alexametrics
Catatan Relawan Kansa Batam di Lombok

Sentuh Alam Bawah Sadar untuk Sembuhkan Trauma Korban Gempa

17 Oktober 2018, 11:56:34 WIB

JawaPos.com- Pasca diguncang gempa, masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) terus berusaha bangkit dari keterpurukan. Selain pembenahan infrastruktur, pemulihan psikis para korban juga menjadi perhatian. Sudah banyak relawan turun tangan untuk membantu, salah satunya adalah Sekolah Karya Anak Bangsa (Kansa) Batam.

Bobi Bani, Batam

 

Kansa Batam
Relawan Kansa Batam di Bandara Hang Nadim Batam, sebelum bertolak ke Lombok. (Kansa Batam for JawaPos.com)

Kansa Batam merupakan lembaga pelatihan yang berkiblat pada pembentukan generasi kreatif, inovatif dan mandiri. Dalam prosesnya para mahasiswa diajarkan mengembangkan pola pikir, public speaking, media, hingga hipnosis.

Didirikan pada 2014 lalu, keikutsertaannya dalam perbaikan mental korban gempa di Lombok adalah yang pertama kali. Mengingat perlunya kegiatan pendampingan perbaikan mental pasca bencana, Kansa akan terus terlibat dalam kegiatan serupa di masa yang akan datang. Termasuk rencana untuk ikut melakukan trauma healing pada korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Sebanyak 12 relawan telah terjun ke Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara sejak 8 Oktober lalu. Rencananya mereka akan menuntaskan misi, besok, 18 Oktober. Rombongan itu dipimpin Riki Syolihin.

JawaPos.com mewawancarai Riki melalui sambungan telepon, Selasa (16/10). Meskipun dari jarak jauh, dia bisa menceritakan dengan lugas, bagaimana perjuangan para korban untuk bangkit dari bencana.

Pada hari kedelapan para relawan di tengah-tengah masyarakat Lombok, Riki mencatat banyak hal menarik. Mulai dari keramahan warga melalui tawaran minum kopi, cerita soal trauma para warga di sana, hingga menyaksikan langsung gangguan yang muncul akibat bencana gempa. Tak sedikit relawan yang terketuk hatinya hingga menitikkan air mata, melihat langsung penderitaan para korban.

Riki menceritakan, kopi adalah minuman yang mengakar dalam tradisi masyarakat setempat. Meskipun kondisinya porak poranda, para relawan Kansa Batam tetap bisa menyesap kopi. Masyarakat masih bisa menyuguhkan minuman pemersatu itu.

Sekadar menjadi teman penghangat keakraban. Kopi juga sebagai pendamping obrolan antara tamu dengan tuan rumah. “Dalam sehari kami bisa minum sampai tujuh gelas kopi. Setiap kami lewat pasti diajak ngopi,” cerita Riki.

Tidak hanya kopi yang menyimbolkan keramahan warga Lombok. Pada dasarnya, masyarakat di sana memegang teguh ikatan persaudaraan. Itu didapat Riki saat berbelanja aneka kebutuhan.

Suatu hari, Riki hendak membeli kebutuhan makanan di lapak pedagang. Meski kondisinya belum normal seutuhnya, semangat para pedagang untuk berjualan layak diacungi jempol. Hebatnya, mereka juga menolak dibayar saat tahu yang membeli barang dagangannya adalah para relawan.”Pas mereka lihat rompi kami, langsung dipanggil. Mereka tidak ingin dibayar, padahal kami sudah bilang kalau punya anggaran. Mereka tetap tidak mau,” tambah Riki.

Terkait dengan misi utama mereka untuk memulihkan trauma warga, Riki menceritakan bagaimana dirinya bertemu dengan anak yang tidak bisa tidur nyenyak karena takut gempa akan datang lagi. Si anak bahkan tidak berani masuk rumah, tidak berani berpisah dengan orangtuanya. Bahkan ada warga yang takut dengan malam Minggu. Malam yang sama saat bencana gempa meluluhlantakkan Lombok.

Trauma seperti itu tidak hanya dialami oleh anak-anak. Riki menganggap hal itu sebagai tantangan tersendiri bagi dirinya dan rekan-rekannya sesama relawan.

Mereka harus ikut menjangkau tidak hanya anak-anak dan lansia. Lebih dari itu, mereka juga harus menyiapkan sistem pembenahan mental untuk orang dewasa. Pendekatannya jelas berbeda. “Tidak mungkin kan orang tua kami ajak bertepuk tangan dan nyanyi,” lanjutnya.

Selama berada di titik terdampak bencana, para relawan menyebar ke dusun-dusun yang terdapat tenda pengungsian. Di sana mereka berhadapan dengan semua kalangan. Para relawan harus menggali apa yang dihadapi masyarakat setempat. ”Kami sampai menangis merasakan beban psikologis yang ditanggung mereka,” ujar Riki.

Salah satu yang menarik, para relawan Kansa Batam menggunakan terapi hipnotis untuk trauma healing para korban. Mereka berusaha menyentuh alam bawah sadar para korban dengan menyuntikkan kata-kata positif. Agar semangat para korban kembali normal.

Efek positif hipnotis itu begitu terasa. Mereka yang sebelumnya mengalami trauama hebat berangsur-angsur pulih. Bahkan ada yang minta terus dihipnotis. “Ada yang gemetaran setiap malam Minggu, datang minta diobati. Kami terus ikuti perkembangannya. Alhamdulilah sudah tidak gemetaran lagi,” kata Riki lagi.

Pulihnya trauma para korban itu seolah menjadi penghargaan bagi para relawan. Jerih payah mereka untuk menolong korban, rasanya terbayar lunas. Terlebih kehadiran mereka mampu dirasakan satu desa, yang dihuni 3 ribu jiwa tersebut.

Menjelang masa akhir pengabdian relawan di Desa Santong, warga justru mendesak mereka agar tetap bertahan. Namun, jelas tidak mungkin para relawan Kansa Batam terus berada di sana.Makanya, mereka punya siasat agar proses trauma healing itu tetap bisa berlangsung, meski mereka sudah tidak berada lagi di sana. Caranya dengan membimbing dan membekali para guru tentang cara memulihkan rasa trauma. “Waktu kami terbatas. Jadi kami ajari guru-guru untuk bisa mengobati trauma warga lain,” pungkas Riki. 

Editor : Dida Tenola

Reporter : (bbi/JPC)



Close Ads
Sentuh Alam Bawah Sadar untuk Sembuhkan Trauma Korban Gempa