alexametrics
PKL di Asrama Haji Donohudan

Intip dan Jenang Alot Banyak Diburu Pengantar Haji

17 Juli 2018, 13:26:54 WIB

JawaPos.com – Musim haji telah tiba. Kawasan di sekitar Asrama Haji Donohudan, Boyolali pun disesaki dengan kehadiran para pedagang kaki lima (PKL). Mereka menyediakan berbagai jenis dagangan yang dijajakan mulai pagi hingga malam.

Ada yang menjual makanan, minuman, pakaian, aksesori dan barang dagangan lainnya. Para PKL yang berjualan di sekitar Asrama Haji Donohudan datang dari berbagai daerah. Seperti dari Wates, Kulonprogo, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ).

Biasanya, PKL ramai didatangi para pengantar calon jamaah haji. Mengingat setiap musim haji seperti ini banyak keluarga jamaah yang ikut mengantarkan keberangkatan saudara ataupun tetangganya.

Sembari mengantarkan, mereka menyempatkan diri untuk sekadar berbelanja untuk oleh-oleh saat kembali ke rumah. Ada yang membeli makanan, jajanan, pakaian, sandal, ataupun aksesori lainnya.

Salah satu pedagang, Suminah, 35, mengatakan, dirinya memang rutin berjualan setiap musim haji tiba. Jika tidak sedang musim haji, Suminah biasa berjualan di event-even tertentu. Seperti saat Sekaten, Cembengan, atau berjualan di Parangtritis.

Suminah biasanya menjajakan oleh-oleh khas dari daerahnya. Seperti jenang alot, intip, ampyang, ketan, dan berbagai jajanan khas lainnya. Untuk berjualan di sekitar asrama haji, Suminah harus menyewa kios dengan harga Rp 750 untuk semusim haji.

“Saya sudah lama berjualan seperti ini. Setiap musim haji saya selalu menyewa kios untuk berjualan oleh-oleh,” terang pedagang asal Wates, Kulonprogo, DIJ itu kepada JawaPos.com, Selasa (17/7).

Dari beragam jenis jajanan, pengantar haji banyak yang membeli jenang alot khas Wates dan intip. Harga setiap jajanan tersebut bervariasi. Untuk harga jenang alot mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 30.000, tergantung ukurannya.

“Yang paling banyak ya intip sama jenang alot, itu khas Wates. Kalau untuk jenang, kami buat sendiri. Tetapi untuk jajanan lainnya membeli di tempat lain,” urainya.

Saat berjualan, Suminah tidak sendiri. Ia dibantu suaminya, Rohmad Widadi, 45, dan ibunya. Ketiganya berjualan sampai larut malam, Bahkan mereka juga tidur di kios yang disewanya.

Rohmad menambahkan, untuk makanan khas berupa jenang alot dirinya menyiapkan sebanyak 600 kilogram. Jenang tersebut sudah dibawanya dari rumah. Jenang alot memiliki daya tahan atau masa kedaluwarsa hingga tiga bulan.

Sehingga jenang tetap aman dikonsumsi meski sudah dibuat di rumah. “Kalau yang masih ukuran besar, daya tahan sampai tiga bulan. Tapi kalau yang sudah dipotong-potong, paling dua minggu,” terangnya.

Proses membuat jenang alot sendiri tidak mudah. Selain membutuhkan proses yang cukup panjang, pembuatan harus dilakukan orang yang sudah ahli. Proses membuat jenang alot dengan jumlah 200 kilogram harus dilakukan selama 24 jam.

Jenang dengan warna coklat gelap itu terbuat dari campuran santan, tepung beras, gula jawa, kelapa dan berbagai bahan lainnya. “Orang yang membuatnya cukup dua. Tapi prosesnya yang lama,” ungkapnya.

Bawon Rondiah, 56, merupakan salah satu pengantar haji yang membeli jenang alot. Menurutnya, jenang alot menjadi salah satu oleh-oleh yang cukup digemari. “Ini mumpung ke Solo sekalian membeli oleh-oleh, ini khas makanya saya suka,” ungkap warga Pekalongan itu.

Editor : Sofyan Cahyono

Reporter : (apl/JPC)

Saksikan video menarik berikut ini:


Intip dan Jenang Alot Banyak Diburu Pengantar Haji