JawaPos Radar

Predator Anak di Balikpapan Berencana Lanjutkan Skripsinya di UGM

17/03/2018, 05:05 WIB | Editor: Estu Suryowati
ilustrasi predator anak
Ilustrasi predator anak (Kokoh Praba/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com – Tersangka pencabulan sesama jenis dengan korban usia anak, Pandu Dharma Wicaksono akhirnya dipulangkan ke rumahnya oleh penyidik, pada Kamis (15/3) sekira pukul 18.00 Wita. Tersangka dikeluarkan dari sel tahanan Polda Kalimantan Timur (Kaltim) karena berkas pemeriksaannya tak kunjung selesai atau berstatus P21, sementara jangka waktu penahanannya sudah berakhir.

Tim pengacara yang diwakili Achmed Mabrur Tabrani menuturkan, sampai saat ini Pandu masih berstatus sebagai tersangka. Dia menjelaskan, dipulangkannya Pandu sudah melalui proses dan aturan yang berlaku dalam Pasal 29 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Kami mengapresiasi langkah penyidik yang mengantarkan klien kami ke rumahnya kemarin, Kamis (15/3). Karena memang berdasarkan surat penetapan dari Pengadilan Negeri Balikpapan, masa penahanan klien kami habis pada 16 Maret 2018,” katanya dikutip dari KaltimPost, Jumat (16/3).

Tabrani menyampaikan, selama proses penahanan di Polda Kaltim, tersangka diperlakukan dengan baik. Sehingga selama penahanan, pihak keluarga dan pengacara tak mempersoalkan berlarutnya pemberkasan perkara.

“Tetap kami siapkan langkah pembelaan agar status tersangka ini bisa segera dilepaskan dari klien kami. Namun, apapun itu merupakan kewenangan pengadilan yang memutuskan,” sambungnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini tersangka menjalani aktivitas seperti biasa termasuk mengurus permohonan kelanjutan kuliahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Tabrani menuturkan, hal itu dilakukan agar kliennya bisa meneruskan kuliah yang sebelumnya tertunda selama ditahan.

“Klien kami tetap ingin mengejar pendidikannya di UGM. Dia ingin melanjutkan penulisan skripsinya,” kata Tabrani.

Sebagai informasi, Pandu disangkakan melanggar Pasal 290 ayat (23), Pasal 292, dan Pasal 65 KUHP, serta Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Ancaman pidananya minimal lima tahun penjara.

Pandu disangkakan telah melakukan pelecehan seksual sesama jenis saat aktif di organisasi anak dan lingkungan. Sebanyak enam korban telah diperiksa sebagai saksi, yang kemudian berkembang menjadi sembilan orang.

Berdasarkan pengakuan korban, Pandu melakukan aksinya sejak 2013 silam. Semua korban berusia antara 12-17 tahun.

Tersangka menggunakan aplikasi chatting untuk merayu para calon korban. Dia juga mengiming-imingi korban dengan berbagai barang, seperti tas dan pakaian.

(est/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up