alexametrics

WALHI Sulsel Anggap Debat Kedua Belum Menjawab Isu Lingkungan Hidup

18 Februari 2019, 16:40:56 WIB

JawaPos.com- Debat kedua Pilpres 2019 dianggap masih belum mampu menjawab isu lingkungan hidup di Indonesia. Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sulawesi Selatan (Sulsel) merangkum sejumlah catatan yang dianggap belum mencapai akar permasalahan debat sesuai dengan tema yang diusung.

“Joko Widodo lebih unggul pada debat kedua. Tapi keunggulan itu masih disertai sejumlah catatan, terutama pernyataan soal wacana mengatasi konflik lingkungan,” jelas Direktur WALHI Sulsel Muhammad Al Amin, Senin (18/2).

“Jokowi lebih memahami isu, tapi sayangnya masih cenderung pada satu sektor. Padahal yang paling penting, isu lingkungan itu beragam, multi sektor,” lanjut Amin.

Amin menjelaskan, dalam debat itu Jokowi cenderung mengungkapkan seputar penyelesaian kasus kebakaran dan kerusakan lahan hutan gambut. Isu tersebut umumnya terjadi di kawasan Indonesia bagian barat. Sedangkan di wilayah lain, masalah lingkungan yang lebih beragam bahkan belum terselesaikan.

Salah satunya soal degradasi hutan. WALHI mencatat, luas hutan di Sulsel berkisar 2,1 juta hektare. Namun tutupan hutan tropis atau vegetasinya hanya 1,22 juta hektare. Itu berarti terjadi degradasari fungsi hutan hampir 900 ribu hektare.

Amin juga menyebut masalah lain di lingkungan pesisir. Jokowi disebut cenderung hanya mengedepankan persoalan penangkapan ikan secara ilegal dan merusak. Padahal ada masalah besar yang sama bahayanya, namun tidak disinggung sama sekali.

“Misalnya eksplorasi tambang dan reklamasi. Masalah sepeti ini tidak dijelaskan oleh kedua capres, terlebih bagi petahana. Itu yang menjadi kekecewaan kami,” jelas Amin.

WALHI Sulsel mengapresiasi pernyataan dua pasang capres yang mendorong pemanfaatan energi terbarukan. Sebab selama ini energi di dalam negeri masih banyak mengandalkan bahan bakar fosil yang berdampak buruk bagi lingkungan.

Meski begitu, upaya Jokowi maupun Prabowo dianggap belum mampu memecahkan masalah. Sebab masing-masing kubu mengungkapkan strategi pemanfaatan minyak nabati atau dikenal dengan biodiesel atau biofuel. Secara sederhana, pemanfaatan minyak nabati akan mendorong peningkatan produksi dan perluasan kebun sawit.

“Strategi ini tidak solutif, melainkan hanya menimbulkan masalah baru. Setidaknya ada dua, yakni konflik lahan akibat perluasan kebun sawit, serta berkurangnya kawasan hutan yang selama ini jadi sasaran perluasan lahan,” terang Amin.

Editor : Dida Tenola

Reporter : Sahrul Ramadan

Copy Editor :

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
WALHI Sulsel Anggap Debat Kedua Belum Menjawab Isu Lingkungan Hidup