JawaPos Radar

Gandeng Pemkot, Polisi Lakukan Trauma Healing ke 8 Korban Pencabulan

17/08/2018, 17:25 WIB | Editor: Budi Warsito
Gandeng Pemkot, Polisi Lakukan Trauma Healing ke 8 Korban Pencabulan
Pelaku pencabulan terhadap delapan bocah, Hery Dri Handoko menutupi wajahnya saat ditanya Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni, Kamis (16/8). (Dida Tenola/JawaPos.com)
Share this

JawaPos.com - Kasus pencabulan yang dialami delapan bocah telah diungkap Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya, Kamis (16/8). Selain mengamankan pelaku, Polisi juga memberi perhatian terhadap kondisi psikologis para korban.

Kanit PPA Polrestabes Surabaya, AKP Ruth Yeni menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pengendalian Penduduk Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A) Kota Surabaya untuk memberi trauma healing bagi para korban.

"Penting untuk memikirkan psikologis korban. Sebab, aksi tersangka ini sudah dilakukan sejak 2015. Tentunya ada tekanan berat dalam diri korban," jelas Ruth kepada JawaPos.com, Jumat (17/8).

Ruth menambahkan, pihaknya telah melakukan visum kepada para korban. Hasilnya, memang ditemukan luka robek pada alat kelamin kedelapan bocah yang rata-rata berusia 7 sampai 9 tahun tersebut.

Pemberian trauma healing kepada para korban sangat penting. Menurut Ruth, jika tidak diberi perhatian khusus, para korban tersebut bisa saja bertransformasi menjadi pelaku ke depannya. "Potensi itu jelas ada, karena awalnya kan memang mereka tidak tahu dengan apa yang dialaminya. Yang berbahaya, jika mereka merasa menikmati. Makanya, itu yang kita cegah bersama-sama, kami tidak bisa mengatasinya sendiri, Pemkot punya kompetensi tersebut," ungkap Polisi asal Banyuwangi tersebut.

Selain psikologis korban, polisi juga akan memeriksakan pelaku. Mereka ingin mengetahui, apakah pelaku punya potensi sebagai seorang psikopat atau tidak. "Itu (pemeriksaan psikologis pelaku) juga penting dilakukan supaya dia tidak melakukan perbuatannya lagi. Hasilnya nanti akan kami lampirkan di BAP agar bisa menjadi pertimbangan Pengadilan," lanjut Ruth.

Secara terpisah, Kepala DP5A Surabaya, Chandra Oeratmangun memastikan, pihaknya langsung terjun untuk melakukan trauma healing kepada delapan korban. Chandra juga memahami bila ada potensi korban bisa menjadi pelaku di kemudian hari.

"Kami pelan-pelan mendekati korban. Kami paham bagaimana tekanannya, tidak semua korban berani bicara," terang Chandra.

Mantan Kepala Dinas PMK Kota Surabaya itu melanjutkan, pihaknya memang mendapat tantangan untuk melakukan trauma healing. Ada di antara para korban yang takut untuk menceritakan kekerasan seksual yang telah dialaminya.

Oleh sebab itu, dia mengaku butuh proses untuk memastikan semua korban bebas dari rasa trauma. "Tidak bisa dipastikan berapa lama waktunya. Kami berusaha sebisa mungkin, pelan-pelan mengikis ketakutan anak-anak itu," tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Unit PPA Polrestabes Surabaya membekuk Hery Dri Handoko, warga Banyu Urip Lor, Kamis (16/8). Dia tega mencabuli delapan bocah di lingkungan tempat tinggalnya. Perbuatan bejat itu sudah dimulai sejak 2015.

Dalam aksinya, Hery mengajak para korban bermain di dalam rumahnya. Dia biasa mengiming-imingi korban dengan film anak-anak. Selanjutnya, Hery memasukkan tangannya ke alamat kelamin para korban.

Aksi tersebut terbongkar sebelum puasa. Saat itu ada satu orang dewasa yang mendengar tanpa sengaja percakapan para korban terkait dengan ulah cabul Hery. Dari sana, para orang tua korban berkumpul dan berani melaporkan pelaku ke polisi.

(did/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up