JawaPos Radar

Lumpuh Otak, Anak Buruh di Solo Tak Tercover KIS

17/04/2018, 10:55 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Lumpuh Otak
Butuh bantuan: Suci Tri Winarsih, 36, bersama kedua putranya yang mengalami CP. Masing-masing bernama Ronandi (kanan) dan Rafi (tidur). (Ari Purnomo/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pemerintah Kota (Pemkot) Solo gencar memberikan jaminan kesehatan bagi warganya yang tidak mampu. Namun ternyata, ada beberapa keluarga yang luput dari sasaran. Salah satunya keluarga Suci Tri Winarsih, 36, di Semanggi, Pasarkliwon.

Suci sangat membutuhkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) untuk pengobatan kedua putranya. Masing-masing Ronandi Faradea Wahyunanta, 15, dan Rafi Bima Ananta, 9.

Mereka didiagnosa dokter mengalami lumpuh otak atau cerebral palsy (CP). Sehingga kedua bocah itu mengalami kelumpuhan dan tidak menggerakkan bagian tubuhnya.

Selama ini, Suci dan suaminya Tri Gunadi sudah mengeluarkan uang untuk biaya pengobatan kedua putranya secara mandiri. Padahal Gunadi hanya bekerja sebagai buruh pembuat gamelan. Gaji yang didapatkannya pun hanya cukup untuk biaya kebutuhan sehari-hari.

"Saya juga heran kenapa keluarga kami malah tidak terkover KIS. Padahal yang kondisinya lebih baik dari saya atau berkecukupan justru bisa mendapatkannya," kata Suci kepada JawaPos.com, Selasa (17/4).

Selama ini, Suci terpaksa menjual seluruh harta untuk pengobatan kedua anaknya. Bahkan, dia sudah menjual dua rumahnya. Sekarang Suci dan Tri sudah kesulitan untuk biaya pengobatan.

Iuran BPJS mandirinya pun sempat nunggak dua bulan. Sehingga tidak bisa digunakan lagi untuk berobat. "Kemarin pas mau periksa tidak bisa menggunakan BPJS. Karena nunggak dua bulan. Lha karena sudah tidak ada biaya dan tidak diperiksakan dulu," ucap Sri.

Padahal putra sulungnya, Ronandi sejak delapan bulan lalu mengalami diare akut. Bahkan diarenya keluar dari lubang perut bekas operasi usus buntu beberapa tahun lalu. Suci dan suaminya pun tidak bisa berbuat banyak karena ketiadaan uang untuk membawanya ke rumah sakit.

"Semakin banyak makan, maka semakin banyak (kotoran) yang dikeluarkan dan diare. Kalau malam dia sulit tidur. Karena mungkin merasakan sakit," kata Suci.

Suci menambahkan, selama ini dirinya belum pernah mendapatkan bantuan dari Pemkot Solo. Baru akhir-akhir ini datang petugas dari Dinas Sosial (Dinsos) datang ke rumahnya untuk mengurus pengobatannya. Tetapi sampai kemarin bantuan dari Dinsos belum juga sampai kepadanya.

Suci dan suami berharap Pemkot Solo bersedia untuk memberikan bantuan pengobatan kepada kedua anaknya. Karena dirinya sudah tidak punya biaya lagi untuk pengobatannya. "Ya kami berharap lekas ada bantuan dari pemerintah untuk pengobatan anak saya ini," harap Suci.

(apl/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up