alexametrics

Dari Dedemit sampai Upin-Ipin, Gus Muwafiq Ajarkan Komitmen Kebangsaan

17 Maret 2019, 17:32:59 WIB

JawaPos.com – Ulama kondang asal Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq menekankan jati diri bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku dan agama. Keanekaragaman yang kemudian menjadi inspirasi bagi ideologi Bhinekka Tunggal Ika ini ia gambarkan melalui sejumlah perumpamaan.

Mulanya, ulama yang juga pengurus Nahdlatul Ulama (NU) ini menyebut, keanekaragaman bangsa Indonesia sebagai pemantik komitmen kebangsaan ini bisa dilihat dari banyaknya jenis makanan pokok. Mulai dari padi, jagung, tiwul, dan segala macamnya.

“Bahkan hantu paling beraneka ragam adalah hantu Indonesia. Orang Eropa mengenal hantu namanya Casper, orang China punya hantu namanya vampir. Hantu kita banyak sekali jumlahnya, mulai dari jrangkong, wewe gombel, gundul pringis, sampai tuyul, kita paling banyak. Artinya dari dulu memang bangsa kita beraneka ragam. Makanya pilihan tertepat dari nenek moyang kita adalah Bhinekka Tunggal Ika,” katanya saat menyampaikan orasi pada acara Apel Kebangsaan di Lapangan Simpang Lima Semarang, Minggu (17/3).

Mahfud MD
ORASI: Mahfud MD saat menyampaikan orasinya di panggung apel kebangsaan, Minggu (17/3). (Tunggul Kumoro/JawaPos.com)

Selain itu, ia menunjukkan betapa hebatnya Indonesia ini. Semisal, saat bangsa Eropa ditumpu oleh berbagai negara, Indonesia, di sisi lain malah memikul banyak rumpun.

Mengilhami pernyataan nenek moyang yang menyebut Indonesia sebagai bangsa besar, maka menjadi penting untuk menjaga keutuhannya. Bisa ditiru cara-cara negara maju lain yang terbukti mampu mempertahankan nama besar dan membangun komitmen kebangsaannya.

Semisal, Negara Malaysia yang membangun citra keberagamannya usai tercoreng oleh aksi dua tokoh terorisi Dr. Azahari dan Nurdin M. Top. Yakni melalui pembuatan film anak Upin dan Ipin.

“Bangsa Malaysia nggak akan lepas dari ras India, maka sedari kecil si Upin dan si Ipin dikenalkan dengan tokoh bernama Jarjit. Juga nggak akan pernah lepas dari ras China (Tionhoa), maka dikenalkan dengan Mei mei. Bangsa Malaysia juga nggak akan lepas dengan anak-anak Indonesia, maka dikenalkan dengan Susanti,” ujarnya yang sedikit-sedikit disambut sahut dan gelak tawa penonton.

Begitu pula negara adidaya sekelas Amerika Serikat yang pernah gagal total saat perang Vietnam. Tak membiarkan wajahnya malu, mereka lantas membuat film layar lebar berjudul ‘Rambo’ hingga berseri-seri.

Atau malah saat Amerika Serikat mencoba tidak berusaha kalah dari negara Tiongkok karena tak memiliki budaya spiritualitas, maka dicoba dirangkul pula. Mereka melakukannya dengan cara membuat sederet film, salah satunya American Shaolin. 

Negara Jepang membuat film kartun dan adaptasi layar lebarnya dalam upaya komitmen kebangsaan. Negara yang mendapat julukan matahari terbit ini membuat film Samurai X atau Ruroni Kenshin supaya tidak lagi terjadi pembantaian rezim Tokugawa oleh restorasi Meiji.  

“Ini cara bangsa-bangsa lain merawat kebangsaannya. Dan inilah saatnya kita Indonesia, generasi millenial harus semakin maju memahami bangsanya. Biarkan Merah Putih berkibar, jangan disaingi dengan bendera yang lain karena Merah Putih mempersatukan dari Sabang sampai Merauke,” tegasnya.

“Bendera ini harus tetap berkibar sampai entah kapan bangsa ini ada. Untuk menjamin seluruh anak bangsa Indonesia,” pungasknya.

Editor : Sari Hardiyanto

Reporter : Tunggul Kumoro

Dari Dedemit sampai Upin-Ipin, Gus Muwafiq Ajarkan Komitmen Kebangsaan