JawaPos Radar

Begini Kronologi Pemerkosaan Bocah Pengungsi Gempa Palu di Makassar

17/10/2018, 15:26 WIB | Editor: Dida Tenola
pemerkosaan pengungsi gempa palu kassubaghumas polrestabes makassar
Kassubaghumas Polrestabes Makassar Diaritz Felle. (Sahrul Ramadan/ JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Polrestabes Makassar mengungkap kronologi kasus pemerkosaan yang menimpa seorang bocah pengungsi asal Palu berinisial SH, 7. Korban diperkosa oleh MI, 14, di sebuah rumah kosong, di perumahan BTN Bumi Permata Sudiang (BPS) 1, Kelurahan Sudiang, Kecamatan Biringkanaya, Makassar. 

Kassubaghumas Polrestabes Makassar AKP Diaritz Felle menjelaskan, korban masih duduk di bangku kelas 1 SD. SH merupakan pengungsi yang dibawa oleh orang tuanya untuk tinggal sementara di rumah pamannya, di kawasan BPS 1 Sudiang.

Awalnya, MI melihat korban berjalan dengan seorang temannya berinisial B, Selasa siang (16/10). Awalnya MI ingin ke rumah salah satu kerabatnya yang masih berada dalam satu kompleks. Saat itu, kondisi kompleks perumahan memang sepi. "Nah saat itu tersangka memanggil korban dan tersangka ini meminta agar korban mengantarkan tersangka ke rumah keluarganya. Sementara teman korban disuruh pulang oleh tersangka," jelas Diaritz di Mapolrestabes Makassar, Rabu siang (17/10).

Tersangka dan korban lalu berjalan berdua. Di tengah perjalanan, muncul niat keji tersangka untuk memerkosa korban. Tersangka mengajak korban ke belakang sebuah rumah kosong. "Tiba di situ, tersangka menyuruh korban untuk berbuat. Tapi korban menolak. Tersangka lalu memaksa korban dengan iming-iming akan mengantarkan pulang ke rumah pamannya,” tambah Diaritz.

MI benar-benar tak punya hati. Pada akhirnya dia memperkosa SH. Setelah itu, dia menepati janjinya. SH diantar pulang ke rumah pamannya.

Sesampainya di rumah itu, SH langsung memeluk erat sang paman bernama Hendro. "Korban saat itu menangis dan langsung menceritakan kejadian yang baru saja terjadi. Tidak lama karena tersangka belum begitu jauh dari lokasi, paman korban ini bersama beberapa warga sekitar langsung menangkap tersangka," lanjut polisi dengan tiga balok di pundak itu.

Saat diamankan oleh beberapa warga dan paman korban, tersangka mengakui perbuatannya. MI langsung dibawa ke Mapolsek Biringkanaya, Makassar. Sementara korban langsung dilarikan ke rumah sakit. "Hasil pemeriksaan visum dari rumah sakit, korban mengalami pecah selaput darah. Sampai sekarang korban masih mendapat perawatan di rumah sakit. Kami juga berupaya untuk lakukan penampingan,” ucap Diaritz.

Diaritz mengatakan, pihaknya sementara menunggu proses pendampingan terhadap tersangka mengingat usianya masih di bawah 17 tahun. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pihak Dinas Sosial (Dinsos) dan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Makassar.

Sementara untuk korban, polisi akan berkoordinasi dengan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Makassar. "Kami juga sudah menghubungi orang tua korban yang sedang ada di Palu. Untuk tersangka tetap kami tahan sambil menunggu proses pendampingan," tegasnya. 

Akibat perbuatan tercelanya, tersangka dijerat pasal 81 juncto pasal 76 D dan atau pasal 82 juncto pasal 76 E Undang-undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. MI terancam mendekam di penjara minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun. 

(ce1/rul/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up