, Yayasan Orang Utan Sumatera Lestari – Orang Utan Information Centre (YOSL-OIC) mengutuk keras kasus penembakan Hope. Orang Utan malang itu ditemukan dalam kondisi kritis di perkebunan sawit warga di Desa Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan, Kecamatan Sultan Daulat, Kota Subulussalam, Aceh.

“Ini adalah tragedi bagi kita bersama. Penegakan hukum haruslah dilakukan tanpa pandang bulu. Kami telah menghubungi pihak kepolisian dan BKSDA untuk memproses kasus ini serta menyeret pelaku ke pengadilan,” ujar Ketua Yayasan YOSL-OIC Panut Hadisiswoyo.

Panut juga menjelaskan, sosialisasi terhadap masyarakat soal orang utan sangat penting dilakukan.

“Publik dan media harus terus mendorong dan membantu kita untuk mengawal kasus ini agar tetap menjadi perhatian dan membawa keadilan yang sepantasnya. Ini juga momen yang baik untuk kita kembali mendorong pelarangan senapan angin yang telah menjadi teror satwa tidak hanya di Sumatera tapi juga diseluruh Indonesia. Teror senapan angin ini harus dihentikan sekarang juga,” pungkasnya.

Editor : Budi Warsito

Reporter : Prayugo Utomo

Copy Editor :

Jalani Operasi Tulang, Kondisi Kesehatan Hope Membaik