alexametrics

Ngayogjazz Datangkan Keuntungan Bagi Warga Bantul

17 November 2018, 14:11:11 WIB

JawaPos.com – Ngayogjazz digeber di Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ). Even tersebut membuat warga setempat semakin akrab dengan musik jazz.

“Jadi tahu kalau musik jazz seperti itu. Musiknya agak pelan, santai, mboten kados dangdut (tidak seperti dangdut),” kata salah satu warga Untoro, 43, Sabtu (17/11).

Seperti warga desa pada umumnya, Untoro mengaku pengetahuannya tentang musik cukup minim. Sebab hampir tak ada waktu untuk menikmati musik. Setiap hari, ia disibukkan pekerjaan.

Musik Jazz
JAZZ: Even musik Ngayogjazz di Desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Sabtu (17/11). (Ridho Hidayat/Jawapos.com)

Meski begitu, ia tetap memiliki pikiran terbuka. Apapun budaya yang baik, tak salah untuk dipelajari. “Tidak tahu sama sekali tentang jazz. Saya sibuk kerja jadi petugas keamanan,” cetusnya.

Selain menambah wawasan, Ngayogjazz juga mendatangkan manfaat lain bagi warga. Seperti dengan menjual makanan dan minuman ringan, yang setidaknya bisa menambah penghasilan keluarga. “Kebetulan istri mau jualan warung kelontong. Ini buka pertama kali. Jualan kopi sama makanan di warung kelontong,” tuturnya.

Manfaat lainnya, Ngayogjazz membuat Desa Gilangrejo semakin dikenal banyak orang. Pengunjung bisa tahu di desa tersebut ada banyak kerajinan. Seperti batik, peralatan pertanian, maupun makanan-makanan khas pedesaan.

Setidaknya ada 7 panggung berdiri di Desa Gilangharjo selama gelaran Ngayogjazz. Masing-masing diisi dengan penampilan para seniman. Mulai dari komunitas jazz Jogjakarta, Magelang, hingga seniman-seniman luar negeri.

Selain menampilkan seniman musik jazz, budaya lokal pun diberi tempat. Seperti komunitas reog, gejog lesung, dan pertunjukan tari dari anak-anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Bantul.

Sebelumnnya, Board of Ngayogjazz Vindra Diratara mengatakan bahwa secara garis besar Ngayogjazz ke-12 ini sama dengan sebelumnya. Yaitu bertujuan agar jazz bisa dinikmati semua kalangan. Sekaligus jazz bisa melebur dan berinteraksi dengan jenis musik lain. Bahkan dengan seni apapapun. Baik yang tradisional maupun modern.

“Ngayogjazz juga sedikit banyak berhasil menempatkan desa bukan hanya sebagai objek, tetapi lebih dari itu. Masyarakat desa di mana diadakannya perhelatan Ngayogjazz, selalu menjadi mitra yang mutual,” paparnya.

Tema ‘Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara’ yang diusung, sebagai jawaban atas fenomena yang terjadi dan berkembang di masyarakat Indonesia sekarang. Itu merupakan plesetan dari ‘Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata’.

Kurang lebih, maknanya adalah walaupun negara mempunyai hukum dan tata negara, namun tiap daerah juga memiliki adat dan budaya yang khas. Serta erat kaitannya dengan kearifan lokal daerah masing-masing.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : (dho/JPC)

Saksikan video menarik berikut ini:


Ngayogjazz Datangkan Keuntungan Bagi Warga Bantul